Kaskus

Sports

megawati1986Avatar border
TS
megawati1986
Jalan Indonesia menuju MMA dunia: dari pencak silat sampai UFC
Bayangkan sebuah desa kecil di Sumatra Utara. Tidak ada arena besar, tidak ada sponsor, dan tidak ada jaminan. Hanya ada seorang pemuda yang mencintai pertarungan sejak kecil, dan seorang pelatih yang mempercayainya. Di sanalah kisah MMA Indonesia bermula, bukan dari promotor besar dan acara televisi, melainkan dari tempat-tempat dimana tekad mengalahkan keterbatasan.

Namun untuk memahami bagaimana wakil Indonesia, Jeka Saragih, bisa sampai ke UFC, kita perlu melihat jauh ke belakang.

Budaya tarung

Orang Indonesia sudah bertarung sejak zaman purba dan mereka melakukannya secara terstruktur. Pencak silat merupakan seni bela diri yang telah ada di tanah air selama ribuan tahun. Ini bukan sekadar keahlian teknik, melainkan juga bagian dari identitas budaya bangsa. Setiap daerah mengembangkan gayanya masing-masing. Di Jawa Barat gerakannya lentur dan mengalir, di Sumatra lebih lugas dan kuat, sedangkan di Bali hampir menyerupai tarian, tetapi tetap mematikan dalam praktiknya.

Muncul pula Tarung Derajat pada awal 1970-an, yang punya gaya full-contact dan dikembangkan oleh Haji Achmad Dradjat. Hanya bela diri praktis untuk bertahan di jalanan tanpa unsur spiritual. Perpaduan antara tradisi kuno dan pragmatisme keras inilah yang membentuk para petarung Indonesia.

Pengenalan oktagon

ONE Championship menggelar acara keduanya di Jakarta pada tahun 2012. Arena dipenuhi euforia. Penonton tidak sekadar menyaksikan. Mereka melihat diri mereka sendiri dalam olahraga ini. Agresivitas, daya juang, teknik, dan ketahanan. Semua itu sudah lama menjadi bagian dari karakter bangsa, bahkan sebelum oktagon hadir.

ONE Championship terus kembali ke Indonesia, dan arena pun selalu penuh. Di saat yang sama, promotor lokal One Pride MMA berkembang pesat dan menjadi wadah utama lahirnya talenta lokal. Ratusan petarung dari seluruh nusantara mendapatkan kesempatan untuk menguji diri. Sebagian berhenti di level nasional, sebagian lainnya melangkah lebih jauh.

Di lingkungan seperti inilah Jeka Saragih berhasil menemukan jati dirinya untuk menjadi seorang petarung profesional.

Ukir sejarah

Jeka Saragih lahir pada 1 Januari 1995 di Bah Pasunsang, sebuah desa kecil di Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Ia berasal dari etnis Batak dan mulai berlatih wushu sejak tahun 2013, lalu dengan cepat menjuarai kejuaraan nasional di Yogyakarta. Kisah itu mungkin cukup menarik untuk dipublikasikan di media lokal, tetapi Jeka menginginkan sorotan lebih.

Pelatihnya melihat potensi besar dan mengajaknya bergabung dengan Batam Fighter Club. Di sanalah perjalanan karier internasionalnya dimulai.

Jeka Saragih bertarung memperebutkan sabuk juara kelas ringan One Pride MMA pada April 2017. Sang juara bertahan saat itu, Ngapdi Mulidy, dibuat knockout di ronde pertama. Jeka menjadi juara dan berhasil mempertahankan gelarnya 4 kali berturut-turut. 

Ketika UFC meluncurkan turnamen Road to UFC untuk para petarung Asia pada tahun 2022, Jeka langsung ambil bagian. Perempat final dan semifinal dimenangkan Jeka dengan knockout. Sayang ia kalah oleh Anshul Jubli dari India lewat technical knockout di ronde kedua babak final. Meski begitu ia tetap mendapatkan kontrak UFC usai dinobatkan sebagai salah satu petarung terbaik turnamen.

Jeka Saragih masuk ke oktagon di UFC Fight Night pada 4 Februari 2023. Ia menjadi petarung Indonesia pertama dalam sejarah UFC. Meski kalah pada debutnya, ia tetap mendapatkan banyak sorotan dari berbagai penjuru dunia.

Jeka menjalani laga keduanya melawan Lucas Alexander pada 18 November 2023. Jeka menang usai menjatuhkan lawannya lewat pukulan knockout di ronde pertama. Itu menjadi kemenangan pertama Indonesia di UFC. Jeka juga meraih bonus Performance of the Night.

“Knockout itu menunjukkan kepada dunia bahwa petarung Indonesia bisa bersaing di UFC dan mampu menunjukkan sesuatu kepada dunia. Saya membawa nama negara dan sasana saya di pundak saya. Saya ingin menjadi contoh yang baik bagi petarung Indonesia lainnya,” pungkas Jeka.

Jeka keluar dari roster UFC pada Juli 2025. Namun pintu yang telah dibukanya takkan pernah tertutup.

Calon bintang lainnya

Saat Jeka meniti jalannya di UFC, petarung Indonesia lainnya juga membangun karier di ONE Championship dengan karakter dan perjalanan yang berbeda.

Stefer “The Lion” Rahardian masuk ke dunia MMA melalui bela diri Brazilian jiu-jitsu dan sempat tak terkalahkan selama dua tahun sebelum menghadapi lawan dengan level lebih tinggi. Kekalahannya justru datang dari petarung papan atas divisi tersebut. Ia menorehkan rekor 6 kemenangan dalam 10 pertandingan.

Adrian “Papua Badboy” Mattheis besar di Kepulauan Maluku dari keluarga petani sebelum pindah ke Jakarta demi kehidupan yang lebih baik. Ia menjalani 16 pertandingan dengan 9 kemenangan di ONE Championship, dimana 8 di antaranya lewat penyelesaian cepat. Ia sering menang lewat knockout atau submission, sehingga pertarungannya jarang berlangsung lama dan tidak membosankan.

Altet Wushu wanita pemilik medali perunggu, Priscilla Hertati Lumban Gaol, menjadi salah satu petarung wanita Indonesia pertama di ONE Championship. 

Banyak diantara mereka yang berlatih dengan situasi sulit akibat minimnya fasilitas, seperti ruang bawah tanah, halaman terbuka, dan sasana tanpa pendingin udara atau peralatan memadai. Justru itulah yang membuat kisah mereka begitu inspiratif.

Peran besar infrastruktur

Kini situasinya mulai berbeda. Jakarta Muay Thai & MMA dan Bali MMA telah menjadi sasana kelas dunia yang secara rutin mengirim atlet ke panggung internasional. Apa yang dulu hanya bisa diakses segelintir orang kini mulai menjadi hal yang lebih umum.

Federasi MMA Indonesia (IBCA) mendapat pengakuan resmi pemerintah pada April 2025. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan penanda bahwa olahraga ini telah menjadi bagian dari sistem olahraga nasional. Artinya akan ada pendanaan, kompetisi, dan peluang lahirnya Jeka Saragih berikutnya.

Popularitas MMA di Indonesia juga mendapatkan sorotan dari berbagai industri, salah satunya platform taruhan Melbet Indonesia. Minat penonton lokal terhadap pertandingan ONE Championship makin meningkat.

Suatu hari nanti

Indonesia memang belum memiliki juara UFC atau ONE Championship. Namun sudah boleh berbangga dengan perjalanannya, mulai dari sasana sederhana, menuju promotor nasional, lalu ke ONE Championship, hingga akhirnya ke UFC.

Setiap generasi akan melahirkan petarung yang semakin kuat. Jeka Saragih telah berada di wilayah yang belum pernah dijejaki oleh Indonesia. Calon juara berikutnya mungkin sedang berlatih di suatu tempat di Jawa, Sumatra, atau Papua. Mungkin mereka sedang bermimpi bahwa suatu hari nanti seluruh dunia akan menyebut namanya.
Diubah oleh megawati1986 16-04-2026 19:14
111mantulAvatar border
111mantul memberi reputasi
1
24
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan