Kaskus

Entertainment

ochuqueenaAvatar border
TS
ochuqueena
Menyesal Saat Kursinya Sudah Kosong - ​Kehilanganmu Adalah Cara Semesta Menghukumku
Pernah nggak sih, kamu merasa kalau kehilangan yang paling menyakitkan itu bukan saat orangnya meninggal, tapi saat orangnya masih ada tapi dunianya sudah nggak bisa kamu sentuh lagi? Rasanya kayak kita lagi berdiri di depan kaca yang sangat tebal, bisa melihat dia dengan jelas, tapi tangan kita nggak akan pernah bisa sampai ke sana. Kita sering banget menyepelekan hal-hal kecil yang dia kasih setiap hari, menganggap itu sebagai kewajiban yang nggak perlu diapresiasi. Sampai akhirnya, dia lelah menjadi satu-satunya yang berjuang dan memutuskan untuk benar-benar mematikan lampu di hatinya. Dan kita hanya bisa duduk di kegelapan, baru sadar kalau selama ini cahaya itu berasal dari dia yang kita abaikan.



Quote:
.


Namaku Arlan, dan di depanku dulu pernah ada seorang perempuan luar biasa bernama Elara. Nama yang unik, kan? Elara itu seperti bintang yang paling tenang di langit, dia nggak berisik, tapi dia selalu ada buat memastikan malamku nggak terlalu gelap. Kami tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggiran Jakarta yang selalu bising oleh suara klakson dan ambisi orang-orang kota. Suasana di rumah kami sebenarnya cukup nyaman, penuh dengan tanaman hias yang dia rawat setiap pagi dengan sangat telaten. Tapi entah kenapa, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan layar ponsel daripada memperhatikan bagaimana matanya berbinar setiap kali dia bercerita.

Masalahnya mulai muncul dari hal-hal yang sering aku anggap sepele, seperti saat dia menungguku pulang kerja dengan masakan yang sudah mendingin. Aku pulang dengan wajah kusut, langsung masuk ke kamar tanpa menoleh sedikit pun pada piring yang sudah dia tata rapi. Dia nggak pernah marah, dia cuma akan membereskannya lagi sambil tersenyum tipis yang sebenarnya penuh dengan luka. Aku merasa bahwa sebagai laki-laki yang bekerja keras, aku berhak untuk tidak peduli pada hal-hal kecil di rumah. Ternyata aku salah, karena justru di piring itulah dia menaruh seluruh rasa sayangnya yang tidak pernah aku akui keberadaannya.
​Suatu hari, Elara pernah bertanya padaku dengan suara yang sangat pelan, "Lan, kamu masih suka masakan aku nggak, sih?" Aku cuma menjawab dengan gumaman tidak jelas sambil terus asyik bermain game di komputer tanpa menoleh. Dia terdiam cukup lama, lalu aku mendengar suara pintu dapur tertutup dengan sangat pelan, hampir tak terdengar. Aku tidak sadar bahwa saat itu, dia sedang mencoba meminta sedikit saja pengakuan bahwa kehadirannya masih berarti bagiku. Aku benar-benar merasa bodoh karena menganggap pertanyaannya hanya angin lalu yang tidak butuh jawaban serius atau pelukan hangat.

​Aneh sih, gimana cara kita bisa pelan-pelan menjadi asing padahal setiap malam kita tidur di ranjang yang sama. Konflik kami mulai merembet ke hal-hal kecil yang tidak masuk akal, seperti cara meletakkan handuk atau jadwal mencuci piring. Aku sering membentaknya hanya karena masalah sepele, melampiaskan stres kantorku pada satu-satunya orang yang paling ingin melindungiku. Elara mulai jarang bicara, dia lebih banyak menghabiskan waktu di balkon, menatap lampu kota dengan tatapan yang kosong. Aku tahu dia sedang terluka, tapi egoku melarangku untuk mendekat dan meminta maaf atas semua sikap kasarku padanya.

​Puncaknya adalah saat kami merayakan hari jadi yang ketiga, yang sebenarnya sudah aku lupakan kalau dia tidak mengingatkanku. Dia sudah menyiapkan kue kecil dan dua buah kado, tapi aku pulang sangat larut dengan alasan lembur padahal aku nongkrong. "Aku capek, Ra, nggak usah aneh-aneh deh pakai acara tiup lilin segala," kataku dengan nada yang sangat ketus. Dia tidak menangis di depanku, dia hanya meletakkan kue itu di meja lalu masuk ke kamar mandi. Di dalam sana, aku mendengar suara air keran yang mengalir sangat deras, berusaha menyamarkan suara isak tangisnya yang pecah.

​Dia adalah orang yang paling sabar menghadapi semua perangaiku yang buruk selama bertahun-tahun kami hidup bersama. Meski terkadang dia juga ikut larut dalam luapan amarah yang sama besarnya denganku dalam perdebatan yang sudah tidak terhitung jumlahnya.

Namun, sesabar-sabarnya manusia, pasti ada titik di mana mereka merasa sudah tidak lagi punya alasan untuk terus bertahan. Aku terlalu sering membuatnya merasa tidak ada, membuatnya merasa seperti bayangan yang hanya berfungsi untuk melayani semua kebutuhanku. Dia ingin diajak bicara, ingin ditanya tentang harinya, ingin merasa bahwa dia masih menjadi prioritas utama dalam hidupku. Tapi aku justru memberinya punggung setiap kali dia mencoba mendekat untuk sekadar berbagi cerita tentang mimpinya yang sederhana.

Mengapa tidak dari dulu kamu kuperjuangkan, Elara, sebelum hatimu benar-benar menjadi batu dan tidak lagi bisa kutembus dengan kata-kata? Aku teringat saat kamu sakit, kamu masih sempat-sempatnya memesankan makanan kesukaanku lewat ojek online karena takut aku kelaparan di kantor. Saat itu aku cuma bilang "oke" lewat chat tanpa menanyakan kabarmu, tanpa peduli apakah kamu sudah minum obat atau belum. Sekarang, memori itu datang lagi kayak film horor yang memutar ulang semua kejahatanku padamu tanpa ada satu pun adegan yang kulewatkan. Kenangan indah yang dulu aku remehkan, sekarang justru terasa seperti sembilu yang menyayat kulitku perlahan-lahan sampai aku merasa sangat perih.

​Kadang aku mikir, apa jadinya kalau malam itu aku memilih untuk mematikan game dan mendengarkan ceritamu tentang buku yang baru kamu baca? Mungkin kita nggak akan berakhir di jalan buntu seperti ini, di mana kita saling benci tapi juga masih tersisa sedikit sayang. Rasa penyesalan ini benar-benar menghimpit dadaku, membuatku sulit bernapas setiap kali aku melewati toko bunga langgananmu di ujung jalan itu. Aku sadar bahwa kebahagiaanmu sebenarnya sangat murah, hanya butuh pengakuan dan sedikit perhatian yang tulus dari orang yang kamu cintai. Tapi aku malah memberimu kekosongan, memberimu rasa tidak dihargai yang akhirnya membuatmu memilih untuk berhenti berharap pada laki-laki sepertiku selamanya.

Pagi itu, aku terbangun oleh keheningan yang sangat tidak biasa, tidak ada suara spatula di dapur atau aroma kopi yang biasanya menusuk hidung. Aku keluar kamar dan menemukan ruang tengah sudah bersih, jauh lebih bersih daripada biasanya, seolah semua jejak kehidupan telah dihapus. Di atas meja makan, tidak ada piring sarapan, melainkan sebuah amplop cokelat dan kunci apartemen yang diletakkan begitu saja dengan sangat rapi. Aku membukanya dengan tangan bergetar, berharap itu cuma lelucon, tapi isinya adalah surat singkat yang ditulis dengan tinta hitam yang tegas. "Aku sudah lelah menjadi tidak terlihat, Arlan, terima kasih untuk tiga tahun yang membuatku belajar bagaimana caranya menjadi kuat sendirian."

​Memori tentang percakapan terakhir kita tiba-tiba berputar di kepalaku, saat kamu bertanya, "Lan, kalau aku pergi, apa kamu bakal cari aku?" Waktu itu aku cuma tertawa sinis dan menjawab, "Paling kamu juga balik lagi dalam dua hari, kamu kan nggak bisa tanpa aku." Kamu cuma tersenyum sedih, senyum yang sekarang baru aku sadari sebagai ucapan selamat tinggal yang paling pahit yang pernah aku terima. Kata-kataku saat itu terasa sangat sombong dan jahat, meremehkan perasaanmu yang sudah hancur lebur hanya demi memuaskan rasa banggaku sebagai pria. Sekarang, aku benar-benar ingin mencarimu ke ujung dunia, tapi aku sadar kalau aku tidak punya hak lagi untuk melakukannya.

​Aku mencoba menelponmu berkali-kali, tapi suaramu yang lembut sudah digantikan oleh suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif lagi. Aku mengirim pesan lewat semua media sosial, memohon agar kita bisa bicara sekali lagi saja untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi. Namun, tidak ada balasan, kamu benar-benar telah memutus semua kabel yang menghubungkan kita, membuatku tersesat dalam labirin penyesalan yang kubuat sendiri. Aku duduk di lantai balkon tempat biasa kamu melamun, merasakan angin malam yang dingin dan menyadari betapa sepinya duniaku tanpa suaramu. Kehilanganmu bukan hanya soal kehilangan pasangan, tapi kehilangan satu-satunya orang yang tahu bagaimana cara merawat jiwaku yang seringkali berantakan.

​Ke depan aku tidak tahu harus bagaimana, karena setiap sudut ruangan ini selalu mengingatkanku pada kegagalanku untuk membuatmu merasa ada dan berarti. Kita mungkin masih saling sayang jauh di lubuk hati, tapi luka-luka kecil yang kubiarkan menganga telah menjadi infeksi yang mematikan hubungan kita. Terlalu banyak konflik yang kita biarkan tidak selesai, terlalu banyak kata maaf yang hanya diucapkan di bibir tanpa pernah benar-benar diwujudkan. Aku membenci diriku yang dulu, yang begitu merasa paling benar dan paling berkuasa atas perasaan tulus yang kamu berikan secara cuma-cuma. Sekarang aku harus belajar hidup dalam bayang-bayangmu, meratapi setiap kesempatan yang kulewatkan untuk sekadar membuatmu tersenyum dan merasa dihargai.

​Mungkin perpisahan ini adalah cara semesta untuk menyelamatkanmu dari kehancuran yang lebih dalam jika kamu terus bersamaku yang tidak pernah tahu cara bersyukur. Aku harus menerima kenyataan bahwa kamu sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidupku, meskipun bayanganmu masih menghuni setiap mimpi yang menyiksaku saat tidur.

Pelan-pelan aku harus belajar lagi untuk mencuci piringku sendiri, menyeduh kopiku sendiri, dan menghadapi keheningan yang sangat mengerikan ini tanpa kehadiranmu lagi. Aku sadar bahwa menghargai seseorang harus dilakukan saat mereka masih ada, bukan saat mereka sudah menjadi orang asing yang tidak bisa lagi kita sapa. Selamat jalan, Elara, semoga di sana kamu menemukan seseorang yang tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendirian dalam sebuah hubungan.

Ternyata, mengakui keberadaan seseorang itu jauh lebih penting daripada sekadar mencintainya, karena cinta tanpa pengakuan hanyalah sebuah bentuk kesepian yang baru. Kadang kita butuh kehilangan yang sangat hebat untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati itu sebenarnya terletak pada hal-hal kecil yang selalu kita anggap remeh setiap harinya. Jangan menunggu meja makanmu kosong untuk menyadari bahwa masakan yang hambar sekalipun jauh lebih nikmat daripada makan sendirian dalam keheningan yang sangat menyakitkan. Pada akhirnya, kita semua hanyalah sekumpulan orang yang terlambat menyadari bahwa seseorang yang paling tulus adalah dia yang paling sering kita abaikan keberadaannya.

​Hargai dia selagi ada, karena saat dia sudah memutuskan untuk benar-benar pergi, tidak ada kata maaf yang cukup kuat untuk membawanya kembali ke pelukanmu lagi.
bnbabaAvatar border
MemoryExpressAvatar border
MemoryExpress dan bnbaba memberi reputasi
2
1.3K
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan