- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Tekanan Belum Reda, Rupiah Masih Bertahan di Atas Rp17.000/US$
TS
jaguarxj220
Tekanan Belum Reda, Rupiah Masih Bertahan di Atas Rp17.000/US$
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot melanjutkan pelemahan.
Pada Senin (13/4/2026), rupiah kembali melemah terbatas 0,03% ke Rp17.103/US$. Tekanan eksternal dan kondisi domestik membuat rupiah kesulitan untuk menguat lagi ke level Rp16.000-an/US$ sejak awal April.
Dalam tiga hari beruntun sejak Kamis pekan lalu, rupiah terus merosot hingga menembus level terendahnya sepanjang masa pada hari ini di posisi Rp17.137/US$ pada sesi perdagangan pagi setelah pembukaan pasar.

Perang AS dan Iran jadi biang keladi pergerakan mata uang Garuda jadi makin terbatas. Perang yang sudah berlangsung selama sekitar 7 pekan ini menyebabkan ketidakpastian global dan membuat aset-aset di pasar negara berkembang terobang-ambing mengikuti arah sentimen yang terjadi.
Awal pekan ini, sentimen buruk membayangi pasar Asia. Gagalnya kesepakatan damai membuat aset mata uang di kawasan bergerak melemah. Sejak awal perang, aset mata uang Asia kompak melemah, kecuali yuan China.
Peso Filipina menjadi mata uang paling tertekan, disusul won Korea Selatan, lalu baht Thailand, rupee India, rupiah, yen Jepang, dolar Taiwan, dan ringgit Malaysia. Sementara, dolar Hong Kong dan Singapura cenderung terbatas pelemahannya dibanding mata uang lainnya.

Pada Senin (13/4/2026), rupiah kembali melemah terbatas 0,03% ke Rp17.103/US$. Tekanan eksternal dan kondisi domestik membuat rupiah kesulitan untuk menguat lagi ke level Rp16.000-an/US$ sejak awal April.
Dalam tiga hari beruntun sejak Kamis pekan lalu, rupiah terus merosot hingga menembus level terendahnya sepanjang masa pada hari ini di posisi Rp17.137/US$ pada sesi perdagangan pagi setelah pembukaan pasar.

Pergerakan rupiah pada perdagangan Senin (13/4/2026). (Bloomberg)
Perang AS dan Iran jadi biang keladi pergerakan mata uang Garuda jadi makin terbatas. Perang yang sudah berlangsung selama sekitar 7 pekan ini menyebabkan ketidakpastian global dan membuat aset-aset di pasar negara berkembang terobang-ambing mengikuti arah sentimen yang terjadi.
Awal pekan ini, sentimen buruk membayangi pasar Asia. Gagalnya kesepakatan damai membuat aset mata uang di kawasan bergerak melemah. Sejak awal perang, aset mata uang Asia kompak melemah, kecuali yuan China.
Peso Filipina menjadi mata uang paling tertekan, disusul won Korea Selatan, lalu baht Thailand, rupee India, rupiah, yen Jepang, dolar Taiwan, dan ringgit Malaysia. Sementara, dolar Hong Kong dan Singapura cenderung terbatas pelemahannya dibanding mata uang lainnya.

Pergerakan mata uang Asia sejak perang pecah di Timur Tengah, tertekan kenaikan harga minyak, kecuali yuan China. (Bloomberg)
Blokade Selat Hormuz
Sentimen risk-off kembali melanda aset di pasar emerging markets setelah Presiden AS mengancam akan memblokade Selat Hormuz. Tekanan di Selat Hormuz artinya membuat arus distribusi minyak kembali tersendat, setelah beberapa tanker diizinkan melintas pada masa gencatan senjata pekan lalu.
Setelah pembicaran dengan Iran gagal mencapai kata sepakat, Presiden AS mengancam akan memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai pukul 10 pagi waktu New York, seperti dikutip Bloomberg News.
"Bisa jadi sulit bagi Iran untuk kembali mempercayai pemerintahan Trump secara berkelanjutan setelah blokade ini, sehingga konflik yang lebih panjang tampaknya lebih mungkin terjadi," kata Michael Wan, analis valas MUFG dalam catatannya.
Akibat ancaman ini, harga minyak mentah jenis Brent terpantau kembali naik 6,42% ke US$101,3 per barel pada sesi perdagangan hari ini, sementara WTI naik 6,83% ke level US$103,17 per barel. Kenaikan harga minyak mentah ikut mengerek indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama sebesar 0,28% ke level 98,92.
Kenaikan harga minyak mentah juga memicu pelemahan saham Asia sebagian bergerak melemah. Melansir data realtime Bloomberg pada 14:20 WIB, Indeks Hang Seng tercatat tergerus 1,06%, indeks Topix melemah 0,45%, indeks KOSPI melemah 0,86%, NIKKEI 225 melemah 0,74%, sementara KOSDAQ dan IHSG justru menguat masing-masing 0,57% dan 0,79%.
Sentimen risk-off kembali melanda aset di pasar emerging markets setelah Presiden AS mengancam akan memblokade Selat Hormuz. Tekanan di Selat Hormuz artinya membuat arus distribusi minyak kembali tersendat, setelah beberapa tanker diizinkan melintas pada masa gencatan senjata pekan lalu.
Setelah pembicaran dengan Iran gagal mencapai kata sepakat, Presiden AS mengancam akan memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai pukul 10 pagi waktu New York, seperti dikutip Bloomberg News.
"Bisa jadi sulit bagi Iran untuk kembali mempercayai pemerintahan Trump secara berkelanjutan setelah blokade ini, sehingga konflik yang lebih panjang tampaknya lebih mungkin terjadi," kata Michael Wan, analis valas MUFG dalam catatannya.
Akibat ancaman ini, harga minyak mentah jenis Brent terpantau kembali naik 6,42% ke US$101,3 per barel pada sesi perdagangan hari ini, sementara WTI naik 6,83% ke level US$103,17 per barel. Kenaikan harga minyak mentah ikut mengerek indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama sebesar 0,28% ke level 98,92.
Kenaikan harga minyak mentah juga memicu pelemahan saham Asia sebagian bergerak melemah. Melansir data realtime Bloomberg pada 14:20 WIB, Indeks Hang Seng tercatat tergerus 1,06%, indeks Topix melemah 0,45%, indeks KOSPI melemah 0,86%, NIKKEI 225 melemah 0,74%, sementara KOSDAQ dan IHSG justru menguat masing-masing 0,57% dan 0,79%.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/105950/tekanan-belum-reda-rupiah-masih-bertahan-di-atas-rp17-000-us/
Nggak bakalan bisa balik ke level 16ribuan.
Kecuali ada extraordinary event.
Trump kepleset di kamar mandi sampe mokad misalnya
MemoryExpress memberi reputasi
1
51
1
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan