- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Rencana Finansial Terakhir: Berharap Hidup Tiba-Tiba Minta Maaf
TS
Muzmuz
Rencana Finansial Terakhir: Berharap Hidup Tiba-Tiba Minta Maaf
Pagi ini kita bangun, dan seperti biasa… hidup tidak memberi jeda. Belum sempat tarik napas panjang, sudah disambut kabar: BBM naik lagi.
Dan kali ini bukan naik pelan-pelan. Bukan naik yang masih bisa dimaklumi sambil bilang, “ya sudahlah…” Ini naik yang bikin kita berhenti sejenak di SPBU, lihat angka, lalu mikir: “Gue masih mampu hidup normal gak sih?”
Mari kita pelan-pelan, biar sakitnya meresap.
Dulu, Pertalite pernah di Rp7.650 lalu naik jadi Rp10.000. Pertamax sempat di Rp12.500 sampai Rp13.900. Pertamina Dex ada di sekitar Rp14.500. Masih ada logika. Masih ada ruang untuk tidak terlalu banyak berpikir.
Sekarang, Pertalite memang masih Rp10.000, tapi entah kenapa rasanya tidak sama. Pertamax di Rp12.300. Pertamax Turbo sudah di Rp19.400. Dexlite di Rp23.600. Dan Pertamina Dex di Rp23.900.
Baca pelan-pelan. Rp23.900. Itu bukan harga kopi fancy. Itu bukan harga makan di tempat estetik. Itu solar. Bahan bakar. Sesuatu yang kita beli untuk dibakar, habis, hilang.
Dari Rp14.500 ke Rp23.900. Ini bukan kenaikan. Ini lompatan ke realita baru yang kita tidak pernah daftar.
Di titik ini, semua teori finansial mulai terdengar seperti lelucon. Nabung kalah cepat sama harga. Investasi yang naik malah kecemasan. Kerja keras tetap keras, tapi hasilnya makin tidak pasti.
Jadi saya sampai pada satu kesimpulan paling jujur: satu-satunya strategi finansial yang tersisa adalah berharap.
Berharap hal-hal yang bahkan kita sendiri tahu mustahil.
Pagi bangun, siapa tahu ada yang transfer salah. Keluar rumah, siapa tahu nemu uang di jalan. Bongkar dapur, siapa tahu ada warisan tersembunyi. Buka lemari, siapa tahu ada uang yang dulu disimpan lalu lupa.
Kita tahu itu tidak masuk akal. Tapi anehnya, itu terasa lebih masuk akal daripada berharap harga turun.
Bagian paling menyakitkan tetap dari manusia lain. Tiba-tiba ada chat masuk, “Bro…” Kita sudah berharap. Ini dia titik balik hidup. Dibuka pelan-pelan.
“Bro, bisa pinjem dulu gak?”
Di situ kita sadar, kita ini bukan kekurangan uang sendirian. Ini kolektif.
Dan sekarang efeknya mulai terasa ke hal paling dasar: makan.
Tadi pagi saya sempat mau ke warteg. Tempat terakhir rakyat merasa masih punya kendali atas hidupnya. Tapi sekarang bahkan berdiri di depan warteg pun ada rasa ragu. Ini masih warteg atau sudah masuk kategori pengalaman premium?
Apalagi Warung Padang. Dulu masuk karena lapar. Sekarang masuk karena berani. Lihat rendang bukan lagi mikir enak, tapi mikir: ini setara berapa liter Pertamina Dex?
Kita ini bukan tidak mau berhemat. Bukan tidak mau bekerja lebih keras. Kita hanya hidup di kondisi di mana logika tidak lagi cukup untuk bertahan.
Dan di dunia seperti ini, di mana harga bisa lompat tanpa aba-aba, di mana kebutuhan terasa seperti kemewahan, kita semua diam-diam punya rencana yang sama.
Berharap ada keajaiban. Berharap hidup tiba-tiba membaik. Berharap semua ini cuma fase.
Karena pada akhirnya, yang naik hari ini bukan cuma BBM, bukan cuma harga makan, tapi satu hal yang paling mahal sekarang: rasa aman untuk hidup biasa.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita semua sudah sampai di tahap paling jujur dalam hidup. Bukan lagi merencanakan masa depan, tapi menunggu keajaiban datang tanpa alasan.
Dan kali ini bukan naik pelan-pelan. Bukan naik yang masih bisa dimaklumi sambil bilang, “ya sudahlah…” Ini naik yang bikin kita berhenti sejenak di SPBU, lihat angka, lalu mikir: “Gue masih mampu hidup normal gak sih?”
Mari kita pelan-pelan, biar sakitnya meresap.
Dulu, Pertalite pernah di Rp7.650 lalu naik jadi Rp10.000. Pertamax sempat di Rp12.500 sampai Rp13.900. Pertamina Dex ada di sekitar Rp14.500. Masih ada logika. Masih ada ruang untuk tidak terlalu banyak berpikir.
Sekarang, Pertalite memang masih Rp10.000, tapi entah kenapa rasanya tidak sama. Pertamax di Rp12.300. Pertamax Turbo sudah di Rp19.400. Dexlite di Rp23.600. Dan Pertamina Dex di Rp23.900.
Baca pelan-pelan. Rp23.900. Itu bukan harga kopi fancy. Itu bukan harga makan di tempat estetik. Itu solar. Bahan bakar. Sesuatu yang kita beli untuk dibakar, habis, hilang.
Dari Rp14.500 ke Rp23.900. Ini bukan kenaikan. Ini lompatan ke realita baru yang kita tidak pernah daftar.
Di titik ini, semua teori finansial mulai terdengar seperti lelucon. Nabung kalah cepat sama harga. Investasi yang naik malah kecemasan. Kerja keras tetap keras, tapi hasilnya makin tidak pasti.
Jadi saya sampai pada satu kesimpulan paling jujur: satu-satunya strategi finansial yang tersisa adalah berharap.
Berharap hal-hal yang bahkan kita sendiri tahu mustahil.
Pagi bangun, siapa tahu ada yang transfer salah. Keluar rumah, siapa tahu nemu uang di jalan. Bongkar dapur, siapa tahu ada warisan tersembunyi. Buka lemari, siapa tahu ada uang yang dulu disimpan lalu lupa.
Kita tahu itu tidak masuk akal. Tapi anehnya, itu terasa lebih masuk akal daripada berharap harga turun.
Bagian paling menyakitkan tetap dari manusia lain. Tiba-tiba ada chat masuk, “Bro…” Kita sudah berharap. Ini dia titik balik hidup. Dibuka pelan-pelan.
“Bro, bisa pinjem dulu gak?”
Di situ kita sadar, kita ini bukan kekurangan uang sendirian. Ini kolektif.
Dan sekarang efeknya mulai terasa ke hal paling dasar: makan.
Tadi pagi saya sempat mau ke warteg. Tempat terakhir rakyat merasa masih punya kendali atas hidupnya. Tapi sekarang bahkan berdiri di depan warteg pun ada rasa ragu. Ini masih warteg atau sudah masuk kategori pengalaman premium?
Apalagi Warung Padang. Dulu masuk karena lapar. Sekarang masuk karena berani. Lihat rendang bukan lagi mikir enak, tapi mikir: ini setara berapa liter Pertamina Dex?
Kita ini bukan tidak mau berhemat. Bukan tidak mau bekerja lebih keras. Kita hanya hidup di kondisi di mana logika tidak lagi cukup untuk bertahan.
Dan di dunia seperti ini, di mana harga bisa lompat tanpa aba-aba, di mana kebutuhan terasa seperti kemewahan, kita semua diam-diam punya rencana yang sama.
Berharap ada keajaiban. Berharap hidup tiba-tiba membaik. Berharap semua ini cuma fase.
Karena pada akhirnya, yang naik hari ini bukan cuma BBM, bukan cuma harga makan, tapi satu hal yang paling mahal sekarang: rasa aman untuk hidup biasa.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita semua sudah sampai di tahap paling jujur dalam hidup. Bukan lagi merencanakan masa depan, tapi menunggu keajaiban datang tanpa alasan.
h4dewa dan 9 lainnya memberi reputasi
10
2.6K
23
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan