Kaskus

Entertainment

ochuqueenaAvatar border
TS
ochuqueena
Labirin Tanpa Jembatan - Sunyi Yang Mengunci Luka


Labirin Tanpa Jembatan - Sunyi Yang Mengunci Luka

Senja di kota ini selalu membawa aroma tanah basah yang pekat. Di balik jendela kaca yang buram oleh uap hujan sisa sore tadi, Arum berdiri mematung. Tangannya menggenggam secarik tisu yang kini bernoda merah pekat. Di depannya, di ambang pintu yang masih setengah terbuka, suaminya—Adrian—meringis kesakitan sambil menekan pangkal alis kanannya.

Darah merembes di sela jari Adrian. Setetes jatuh ke lantai ubin yang dingin.

"Harusnya kamu tidak berdiri di situ, Arum!" suara Adrian meninggi, bergetar menahan perih. "Aku mau lewat, aku berbalik untuk meraihmu, tapi kamu menghalangi jalan. Lihat ini! Jahitan lama itu putus lagi."

Arum terdiam. Lidahnya terasa kelu, seolah membeku oleh dinginnya pendingin ruangan. Ia menatap sudut pintu kayu yang kokoh itu, lalu beralih menatap suaminya. Dalam kepalanya, rekaman kejadian itu berputar ulang. Adrian yang hendak berangkat ke acara penting, Adrian yang sudah melangkah keluar namun tiba-tiba berbalik karena ingin memegang tangan Arum sekali lagi, dan Adrian yang kehilangan keseimbangan hingga keningnya menghantam telak sudut kayu yang tajam.

"Aku bahkan tidak bergerak dari titik ini, Mas," jawab Arum lirih, hampir berupa bisikan.
"Kamu yang berbalik terlalu cepat."

"Tetap saja! Kalau kamu tidak di situ, aku tidak akan menabrak apa pun!" Adrian mendengus, matanya menatap cermin di ruang tamu dengan penuh amarah. Amarah pada rasa sakitnya, atau mungkin amarah pada ketidakberdayaan yang tak ingin ia akui.

Arum bergegas mencari tisu. Karena hanya itu satu-satunya hang terlintas di kepala. Arum mendekat, tangannya gemetar ingin membantu menyeka darah itu, namun ia ragu. Ada dinding transparan yang mendadak tumbuh di antara mereka. Dinding itu bukan terbuat dari semen, melainkan dari tumpukan kata-kata yang tak pernah selesai diurai selama berbulan-bulan terakhir.

Labirin Tanpa Jembatan - Sunyi Yang Mengunci Luka

Rumah ini seharusnya menjadi pelabuhan. Namun bagi Arum, rumah ini perlahan berubah menjadi labirin bahasa yang asing. Ingatannya melayang pada malam-malam sebelumnya, saat ia hanya bisa duduk di sudut sofa, menyaksikan Adrian tertawa lebar di depan layar ponselnya. Arum sesaat sempat rebahan disamping Adrian, tapi menjadi asing tidaklah menyenangkan. Ia lalu pergi kembali duduk di sofa dan mencari kesibukkan sendiri.

Tiga jam. Adrian berbicara dalam bahasa ibunya—bahasa yang bagi telinga Arum terdengar seperti nyanyian dari negeri yang sangat jauh. Arum, dengan latar belakang budaya yang berbeda, hanya bisa menebak-nebak arti tawa itu. Ia melihat wajah ibu mertuanya di layar, melihat keceriaan adik-adik iparnya yang baru saja merayakan peristiwa besar di kampung halaman. Tapi mereka sepertinya tidak tau ada Arum disamping Adrian. Atau memang tidak mau saja menanyakan sedikit saja tentang Arum saat itu. Meski hanya sebatas basa-basi.

Arum ada di sana, secara fisik. Namun, tak ada satu pun jembatan yang dibangun Adrian untuk membawanya masuk ke dalam lingkaran percakapan itu. Ia seperti buku yang diletakkan di rak paling atas; ada, terlihat, tapi tak pernah dibuka.

"Kalau saja kamu tidak menye-menye di dekatku? Ini tidak akan terjadi!" gerutu Adrian sambil menekan tisu di luka pelipisnya yang berdarah. Memutus lamunan Arum. Bagaimana pun, Adrian harus tetap menghadiri acara penting hari ini.

Arum bergegas menuju kotak obat. Berusaha mencari plester bening. Tapi tidak menemukannya. Sambil mencari plester, dadanya terasa sesak. Ia teringat kembali kata-kata yang terlontar saat mereka berselisih tempo hari. Kata 'pisah' yang keluar dengan begitu mudah dari mulut Adrian, seolah hubungan bertahun-tahun itu hanyalah sebuah catatan di atas pasir yang bisa dihapus oleh ombak kecil. Ditambah Adrian berkali-kali menyalahkan Arum atas kejadian ini.

"Kenapa kamu harus menyalahkanku untuk kecelakaan ini, Mas?" tanya Arum setelah menyerahkan plester. Ia berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski hatinya bergemuruh.

Adrian menatapnya tajam melalui pantulan cermin. "Karena memang itu kenyataannya. Kamu selalu ada di waktu dan tempat yang salah, Arum! Sama seperti caramu memandang keluargaku. Kamu memusuhi mereka hanya karena kamu tidak mengerti."

"Aku tidak memusuhi mereka. Aku hanya merasa asing," Arum membela diri.

"Bagaimana rasanya jika aku membawamu ke tengah keluargaku, bicara dalam bahasa yang kau tidak mengerti, dan mengabaikanmu selama berjam-jam seolah kau hanya pajangan?" "Tapi di keluargaku kamu selalu disambut hangat."

"Itu berbeda! Itu keluargaku, darah dagingku!"

"Dan aku istrimu, Mas. Orang yang seharusnya kau buat merasa paling aman, bukan paling bersalah."

Hening menyergap. Ruangan itu mendadak terasa sempit. Adrian berusaha mengurangi darahnya dengan tisu. Ia mengenakan jasnya, merapikan kerah, dan bersiap pergi ke acara pelepasan malam itu. Namun, luka di atas alisnya masih berdenyut, persis seperti luka di batin Arum yang kian menganga.

Arum memandang wajah suaminya. Ia mencari-cari sisa rasa yang dulu selalu membuatnya rindu. Namun malam ini, saat menatap garis wajah Adrian, ia merasa seperti menatap hamparan laut di malam hari. Luas, dalam, namun gelap gulita. Ia tidak tahu apakah ia masih mencintai pria di depannya, atau ia hanya bertahan karena tidak tahu cara untuk pergi.

Adrian terdiam sejenak. Ia berhenti di ambang pintu, punggungnya menegang. Ada keraguan dalam pundaknya, seolah ingin berbalik dan meminta maaf, namun egonya menariknya lebih kuat menuju pintu luar. Ia lalu menghilang di balik kegelapan malam.

Ia mengunci pintu. Lalu berangkat sambil menggerutu tanpa menoleh. Tanpa berpamitan.

Arum menarik diri. Sambil bilang "hati-hati" dengan pelan. Tentunya hanya Arum yang bisa mendengar suaranya sendiri.

"Luka itu... kalau nanti berdarah lagi, tekan saja pakai tisu bersih. Jangan digosok," tulis Arum pada pesan singkat yang barusan ia kirimkan, tetap memberikan perhatian meski hatinya terasa hampa.

Arum terduduk di kursi ruang tamu. Ia menyentuh sudut pintu yang baru saja melukai suaminya. Kayu itu dingin dan bisu. Ia menyadari satu hal: dalam sebuah benturan, tidak pernah ada satu pihak yang sepenuhnya benar. Pintu itu hanya diam, namun ia menjadi penyebab luka karena ada dua orang yang tidak berhati-hati dalam menjaga jarak dan langkah.

Mungkin pernikahan mereka saat ini adalah pintu itu. Sesuatu yang kokoh, namun jika tidak dilewati dengan pengertian dan koordinasi yang baik, hanya akan meninggalkan bekas luka yang terbuka berulang kali. Sulit sepertinya mewujudkan rasa aman itu.

Labirin Tanpa Jembatan - Sunyi Yang Mengunci Luka

Arum tidak ingin lagi mencari siapa yang salah. Ia hanya ingin tahu, sampai kapan mereka sanggup menyimpan luka di atas alis dan luka di dalam hati, sebelum salah satu di antara mereka benar-benar lelah untuk sekadar mengobati. Banyak hal belum selesai dan banyak hal terjadi menambah semua kerumitan ini.

Di luar, hujan turun lagi. Menghapus jejak darah di lantai ubin, namun tidak dengan ingatan tentang rasa sakit yang baru saja terjadi. Arum mengambil napas panjang, mencoba mencari dirinya sendiri di antara puing-puing bahasa yang tak pernah ia mengerti. Ia tersedu, ingin bercerita tapi tidak tau pada siapa.

Mungkin mereka berdua kelelahan. Tapi bounderies itu terlalu tinggi. Menjadikannya sulit untuk diselesaikan.


Catatan Penulis untuk Agan Agan Kaskus:

Quote:


Quote:

aleksandronestaAvatar border
blackberry8310Avatar border
blackberry8310 dan aleksandronesta memberi reputasi
2
71
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan