- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Dia Hamil Anak Musuhnya Sendiri
TS
marsalsa
Dia Hamil Anak Musuhnya Sendiri
[CERITA ORIGINAL] Anak Haram yang Dibenci Ayahku
Halo guys 👋
Mau share cerita original yang lagi aku tulis. Genre Dark Romance | Romantic Thriller | Family Drama
Kalau suka cerita penuh konflik, pengkhianatan, dan drama, mungkin ini cocok buat kalian.
📖 BAB 1
“Aku tidak pernah menganggapmu anakku.”
Suara Gavin terdengar dingin dan tegas. Kalimat itu jatuh di tengah aula megah yang dipenuhi tamu undangan. Lampu kristal berkilauan di langit-langit, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan yang kini mendadak sunyi.
Monica berdiri di atas panggung. Gaun hitam panjang yang ia kenakan tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut panjangnya tergerai berantakan, memberi kesan liar di tengah kemewahan hang rapi.
Tatapan ratusan orang tertuju padanya. Tidak ada yang membela. Jari Monica mencengkram ujung gaunnya. Kain itu kusut di tangannya, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun menunduk.
“Dia adalah kesalahan terbesar dalam hidup istriku,” lanjut Gavin.
Pria itu berdiri tegap dengan setelan jas hitam sempurna. Wajahnya tenang, seakan sedang menyampaikan fakta biasa. Tanpa emosi dan tidak ada keraguan dalam dirinya.
Bisikan mulai menyebar di antara tamu. Nama besar keluarga itu retak di depan semua orang. Monica mengangkat dagunya tipis, bukan senyum. Melainkan bentuk perlawanan.
“Setidaknya katakan semuanya sekaligus,” ucap Monica pelan. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk didengar.
Gavin menoleh padanya. Matanya dingin, penuh penilaian. “Kamu selalu menuntut perhatian.”
Monica tertawa kecil. Suaranya kering dan tanpa kehangatan. “Aku hanya tidak suka kebohongan yang setengah-setengah.”
Beberapa tamu saling bertukar pandang. Kamera ponsel mulai terangkat secara diam-diam. Malam amal itu berubah menjadi tontonan yang tidak direncanakan.
Gavin melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Kau bahkan lebih buruk dari yang mereka lihat.”
Monica tidak mundur. Sorot matanya tetap tajam, menahan semua tekanan yang menghantamnya dari segala arah. Di sudut ruangan, Asanta berdiri dengan tubuh gemetar. Gaun elegan yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan ketakutan di wajahnya. Ia ingin bergerak tetapi tidak berani.
Monica menangkap itu, tapi ia tidak berharap apapun. “Lanjutkan.”
Gavin mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah para tamu, memastikan semua perhatian tertuju padanya. “Dia hamil!”
Keheningan pecah menjadi gemuruh. Bisikan, keterkejutan, dan sorot mata tajam langsung mengarah ke Monica. Beberapa orang menatap bagian perutnya, mencoba mencari kebenaran dari tuduhan itu. Monica membeku sesaat. Rahasia itu terbuka lebh cepat dari yang ia rencanakan.
“Anak tanpa ayah yang jelas” lanjut Gavin tanpa ragu. “Seperti dirinya sendiri.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari sebelumnya. Monica menarik napas dalam, dadanya terasa sesak, tetapi ia menolak menunjukkan kelemahan.
“Setidaknya aku tidak hidup di balik topeng.” balas Monica, nada suaranya tenang, tetapi penuh tekanan.
Beberapa tamu terlihat tidak nyaman. Namun sebagian lain justru semakin tertarik. Skandal seperti ini terlalu mahal untuk dilewatkan.
Gavin menatap Monica lebih lama. Ada kilatan emosi yang muncul, tetapi ia segera kendalikan kembali “Kau tidak punya tempat lagi di rumah ini,” ucapnya tegas. “Mulai malam ini, kamu bukan bagian dari keluarga ini.”
Kalimat itu menggantung di udara, cukup berat bagi yang mendengarnya, dan tidak bisa ditarik kembali. Monica tertawa kecil. Suaranya lirih, tetapi cukup terdengar oleh mereka yang paling dekat.
“Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah,” katanya. “Jadi, tidak ada yang benar-benar hilang.”
Ia melangkah mundur satu langkah. Tumit sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer. Di antara kerumunan, Javier berdiri diam.
Kemeja putih dan jas rapi yang ia kenakan membuatnya tampak berbeda dari yang lain. Tatapannya penuh ketegangan, seolah menahan sesuatu. Monica melihatnya. Namun, ia segera memalingkan wajah. Ia tidak membutuhkan belas kasihan.
Dari sisi lain ruangan, seorang pria bersandar di pilar marmer. Isaac memperhatikan semuanya tanpa ekspresi, matanya mengikuti setiap gerakan Monica dengan tenang.
“Usir dia!” perintah Gavin kepada para penjaga.
Dua penjaga berbadan besar segera naik ke panggung. Mereka mengenakan setelan hitam dengan earpiece kecil di telinga. Gerakan mereka tegas dan terlatih.
Monica tidak melawan, ia menuruni panggung dengan langkah anggun.
Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai marmer yang mengkilap. Tatapan orang-orang mengikutinya. Ada yang merendahkan, ada yang penasaran, dan ada yang diam-diam menikmati kehancurannya.
Saat melewati Javier, langkah Monica sempat terhenti. Pria itu menatapnya dalam, penuh konflik. “Pergi dari sini!”
Monica tidak menjawab, ia hanya menatapnya sebentar, lalu melanjutkan langkah. Kata-kata itu terasa seperti perintah, bukan kepedulian.
Pintu besar aula dengan ukiran khas tiongkok terbuka lebar. Udara malam menyambut dengan dingin yang menusuk. Suara musik dari dalam ruangan perlahan teredam saat pintu tertutup kembali.
Monica berdiri sendiri di luar, ditemani lampu taman yang menyinari wajahnya yang kini kehilangan topengnya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.
Tangannya perlahan bergerak ke perutnya. Sentuhan itu terasa asing, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia menarik napas panjang, tapi dadanya justru terasa semakin sesak. Bukan karena takut pada dunia, melainkan pada sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya.
Ia tidak pernah merencanakan ini. Tidak pernah menginginkan ini. Namun, untuk pertama kalinya malam itu, kebenciannya tidak hanya tertuju pada Gavin. Ada bagian kecil dalam dirinya yang marah pada dirinya sendiri. Monica memejamkan mata sejenak. Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Dunia yang ingin menghancurkannya, atau kemungkinan bahwa ia harus melindungi sesuatu di tengah kehancuran itu.
Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang, perlahan dan pasti. Monica tidak menoleh, ia sudah tahu siapa itu. Ia masih kesal dengan yang terjadi di dalam aula. Semua rencana yang sudah ia susun secara jangka panjang, kini hancur berantakan.
“Bisa-bisanya masih berdiri dengan tenang di panggung,” ujar Isaac menghampiri Monica.
Monica tersenyum tipis. “Gue nggak punya pilihan lain.”
Isaac berhenti di sampingnya. Jas gelapnya rapi, kontras dengan suasana malam yang dingin. Tatapannya lurus ke depan, sama seperti gadis di sampingnya. “Malam ini baru permulaan.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 Lanjutannya ada di link
https://www.novelol.com/goodnovel/sh...il&rd=1&type=1
GoodNovel (update tiap hari)
Kalau suka, bantu:
✔ komen
✔ rate
✔ up thread ini biar lanjut
Thank you 🙏
Halo guys 👋
Mau share cerita original yang lagi aku tulis. Genre Dark Romance | Romantic Thriller | Family Drama
Kalau suka cerita penuh konflik, pengkhianatan, dan drama, mungkin ini cocok buat kalian.
📖 BAB 1
“Aku tidak pernah menganggapmu anakku.”
Suara Gavin terdengar dingin dan tegas. Kalimat itu jatuh di tengah aula megah yang dipenuhi tamu undangan. Lampu kristal berkilauan di langit-langit, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan yang kini mendadak sunyi.
Monica berdiri di atas panggung. Gaun hitam panjang yang ia kenakan tampak kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut panjangnya tergerai berantakan, memberi kesan liar di tengah kemewahan hang rapi.
Tatapan ratusan orang tertuju padanya. Tidak ada yang membela. Jari Monica mencengkram ujung gaunnya. Kain itu kusut di tangannya, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun menunduk.
“Dia adalah kesalahan terbesar dalam hidup istriku,” lanjut Gavin.
Pria itu berdiri tegap dengan setelan jas hitam sempurna. Wajahnya tenang, seakan sedang menyampaikan fakta biasa. Tanpa emosi dan tidak ada keraguan dalam dirinya.
Bisikan mulai menyebar di antara tamu. Nama besar keluarga itu retak di depan semua orang. Monica mengangkat dagunya tipis, bukan senyum. Melainkan bentuk perlawanan.
“Setidaknya katakan semuanya sekaligus,” ucap Monica pelan. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk didengar.
Gavin menoleh padanya. Matanya dingin, penuh penilaian. “Kamu selalu menuntut perhatian.”
Monica tertawa kecil. Suaranya kering dan tanpa kehangatan. “Aku hanya tidak suka kebohongan yang setengah-setengah.”
Beberapa tamu saling bertukar pandang. Kamera ponsel mulai terangkat secara diam-diam. Malam amal itu berubah menjadi tontonan yang tidak direncanakan.
Gavin melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Kau bahkan lebih buruk dari yang mereka lihat.”
Monica tidak mundur. Sorot matanya tetap tajam, menahan semua tekanan yang menghantamnya dari segala arah. Di sudut ruangan, Asanta berdiri dengan tubuh gemetar. Gaun elegan yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan ketakutan di wajahnya. Ia ingin bergerak tetapi tidak berani.
Monica menangkap itu, tapi ia tidak berharap apapun. “Lanjutkan.”
Gavin mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah para tamu, memastikan semua perhatian tertuju padanya. “Dia hamil!”
Keheningan pecah menjadi gemuruh. Bisikan, keterkejutan, dan sorot mata tajam langsung mengarah ke Monica. Beberapa orang menatap bagian perutnya, mencoba mencari kebenaran dari tuduhan itu. Monica membeku sesaat. Rahasia itu terbuka lebh cepat dari yang ia rencanakan.
“Anak tanpa ayah yang jelas” lanjut Gavin tanpa ragu. “Seperti dirinya sendiri.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari sebelumnya. Monica menarik napas dalam, dadanya terasa sesak, tetapi ia menolak menunjukkan kelemahan.
“Setidaknya aku tidak hidup di balik topeng.” balas Monica, nada suaranya tenang, tetapi penuh tekanan.
Beberapa tamu terlihat tidak nyaman. Namun sebagian lain justru semakin tertarik. Skandal seperti ini terlalu mahal untuk dilewatkan.
Gavin menatap Monica lebih lama. Ada kilatan emosi yang muncul, tetapi ia segera kendalikan kembali “Kau tidak punya tempat lagi di rumah ini,” ucapnya tegas. “Mulai malam ini, kamu bukan bagian dari keluarga ini.”
Kalimat itu menggantung di udara, cukup berat bagi yang mendengarnya, dan tidak bisa ditarik kembali. Monica tertawa kecil. Suaranya lirih, tetapi cukup terdengar oleh mereka yang paling dekat.
“Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah,” katanya. “Jadi, tidak ada yang benar-benar hilang.”
Ia melangkah mundur satu langkah. Tumit sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer. Di antara kerumunan, Javier berdiri diam.
Kemeja putih dan jas rapi yang ia kenakan membuatnya tampak berbeda dari yang lain. Tatapannya penuh ketegangan, seolah menahan sesuatu. Monica melihatnya. Namun, ia segera memalingkan wajah. Ia tidak membutuhkan belas kasihan.
Dari sisi lain ruangan, seorang pria bersandar di pilar marmer. Isaac memperhatikan semuanya tanpa ekspresi, matanya mengikuti setiap gerakan Monica dengan tenang.
“Usir dia!” perintah Gavin kepada para penjaga.
Dua penjaga berbadan besar segera naik ke panggung. Mereka mengenakan setelan hitam dengan earpiece kecil di telinga. Gerakan mereka tegas dan terlatih.
Monica tidak melawan, ia menuruni panggung dengan langkah anggun.
Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai marmer yang mengkilap. Tatapan orang-orang mengikutinya. Ada yang merendahkan, ada yang penasaran, dan ada yang diam-diam menikmati kehancurannya.
Saat melewati Javier, langkah Monica sempat terhenti. Pria itu menatapnya dalam, penuh konflik. “Pergi dari sini!”
Monica tidak menjawab, ia hanya menatapnya sebentar, lalu melanjutkan langkah. Kata-kata itu terasa seperti perintah, bukan kepedulian.
Pintu besar aula dengan ukiran khas tiongkok terbuka lebar. Udara malam menyambut dengan dingin yang menusuk. Suara musik dari dalam ruangan perlahan teredam saat pintu tertutup kembali.
Monica berdiri sendiri di luar, ditemani lampu taman yang menyinari wajahnya yang kini kehilangan topengnya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.
Tangannya perlahan bergerak ke perutnya. Sentuhan itu terasa asing, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia menarik napas panjang, tapi dadanya justru terasa semakin sesak. Bukan karena takut pada dunia, melainkan pada sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya.
Ia tidak pernah merencanakan ini. Tidak pernah menginginkan ini. Namun, untuk pertama kalinya malam itu, kebenciannya tidak hanya tertuju pada Gavin. Ada bagian kecil dalam dirinya yang marah pada dirinya sendiri. Monica memejamkan mata sejenak. Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Dunia yang ingin menghancurkannya, atau kemungkinan bahwa ia harus melindungi sesuatu di tengah kehancuran itu.
Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang, perlahan dan pasti. Monica tidak menoleh, ia sudah tahu siapa itu. Ia masih kesal dengan yang terjadi di dalam aula. Semua rencana yang sudah ia susun secara jangka panjang, kini hancur berantakan.
“Bisa-bisanya masih berdiri dengan tenang di panggung,” ujar Isaac menghampiri Monica.
Monica tersenyum tipis. “Gue nggak punya pilihan lain.”
Isaac berhenti di sampingnya. Jas gelapnya rapi, kontras dengan suasana malam yang dingin. Tatapannya lurus ke depan, sama seperti gadis di sampingnya. “Malam ini baru permulaan.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 Lanjutannya ada di link
https://www.novelol.com/goodnovel/sh...il&rd=1&type=1
GoodNovel (update tiap hari)
Kalau suka, bantu:
✔ komen
✔ rate
✔ up thread ini biar lanjut
Thank you 🙏
0
72
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan