Habib Syakur: Kerjasama Militer Indonesia-AS Mengabaik Suasana Kebatinan Umat Islam

Reaksi Kekecewaan Iran Akan Mengkhawatirkan
Editor Liranews
Rabu, 15 April 2026 17:48 WIB
A A
JAKARTA, LIRANEWS.COM | Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid menilai Pemerintahan RI kurang bijaksana menempatkan posisi strategis nasional dalam percaturan Geopolitik yang sedang berkecamuk.
Menurut Habib Syakur, Pemerintah Indonesia tidak menganggap umat beragama sebagai unsur strategis dalam pergaulan internasional, sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil cenderung tidak memahami suasana kebatinan umat Islam.
“Padahal kan sudah jelas, Indonesia adalah negara religius dan salah satu prinsip dasar Pancasila itu adalah keyakinan agama. Itulah yang membuat Indonesia disegani dunia. Tapi sayangnya, faktor ini tidak dipandang Pemerintahan Prabowo sebagai faktor pertimbangan dalam pergaulan internasional saat ini,” jelas Habib Syakur.
Habib Syakur merujuk pada kerjasama yang dibangun antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin dengan Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth yang berpotensi sangat mengganggu posisi diplomatik Indonesia kedepan.
“Kerjasama Menhan Sjafrie dengan Menteri Perang AS sama sekali tidak memperhatikan aspek strategis umat beragama di Indonesia yang sangat cinta damai,” imbuh Habib Syakur.
Yang lebih parah lagi, kata Habib Syakur, Pemerintah RI sepertinya melupakan sejarah di mana Iran adalah sahabat Indonesia dalam pergaulan Internasional.
Menurut Habib Syakur, Iran pasti sangat kecewa mengetahui Menteri Pertahanan Indonesia bekerjasama dengan Menteri Perang AS di tengah situasi perang antara Iran melawan AS dan Israel.
“Iran pasti kecewa dan marah, kenapa pemerintah Indonesia melakukan kerjasama dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth. Padahal jelas-jelas dia menyatakan Islam adalah musuh Amerika Serikat,” tegas Habib Syakur.
Lebih dari itu, Habib Syakur menilai hubungan diplomatik antara Indoensia dengan Iran bisa sangat terganggu. Padahal Iran adalah negara yang selama ini menghormati Indonesia sebagai negara Non-Blok dan peduli pada nasib negara lain.
“Menurut saya, bisa saja nanti hubungan diplomatik Indonesia dengan Iran akan retak. Sebab Iran adalah pencatat yang baik, dan melihat di mana posisi Indonesia itu dicatat. Dan jelas pemerintah kita saat ini tidak mampu merawat sejarah bangsanya sendiri. ” tandas Habib Syakur.