- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Bobibos Pilih Produksi di Timor Leste, Kenapa Tak di Dalam Negeri?
TS
aleksandronesta
Bobibos Pilih Produksi di Timor Leste, Kenapa Tak di Dalam Negeri?
Quote:
Bobibos Pilih Produksi di Timor Leste, Kenapa Tak di Dalam Negeri?
Jumat, 10 April 2026 | 14:00 WIB
MF
MF
Penulis: Muhammad Firman | Editor: MF

Bobibos ubah jerami jadi BBM RON 98 yang ramah lingkungan. (Bobibos/Bobibos)
Jakarta, Beritasatu.com - Bobibos kembali menarik perhatian setelah rencana produksi massalnya diputuskan berlangsung di Timor Leste, bukan di Indonesia.
Bahan bakar kendaraan berbasis nabati yang berasal dari jerami ini dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi energi alternatif.
Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat dan dorongan terhadap energi ramah lingkungan, kehadiran Bobibos dinilai bisa menjadi opsi menarik.
Namun, keputusan memulai produksi di luar negeri memunculkan pertanyaan, mengapa tidak dilakukan di dalam negeri?
Alasan Bobibos Memilih Produksi di Timor Leste
Bahan bakar nabati (BBN) bernama Bobibos yang dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula direncanakan memasuki tahap peluncuran dan produksi massal di Timor Leste pada April 2026. Negara tersebut dipilih sebagai lokasi awal implementasi, bukan tanpa alasan.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra sekaligus pembina Bobibos, Mulyadi, menjelaskan bahwa skema kerja sama menjadi faktor utama. Bobibos menggandeng perusahaan swasta di Timor Leste yang direkomendasikan langsung oleh pemerintah setempat.
“Jadi, Bobibos bekerja sama dengan perusahaan Timor Leste yang direkomendasikan pemerintah. Kita membuat perusahaan bersama di Timor Leste, 51% perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah Timor Leste dan 49% Bobibos Indonesia,” kata Mulyadi kepada awak media di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Dengan komposisi tersebut, mitra lokal memegang kendali mayoritas, sementara Bobibos berperan sebagai penyedia teknologi. Skema ini membuat implementasi proyek lebih mudah karena dukungan penuh dari pihak lokal sudah tersedia sejak awal.
Selain itu, pembagian peran dalam kerja sama juga menjadi pertimbangan penting. Pihak perusahaan swasta Timor Leste bertanggung jawab dalam menyiapkan pabrik, gudang, hingga berbagai alat non-produksi yang berkaitan dengan sektor pertanian, termasuk lahan sawah.
“Lalu, konteks kerjasamanya secara proporsional. Mereka (perusahaan swasta) menyiapkan pabrik, menyiapkan gudang, alat-alat mesin non-produksi tapi alat-alat yang bersifat kepertanian, dan lahan sawah,” jelas Mulyadi.
Pada sisi lain, Bobibos fokus pada penyediaan teknologi inti dan mesin produksi. Dengan pembagian seperti ini, investasi awal dari pihak Bobibos menjadi lebih efisien karena sebagian besar kebutuhan infrastruktur sudah disiapkan oleh mitra lokal.
Faktor lain yang mendukung adalah kesiapan distribusi. Pemerintah Timor Leste disebut telah menyiapkan pembangunan SPBU, dengan jumlah yang disesuaikan berdasarkan desain serta target produksi.
“Itu nanti tergantung desain produksi dan target produksi yang diminta oleh Timor Leste,” ujar Mulyadi.
Dari sisi tenaga kerja, pendekatan yang digunakan juga memperkuat alasan pemilihan lokasi. Bobibos hanya menempatkan tenaga ahli sesuai kebutuhan, sementara tenaga operasional sepenuhnya berasal dari masyarakat setempat.
“Terkait tenaga kerja tentu dari pihak Bobibos Indonesia hanya kepada sesuai dengan ekspertisenya. Tapi kalau tenaga-tenaga kerja yang di level operasional seperti di SPBU dan seterusnya tentu masyarakat Timor Leste sendiri,” ungkap Mulyadi.
Model ini tidak hanya mempermudah operasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal sehingga meningkatkan penerimaan terhadap proyek.
Menariknya, kerja sama ini juga tidak melibatkan BUMN Timor Leste. Kolaborasi dilakukan murni dengan perusahaan swasta yang telah direkomendasikan pemerintah sesuai kesepakatan pada 24 Desember 2025. Hal ini menunjukkan fleksibilitas model bisnis yang digunakan.
Lebih jauh, pola kerja sama seperti ini tidak hanya diterapkan di Timor Leste. Bobibos berencana menggunakan skema yang sama untuk ekspansi ke negara lain maupun daerah di Indonesia.
“Kemudian skema untuk negara-negara lain bahkan untuk pemerintah daerah di Indonesia jika memungkinkan kita sama seperti itu,” tutur Mulyadi.
Dalam setiap kerja sama, Bobibos tetap berada di posisi 49% saham, sementara 51% dimiliki oleh mitra lokal atau pemerintah daerah.
“Jadi dari Bobibos hanya 49% dari negara lain atau provinsi yang ternyata akan berkonsultasi dengan pemerintah pusat jika diizinkan. Pemerintah provinsi itu akan pegang 51% Bobibos jadi kami hanya mensupport terkait teknologi dan mesin khususnya saja,” tegasnya.
Selain Timor Leste, beberapa negara seperti Vietnam, Malaysia, dan Norwegia juga disebut menjadi target berikutnya.
Keputusan Bobibos memulai produksi di Timor Leste erat kaitannya dengan skema kerja sama yang menguntungkan secara operasional dan investasi. Dukungan infrastruktur, peran dominan mitra lokal, serta kesiapan distribusi menjadi faktor utama yang sulit diabaikan.
Ada baiknya bertahap pak
Di negara-negara satelit dulu
Malaysia
Filipina
Papua New Guinea
Kamboja
Thailand
Solomon
Laos
Vietnam
0
179
Kutip
3
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan