- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah Hari Ini: Melemah 4 Hari Beruntun, Terlemah di Asia
TS
jaguarxj220
Rupiah Hari Ini: Melemah 4 Hari Beruntun, Terlemah di Asia
Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah kembali berada di titik rapuh dan melanjutkan pelemahan selama empat hari beruntun, di tengah pelemahan indeks dolar AS dan menguatnya mayoritas mata uang di kawasan.
Pada penutupan perdagangan spot sore ini, Selasa (14/4/2026), rupiah diperdagangkan di Rp17.122/US$. Melemah 0,11% dan menjadi mata uang Asia terlemah hari ini.
Sejak pekan lalu, rupiah bertengger di level Rp17.000/US$.

Indeks dolar AS melemah 0,16% ke posisi 98,2 dan membawa mayoritas mata uang Asia kembali menguat. Namun, rupiah tertinggal lantaran tekanan domestik lebih dominan daripada tekanan eksternal.

Di pasar valas, permintaan dolar AS dari dalam negeri meningkat, terutama seiring periode repatriasi dividen dan kebutuhan pembayaran impor. Hal ini menyebabkan adanya tekanan likuiditas di pasar valas.
Repatriasi dividen ini memang bersifat musiman. Tapi saat ini efeknya jadi lebih terasa karena terjadi di tengah melemahnya fondasi eksternal Indonesia.
Di sisi lain, penurunan cadangan devisa pada Maret juga jadi indikator bahwa bantalan stabilitas sepertinya mulai menipis, sehingga ruang manuver otoritas moneter jadi makin sempit.

Tekanan inflasi juga ikut menambah beban. Pelemahan rupiah dan gangguan pasokan yang terjadi akibat perang saat ini muali merambat ke sektor riil melalui inflasi impor.
Beberapa bahan baku kemasan mengalami kenaikan membuat biaya produksi produsen makanan dan minuman naik. Kenaikan ini diproyeksikan akan tercermin dalam inflasi April.
Lebih lanjut, kekhawatiran akan meningkatnya anggaran subsidi energi juga masih membayangi pergerakan rupiah. Faktor lain yang memperkeruh keadaan adalah tekanan fiskal. Agenda kebijakan program prioritas pemerintah, membutuhkan ruang anggaran yang signifikan.
Di tengah kenaikan harga minyak dan potensi membengkaknya biaya subsidi, hal ini tentu akan menambah tekanan terhadap rupiah. Tekanan fiskal, permintaan dolar AS, dan terbatasnya ruang manuver bagi otoritas moneter membuat stabilitas rupiah jadi semakin rapuh.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...lemah-di-asia/
Mayoritas mata uang Asia menguat, tapi Rupiah tetap melemah.
Kalo masih denial pelemahan gara2 faktor external, nggak tahu lagi jalan pikirannya bagaimana..
Pada penutupan perdagangan spot sore ini, Selasa (14/4/2026), rupiah diperdagangkan di Rp17.122/US$. Melemah 0,11% dan menjadi mata uang Asia terlemah hari ini.
Sejak pekan lalu, rupiah bertengger di level Rp17.000/US$.

Pergerakan rupiah tiga hari terakhir, hingga 14 April 2026. (Bloomberg)
Indeks dolar AS melemah 0,16% ke posisi 98,2 dan membawa mayoritas mata uang Asia kembali menguat. Namun, rupiah tertinggal lantaran tekanan domestik lebih dominan daripada tekanan eksternal.

Mayoritas mata uang Asia menguat dalam perdagangan Selasa, 14 April 2026, rupiah tertinggal (Bloomberg)
Di pasar valas, permintaan dolar AS dari dalam negeri meningkat, terutama seiring periode repatriasi dividen dan kebutuhan pembayaran impor. Hal ini menyebabkan adanya tekanan likuiditas di pasar valas.
Repatriasi dividen ini memang bersifat musiman. Tapi saat ini efeknya jadi lebih terasa karena terjadi di tengah melemahnya fondasi eksternal Indonesia.
Di sisi lain, penurunan cadangan devisa pada Maret juga jadi indikator bahwa bantalan stabilitas sepertinya mulai menipis, sehingga ruang manuver otoritas moneter jadi makin sempit.

Cadangan Devisa 1 (Bloomberg Technoz)
Tekanan inflasi juga ikut menambah beban. Pelemahan rupiah dan gangguan pasokan yang terjadi akibat perang saat ini muali merambat ke sektor riil melalui inflasi impor.
Beberapa bahan baku kemasan mengalami kenaikan membuat biaya produksi produsen makanan dan minuman naik. Kenaikan ini diproyeksikan akan tercermin dalam inflasi April.
Lebih lanjut, kekhawatiran akan meningkatnya anggaran subsidi energi juga masih membayangi pergerakan rupiah. Faktor lain yang memperkeruh keadaan adalah tekanan fiskal. Agenda kebijakan program prioritas pemerintah, membutuhkan ruang anggaran yang signifikan.
Di tengah kenaikan harga minyak dan potensi membengkaknya biaya subsidi, hal ini tentu akan menambah tekanan terhadap rupiah. Tekanan fiskal, permintaan dolar AS, dan terbatasnya ruang manuver bagi otoritas moneter membuat stabilitas rupiah jadi semakin rapuh.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...lemah-di-asia/
Mayoritas mata uang Asia menguat, tapi Rupiah tetap melemah.
Kalo masih denial pelemahan gara2 faktor external, nggak tahu lagi jalan pikirannya bagaimana..

vietwah1 dan waloni memberi reputasi
2
181
11
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan