Kaskus

Story

aurora..Avatar border
TS
aurora..
[CERPEN] Rasa Sayang(e)
Langit Bringin, Kabupaten Semarang, sore itu berwarna keemasan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan. Di ruang kelas XI IPS 2, suara gitar mengalun lembut, mengisi suasana yang biasanya riuh menjadi tenang.

“Dengarkan baik-baik, ya…”

Suara itu hangat, dalam, dan sedikit serak.

Fahrizal Sahetapy duduk di kursi depan kelas, gitar kayu bertumpu di pahanya. Jemarinya bergerak lincah memetik senar, memainkan melodi yang begitu akrab di telinga.

“Rasa sayange… rasa sayang sayange…”

Beberapa murid mulai ikut bersenandung. Ada yang tertawa kecil karena salah lirik, ada juga yang hanya mengetuk meja mengikuti irama.

Namun, di pojok kelas, seorang gadis duduk diam.

Namanya Nelly.

Usianya baru 16 tahun, rambutnya hitam panjang tetapi sedikit kusut, wajahnya pucat, dan matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, seperti seseorang yang sudah terlalu sering kehilangan.

Fahrizal melirik sekilas ke arah sosok itu.

Sudah beberapa minggu Fahrizal memperhatikan gadis itu. Nelly hampir tidak pernah berbicara. Tidak pernah benar-benar tersenyum. Namun, setiap kali Fahrizal memainkan gitar, gadis itu selalu menatapnya, dan entah mengapa, hal itu selalu membuat Fahrizal merasa diperhatikan.

***

Hari itu, setelah kelas selesai, para murid berhamburan keluar. Tawa dan langkah kaki menggema di lorong sekolah.

Nelly tetap duduk.

Fahrizal merapikan gitarnya, lalu menghampiri.

“Kamu nggak ikut keluar?” tanya Fahrizal dengan lembut

Nelly tersentak sedikit.

“Eh… iya, Pak, saya mau keluar kok.”

Nelly buru-buru berdiri, tetapi tiba-tiba tubuhnya goyah.

Fahrizal refleks menahan bahunya.

“Kamu nggak apa-apa?”

Nelly menggeleng cepat.

“Nggak, Pak. Cuma… anemia.”

“Kamu sudah makan?”

Nelly terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.

Fahrizal menarik napas.

“Ayo, cepat ke kantin.”

“Pak, nggak usah—”

“Ini bukan tawaran,” ucap Fahrizal sambil tersenyum tipis

“Ini perintah guru.”

Untuk pertama kalinya, Nelly tersenyum kecil, dan entah mengapa, senyum itu terasa hangat sekali.

Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah.

***

Fahrizal mulai lebih sering memperhatikan Nelly. Ia tahu gadis itu tinggal bersama neneknya di rumah sederhana di pinggir desa. Ia tahu Nelly sering tidak makan pagi. Ia tahu nilai-nilainya cukup baik, meskipun jarang bicara. Dan perlahan, tanpa disadari, ia juga tahu bahwa ia mulai peduli, bahkan terlalu peduli.

Namun, semuanya berubah pada suatu siang.

Di tengah pelajaran, Nelly tiba-tiba memegang kepalanya. Wajahnya semakin pucat.

“Nelly?” panggil Fahrizal

Gadis itu tidak menjawab.

Tiba-tiba, darah menetes dari hidungnya. Satu tetes, dua tetes, lalu deras.

Seisi kelas panik.

“Nelly!”

Fahrizal langsung berlari, memegang pundaknya. Tubuh Nelly terasa dingin dan lemas.

“Pak… saya… pusing…” ucap Nelly, suaranya hampir tidak terdengar

Tak lama kemudian, pandangan Nelly menggelap. Nelly pingsan.

***

Rumah sakit menjadi saksi awal dari kenyataan yang tidak diinginkan.

Fahrizal berdiri di luar ruang dokter, bersama dengan seorang wanita tua yang wajahnya penuh keriput, yaitu nenek Nelly.

“Dok, cucu saya kenapa Dok?” tanyanya, suara nenek itu gemetar

Dokter itu menarik napas panjang.

“Dari hasil pemeriksaan awal, kami menemukan indikasi penyakit serius.”

“Penyakit serius? Maksudnya?”

Dokter itu menatap mereka.

“Kami mencurigai ini leukemia limfoblastik akut tipe sel B. Kanker darah.”

Dunia seperti berhenti.

Fahrizal merasa dadanya sesak.

Nenek Nelly langsung menangis.

“Ya Allah… Nelly…”

***

Hari-hari setelah itu terasa berat.

Nelly mulai menjalani perawatan. Rambutnya semakin banyak yang rontok. Tubuhnya semakin lemah. Lebam-lebam semakin banyak muncul di kulitnya.

Namun, yang paling menyakitkan adalah matanya.

Mata yang dulu tampak tenang kini terlihat penuh kecemasan.

Fahrizal datang hampir setiap hari. Kadang hanya duduk di samping tempat tidur. Kadang membawa makanan. Kadang juga membawa gitar.

“Pak…” ucap Nelly pelan pada suatu malam

“Iya?”

“Kalau saya sembuh nanti, saya ingin ke Pulau Saparua.”

Fahrizal tersenyum kecil.

“Kenapa harus ke Saparua?”

“Pulaunya indah, lautnya biru, suasananya tenang banget.”

Fahrizal menatapnya lama.

“Saya dari sana, Mbak,” ucap Fahrizal pelan

Mata Nelly berbinar sedikit.

“Bapak serius?”

“Iya, Mbak.”

“Kalau gitu… nanti saya mau ke sana… bareng orang yang ngerti tempat itu.”

Fahrizal terdiam. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat sekaligus menyesakkan.

“Iya,” ucap Fahrizal akhirnya

“Kita ke sana.”

***

Biaya pengobatan semakin besar.

Kemoterapi demi kemoterapi dijalani. Nenek Nelly mulai kebingungan.

Fahrizal tidak tinggal diam. Ia menggunakan semua tabungannya. Ia mengambil pekerjaan tambahan. Ia bahkan menjual beberapa barang berharganya.

Namun, itu masih belum cukup.

Hingga suatu malam, saat Fahrizal duduk sendirian di kamar kontrakannya dengan gitar di pangkuannya, ia teringat sesuatu. Tentang Saparua. Tentang laut. Tentang kampung halamannya. Dan tentang Nelly.

Jemarinya mulai bergerak.

Melodi baru lahir.

Bukan sekadar lagu daerah Ambon yang ia ajarkan di kelas, melainkan lagu berbahasa Ambon karyanya sendiri versi remix, dengan sentuhan modern tetapi tetap membawa jiwa Maluku.

Ia merekam lagu itu dan ia unggah ke media sosial.

Awalnya, semuanya biasa saja.

Lalu, seseorang membagikan lagu itu dan lagu itu viral.

***

Nama Fahrizal Sahetapy tiba-tiba dikenal di seluruh Indonesia. Undangan konser, tawaran kolaborasi, dan ajakan wawancara berdatangan.

Honor yang awalnya kecil kini berubah menjadi angka yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Dalam waktu singkat, ia mengumpulkan miliaran rupiah.

Namun, bagi Fahrizal, semuanya itu hanya punya satu tujuan, yaitu kesembuhan Nelly.

***

“Tindakan terbaik saat ini adalah terapi CAR T-cell,” ucap dokter itu pada suatu hari

“Terapi ini hanya bisa dilakukan di Singapura.”

“Biayanya… 13 miliar rupiah.”

Fahrizal tidak ragu.

“Lakukan saja, Dok.”

Nenek Nelly menangis.

“Pak… biayanya terlalu besar Pak… saya nggak bisa—”

“Ini bukan soal bisa atau tidak, Nek,” ucap Fahrizal pelan

“Ini soal… anak ini harus hidup.”

***

Tiga tahun berlalu.

Nelly kini berusia 19 tahun. Ia sudah lulus SMA, tetapi ia masih berjuang melawan kanker.

Namun, kali ini, harapan itu lebih nyata.

Singapura menjadi tempat pertaruhan hidupnya.

Hari demi hari berlalu di ruang perawatan.

Fahrizal selalu ada di Singapura untuk Nelly. Memegang tangannya, menyemangatinya, dan kadang menyanyikan lagu itu.

“Rasa sayange… rasa sayang sayange…”

Suara itu kini bukan hanya lagu, melainkan janji.

***

Hingga suatu pagi, dokter di Singapura masuk ke ruangan dengan senyum manis.

“Kondisi Nelly menunjukkan respon sangat baik.”

“Sel limfoblas Nelly sudah tidak lagi terdeteksi.”

“Nelly sudah sembuh total.”

Sunyi, lalu tangis bahagia meledak.

Nenek Nelly menangis histeris.

Nelly menutup wajahnya.

Fahrizal hanya berdiri diam, matanya basah.

Untuk pertama kalinya, Fahrizal merasa lega.

***

Beberapa bulan kemudian, sebuah kapal kecil berlayar di lautan biru di perairan Maluku.

Nelly berdiri di dek, angin menerpa rambut cepaknya yang mulai tumbuh 1 cm.

“Ini Pulau Saparua?” tanya Nelly pelan

Fahrizal tersenyum.

“Iya, Mbak.”

Nelly menatap laut. Air matanya jatuh.

“Indah banget…”

Fahrizal mendekat dan mengambil sesuatu dari sakunya.

Sebuah cincin.

“Nelly.”

Gadis itu menoleh.

“Saya tahu… semua ini nggak mudah.”

“Saya juga tahu… mungkin ini terdengar gila.”

“Tapi… sejak dulu… saya sudah punya rasa sayang ke kamu.”

Nelly terdiam. Jantungnya berdegup kencang.

“Dan sekarang… saya nggak mau kehilangan kamu lagi.”

Fahrizal berlutut.

“Nelly… maukah kamu menikah dengan saya?”

Angin laut berembus pelan.

Nelly lalu menangis sambil tersenyum.

“Iya, Pak…”

***

Pernikahan mereka berlangsung dengan sederhana di Bringin, Kabupaten Semarang, tetapi penuh makna.

Pernikahan itu diiringi dengan alunan lagu yang sama.

“Rasa sayange… rasa sayang sayange…”

Fahrizal menggenggam tangan Nelly, kali ini bukan sebagai guru dan murid, melainkan sebagai pasangan. Sebagai dua orang yang pernah hampir kehilangan, tetapi memilih bertahan.

Dan di antara semua rasa yang pernah ada, yang tersisa hanyalah satu, yaitu rasa sayang yang sederhana tetapi abadi.

TAMAT

@aldo12 @kakekane.cell @itkgid
edsixteenAvatar border
skinnyhooperAvatar border
h4dewaAvatar border
h4dewa dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.6K
4
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan