Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat siang kalian semuanya!
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, gue, Mbak Rora, akan membahas tentang 7 penyakit yang ditandai dengan mimisan berulang pada orang dewasa

.
Mimisan, atau dalam istilah medis disebut epistaksis, merupakan kondisi keluarnya darah dari lubang hidung akibat robeknya pembuluh darah di rongga hidung. Banyak orang menganggap mimisan sebagai hal normal, terutama mimisan pada anak-anak. Namun, pada orang dewasa, mimisan yang terjadi berulang kali bukanlah kondisi yang boleh diabaikan.
Secara anatomi, bagian dalam hidung (terutama area yang dikenal sebagai
Little’s area atau pleksus Kiesselbach) memang kaya akan pembuluh darah rapuh yang sangat rentan pecah. Faktor seperti udara kering, kebiasaan mengorek hidung, atau trauma ringan dapat memicu perdarahan. Akan tetapi, ketika mimisan terjadi terlalu sering, apalagi tanpa pemicu yang jelas, hal tersebut bisa menjadi indikator adanya gangguan kesehatan yang lebih serius.
Terdapat sebuah hipotesis biologis yang menyebutkan bahwa laki-laki cenderung lebih sering mengalami mimisan dibandingkan perempuan. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan gen SRY (
Sex-determining Region Y) pada laki-laki yang berperanan dalam pembentukan penis, peningkatan produksi sel darah merah, dan diferensiasi jenis kelamin laki-laki. Beberapa peneliti mengaitkan gen ini dengan variasi struktur pembuluh darah, termasuk kemungkinan bahwa pembuluh darah pada septum hidung laki-laki lebih dekat ke permukaan serta memiliki kepadatan yang lebih tinggi. Namun, penting untuk dipahami bahwa hipotesis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan belum menjadi konsensus ilmiah yang kuat.
Yang pasti, mimisan yang sering terjadi pada orang dewasa tidak boleh dianggap sebagai kondisi normal seperti mimisan pada anak-anak di bawah 12 tahun.
Berikut adalah tujuh kondisi medis yang perlu diwaspadai jika Anda mengalami mimisan berulang.
Quote:
1. Sinusitis
Sinusitis adalah peradangan pada rongga sinus yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau alergi. Ketika sinus mengalami peradangan, pembuluh darah di sekitar hidung menjadi lebih sensitif dan mudah pecah.
Selain mimisan, gejala sinusitis biasanya meliputi hidung tersumbat, nyeri pada wajah, sakit kepala, serta keluarnya lendir kental berwarna kuning atau hijau. Mimisan pada penderita sinusitis sering kali terjadi akibat iritasi kronis pada mukosa hidung.
2. ITP (Immune Thrombocytopenic Purpura)
ITP adalah gangguan autoimun yang menyebabkan jumlah trombosit dalam darah menurun secara signifikan. Trombosit berperan penting dalam proses pembekuan darah, sehingga kekurangan trombosit akan membuat seseorang lebih mudah mengalami perdarahan, termasuk mimisan.
Penderita ITP biasanya juga mengalami gejala lain seperti memar yang mudah muncul, perdarahan gusi, dan munculnya bintik merah kecil di kulit (petekie). Mimisan pada kondisi ini bisa terjadi spontan dan sulit berhenti.
3. Kanker Nasofaring
Kanker nasofaring merupakan salah satu jenis kanker yang cukup banyak ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penyakit ini berkembang di bagian belakang rongga hidung dan sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal.
Mimisan berulang merupakan salah satu gejala awal yang perlu diwaspadai, terutama jika disertai dengan hidung tersumbat satu sisi, gangguan pendengaran, atau benjolan di leher. Karena lokasinya yang tersembunyi, kanker ini sering baru terdiagnosis ketika sudah memasuki stadium lanjut.
4. Hipoprotrombinemia
Hipoprotrombinemia adalah kondisi di mana kadar protrombin (faktor pembekuan darah) di dalam tubuh terlalu rendah. Protrombin sangat penting dalam proses penggumpalan darah, sehingga kekurangannya akan menyebabkan darah sulit membeku.
Akibatnya, penderita lebih rentan mengalami perdarahan spontan, termasuk mimisan yang sering dan berkepanjangan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gangguan hati, kekurangan vitamin K, atau efek samping obat tertentu seperti warfarin.
5. Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi juga dapat menjadi penyebab mimisan yang sering terjadi pada orang dewasa. Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah di hidung menjadi lebih rentan pecah, terutama jika tekanan darah tersebut tidak terkontrol.
Meskipun hubungan antara hipertensi dan mimisan masih menjadi perdebatan dalam dunia medis, banyak studi menunjukkan bahwa penderita hipertensi lebih sering mengalami mimisan pada arteri sfenopalatina yang sangat berat dan sulit dihentikan.
6. Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti. Salah satu komplikasi utama dari DBD adalah penurunan jumlah trombosit, yang menyebabkan gangguan pembekuan darah.
Mimisan pada penderita DBD sering disertai dengan gejala lain seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, serta munculnya bintik-bintik merah petekie pada kulit. Dalam kasus yang berat, perdarahan bisa terjadi di berbagai organ dan berpotensi mengancam nyawa.
7. Hereditary Hemorrhagic Telangiectasia(HHT)
HHT adalah kelainan genetik langka yang menyebabkan pembuluh darah berkembang secara abnormal. Pada penderita HHT, pembuluh darah menjadi rapuh dan mudah pecah, terutama di area hidung.
Mimisan berulang adalah gejala paling umum dari HHT, bahkan bisa terjadi sejak usia kanak-kanak dan berlangsung sepanjang hidup. Selain itu, penderita juga dapat mengalami perdarahan di organ lain seperti paru-paru, hati, dan otak.
Quote:
PENUTUP
Mimisan memang sering dianggap sebagai gangguan sepele, tetapi frekuensi dan pola kejadiannya perlu diperhatikan dengan serius, terutama pada orang dewasa. Jika mimisan terjadi berulang kali tanpa sebab yang jelas, berlangsung lama, atau disertai gejala lain, sebaiknya segera bertanya pada tenaga medis.
Pemeriksaan lebih lanjut seperti tes darah, endoskopi hidung, atau pencitraan medis mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya. Dengan diagnosis yang tepat, penanganan yang sesuai dapat diberikan sehingga risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Ingat, tubuh sering kali memberikan sinyal melalui gejala-gejala kecil. Mimisan yang terlalu sering bisa jadi adalah salah satu sinyal tersebut.
Quote:
SUMBER
Kucik, C. J., Clenney, T., & Phelan, J. (2005). Management of epistaxis.
American Family Physician,
71(2), 305–311.
Schlosser, R. J. (2009). Clinical practice. Epistaxis.
New England Journal of Medicine,
360(8), 784–789.
Jameson, J. L., Fauci, A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Longo, D. L., & Loscalzo, J. (Eds.). (2018).
Harrison’s principles of internal medicine (20th ed.). McGraw-Hill Education.
World Health Organization. (2009).
Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control. WHO Press.
National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022).
Immune thrombocytopenia (ITP).
https://www.nhlbi.nih.gov/
Fokkens, W. J., Lund, V. J., Hopkins, C., et al. (2020). European position paper on rhinosinusitis and nasal polyps 2020.
Rhinology,
58(Suppl S29), 1–464.
Shovlin, C. L. (2010). Hereditary haemorrhagic telangiectasia: Pathophysiology, diagnosis and treatment.
Blood Reviews,
24(6), 203–219.
@itkgid @aldo12 @kakekane.cell