- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Didukung LPEI, Pabrik Biskuit Kokola Tembus Ekspor ke 55 negara
TS
aleksandronesta
Didukung LPEI, Pabrik Biskuit Kokola Tembus Ekspor ke 55 negara
Quote:
Didukung LPEI, Pabrik Biskuit Kokola Tembus Ekspor ke 55 negara
Kokola memperoleh dukungan strategis dari LPEI, mulai dari penguatan struktur finansial hingga akselerasi pertumbuhan ekspor.
Ayu Mumpuni
Terbit 17 Apr 2026 15:13 WIB,

Suasana pekerja di dalam PT Mega Global Food Industry (Kokola) saat produksi biskuit, Jumat (17/4/2026). FOTO/Dokumentasi Kokola.
tirto.id - PT Mega Global Food Industry (Kokola) menyatakan ekspor tetap berjalan meski di tengah gejolak konflik global dan pelemahan nilai rupiah. Produk biskuit dan wafer perusahaan ini telah dipasarkan ke 55 negara.
Direktur PT Mega Global Food Industry (Kokola Group), Richard Cahyadi, menjelaskan dari total tersebut, pasar utama meliputi Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Filipina. Kokola juga telah bekerja sama dengan lebih dari 100 mitra supermarket di berbagai negara.
“Pencapaian ini sekaligus menunjukkan kemampuan produk Indonesia dalam memenuhi standar kualitas tinggi, namun tetap mempertahankan sisi kompetitif dari sisi harga kepada konsumen,” kata Richard di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).
Richard menjelaskan, kinerja ekspor yang tetap solid didukung oleh kolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Melalui kerja sama tersebut, Kokola memperoleh dukungan strategis, antara lain penguatan struktur finansial, peningkatan daya saing biaya (cost leadership), stabilitas rantai pasok, serta akselerasi pertumbuhan ekspor.
Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI, Sulaeman, menambahkan bahwa program yang diberikan kepada Kokola adalah Penugasan Khusus Ekspor (PKE). Program pemerintah ini dimandatkan kepada LPEI untuk mendorong industri strategis nasional dan UKM agar lebih berdaya saing di pasar global, sekaligus menciptakan dampak pembangunan (developmental impact).
“Dalam hal ini, PT Mega Global Food Industry merupakan salah satu pelaku usaha yang menerima manfaat PKE Trade Finance,” tutur Sulaeman.
Menurutnya, LPEI mendukung transaksi ekspor melalui fasilitas pembiayaan pre dan post shipment. Skema ini memungkinkan eksportir menjaga arus kas sekaligus memperoleh modal kerja untuk produksi.
“Hingga tahun 2025, para eksportir telah memanfaatkan fasilitas PKE Trade Finance dengan total limit mencapai Rp3,35 triliun. Adapun realisasi penyaluran sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp7,68 triliun,” ungkapnya.
Sulaeman menambahkan, sektor makanan olahan menjadi portofolio terbesar dalam PKE Trade Finance dengan porsi 39 persen atau sebanyak 31 debitur.
Saat ini, fasilitas tersebut juga telah menjangkau 18 sektor industri dan komoditas, antara lain produk karet, kopi, furnitur, alas kaki, tekstil dan produk tekstil, perhiasan dan permata, teh dan rempah, produk kayu, kerajinan, produk elektronik, produk kimia, komponen otomotif, produk kulit, mesin dan peralatan listrik, besi dan baja, produk pertanian, serta produk kertas.
“Sepanjang tahun 2025, penyaluran PKE Trade Finance telah berkontribusi terhadap penciptaan dan/atau penghematan devisa sebesar Rp21,12 triliun,” ujar dia.
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Hendra Friana
Ekonomi tumbuh pesat nggak ada yang lesu
0
74
Kutip
2
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan