- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
anak 12 tahun tewas ditembak di Dogiyai – Aparat menembak membabi buta
TS
mabdulkarim
anak 12 tahun tewas ditembak di Dogiyai – Aparat menembak membabi buta
Kisah perempuan lansia lumpuh dan anak 12 tahun yang tewas ditembak di Kabupaten Dogiyai, Papua – 'Aparat menembak secara membabi buta'
Sumber gambar,Polda Papua Tengah
Keterangan gambar,Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini, bertemu perwakilan masyarakat Dogiyai, Kamis (09/04).
Jeremias berkunjung ke Dogiyai, Kamis (09/04). Dia bertemu sejumlah perwakilan masyarakat.
"Tidak pernah ada instruksi untuk melakukan penembakan terhadap masyarakat sipil," ujar Jeremias dalam keterangan tertulis yang dibagikan Humas Polda Papua Tengah.
"Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk menampung aspirasi masyarakat serta berkomitmen untuk menyampaikan perkembangan penanganan masalah secara terbuka kepada publik," kata Jeremias.
Selama satu pekan, BBC menelusuri bagaimana kericuhan di Dogiyai terjadi. Kami mewawancarai sejumlah saksi mata sekaligus mengumpulkan dokumentasi visual terkait peristiwa mematikan itu.
Kami memilih untuk tidak menampilkan sejumlah foto dan video itu atas pertimbangan etik dan menjaga kenyamanan para pembaca.
Herman Degei adalah pemuda keturunan adat Mee yang selama beberapa tahun terakhir bekerja di sebuah sekolah di Kampung Ekemanida, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai. Dia berada di Sekretariat Kantor Bupati Dogiyai pada 31 Maret pagi.
Sekitar pukul 10 pagi, Herman melihat dua pegawai berbaju dinas datang dalam kepanikan. "Wah dong (mereka) ada tembak-tembakan lagi," begitu perkataan salah satu pegawai yang diingat Herman.
Pegawai tersebut lalu menunjukkan foto yang beredar di sejumlah grup Whatsapp. Foto itu memperlihatkan polisi bernama Juventus Edowai, yang berpangkat brigadir dua, sudah tak bernyawa.
Kepanikan menyebar di antara mereka, tapi rasa heran juga menyeruak.
"Tidak banyak darah di lokasi itu, padahal lehernya seperti ditusuk pisau," kata Herman. "Kalau dia ditusuk di situ, seharusnya kan ada banyak darah," ujarnya.
Kepala Distrik Kamuu, Markus Awue, pada waktu yang sama juga mendapat informasi tentang jenazah Juventus Edowai.
Kala itu Markus sedang mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Otonomi Khusus Dogiyai di Aula Koteka Moge—berjarak sekitar 200 meter dari tempat Herman berada.
Di tengah diskusi untuk mencari strategi terbaik meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan terhadap masyarakat asli Papua, Markus menerima pesan dari Kapolsek Kamuu, Iptu Aiem Yusuf.

Sumber gambar,Polres Dogiyai
Markus bilang, Yusuf mengabarkan penemuan jenazah di dalam parit, di depan gereja Gereja Kemah Injili Indonesia (Kingmi) Ebenezer. "Kapolsek mengajak saya untuk jalan ke lokasi, memastikan masalah ini," ucapnya.
Perjalanan Markus dan Yusuf berlangsung singkat karena jarak Aula Koteka Moge dan Gereja Kingmi Ebenezer hanya sekitar 500 meter.
Namun akhirnya hanya Yusuf yang bisa benar-benar melihat jenazah Juventus Edowai. Markus bilang, lokasi itu dipenuhi polisi dan salah satu dari mereka menghadangnya.
"Saya bilang saya kepala distrik, kepala wilayah, dan kehadiran saya adalah kehadiran pemerintah," kata Markus.
Situasi memanas. Markus berpikir dua kali untuk melanjutkan perdebatan.
"Dalam situasi seperti itu mereka bisa kehilangan akal sehat. Kalau mereka lepas peluru, saya bisa kena," ucapnya.
Markus memilih mundur. Di jalanan, dia menghampiri para perempuan yang berjualan di pasar untuk segera pulang.
Markus berputar ke beberapa kampung, seperti Ekemanida, Idakoto, Mawa, dan Ikebo. Dia berpesan kepada warga yang ditemuinya "untuk menjaga situasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan."

Sumber gambar,Polda Papua Tengah
Keterangan gambar,Patroli aparat kepolisian di Kampung Ekemanida, Dogiyai, 2 April 2026.
Setibanya di rumah, Markus mendapat pesan dari Bupati Dogiyai, Yudas Tebai. Yudas memerintahkan Markus untuk datang ke lokasi penemuan jenazah Juventus Edowai.
Mengingat penghadangan yang dia alami beberapa menit sebelumnya, Markus menghubungi Iptu Aiem Yusuf. Dia menjelaskan perintah yang dia terima dari Yudas.
Di ujung telepon, kata Markus, Yusuf berkata telah berkoordinasi dengan aparat di sekitar Gereja Kingmi Ebenezer. "Kapolsek bilang sudah aman," kata Markus.
Dalam perjalanan, Markus bertemu Alex Waine. Dia mengajak Alex untuk bersama-sama menuju ke depan Gereja Kingmi Ebenezer.
Seperti Markus, Alex adalah laki-laki muda berdarah Mee—komunitas adat terbesar di Dogiyai. Dia berprofesi sebagai jurnalis di media massa lokal.
Sebelum bertemu Markus di tengah jalan, Alex sudah merasa terpanggil untuk melakukan kerja-kerja jurnalistik: datang ke lokasi penemuan jenazah Jufentus Edowai.
"Saya bertemu kepala distrik. Lokasi kejadian itu memang wilayah kerjanya. Dia selalu kontrol," ujar Alex.
Alex dan Markus mengendarai sepeda motor mereka masing-masing. Sekitar satu kilometer dari Gereja Kingmi Ebenezer, Alex melihat aparat kepolisian telah tersebar di sepanjang Jalan Trans Nabire—akses utama Dogiyai, sekaligus jalan menuju gereja tersebut.
Saat itu tidak ada lagi aktivitas masyarakat di jalanan tersebut. Selain aparat, Alex melihat sejumlah kelompok laki-laki muda. Mereka berdiri di jalan-jalan menuju perkampungan.
Dalam situasi itu, tembakan aparat terdengar berturut-turut, kata Alex.
Beberapa menit sebelumnya, Pastor Yeskiel Belau baru saja melalui Jalan Trans Nabire itu. Di atas motornya, dia melewati terminal yang berjarak sekitar 300 meter dari Gereja Kingmi Ebenezer.
"Saya melihat mobil polisi melaju ke arah saya dengan kecepatan tinggi, jadi saya segera ke pinggir," kata Yeskiel.
"Mobil itu berjalan menuju pasar dan rumah sakit," tuturnya. Rumah sakit yang dia maksud adalah RSUD Dogiyai, selemparan batu di seberang Gereja Kingmi Ebenezer.
Yeskiel melanjutkan perjalanannya menuju pastoran di Gereja Katolik Santa Maria Imaculata.

Setibanya di sana, Yeskiel menghubungi suster pimpinan di gereja tersebut. "Ada kekacauan di Moanemani," kata suster itu kepada Yeskiel.
Yeskiel lalu melangkah ke pinggir jalan. Di situ Yeskiel melihat mobil polisi yang berpapasan dengannya sebelumnya.
"Kantong jenazah dibaringkan di belakang mobil, diapit beberapa polisi yang duduk dan berdiri," ujarnya.
"Saya melihat mobil itu melaju ke depan Polres. Beberapa polisi naik dan mobil itu kembali ke jalan lagi," kata Yeskiel.
Kantor Polres Dogiyai tepat berada di seberang kanan Santa Maria Imaculata.
Dalam situasi itu, Yeskiel mendengar suara tembakan dari arah terminal, rumah sakit, dan pasar. Dia melihat sejumlah perempuan yang berjualan di pinggir jalan berlarian pulang.
"Saya saat itu juga lari dengan motor ke arah Mapia," kata Yeskiel.

Keterangan gambar,Foto yang dibagikan Polda Papua Tengah memperlihatkan aparat bersenjata lengkap di salah satu jalan utama Dogiyai. Batu-batu diletakkan warga di tengah jalan dengan klaim mencegah patroli dan penembakan aparat.
Dalam kekacauan itulah Alex Waine dan Markus Awue berusaha menuju lokasi jenazah Juventus Edowai di depan Gereja Kingmi Ebenezer.
Namun sekitar 100 meter dari Gereja Kingmi Ebenezer, sang wartawan dan kepala distrik ini dihentikan seorang polisi—yang mereka identifikasi dengan nama William, merujuk nama yang tertera di seragamnya.
"Dia sempat katakan intimidasi atau ancaman," kata Markus.
"Masyarakat harus cepat ungkap pelaku, kalau tidak kami akan meratakan, habiskan warga," ujar Markus mengulang kata-kata polisi itu.
Belakangan, pada 5 April, Iptu Aiem Yusuf meminta maaf atas intimidasi yang diterima Markus dan Alex. Dia menyebut polisi bernama William itu bukan anggota Polsek Kamuu, tapi polisi di bawah Polres Dogiyai.
"Jujur bukan karena saya anak Papua, saya tahu pemuda-pemuda di sini, saya sangat dekat dengan mereka. Perilaku anggota polisi ini tidak benar, tidak profesional," ujarnya kepada wartawan Tribunnews Papua.
[mg]https://ichef.bbci.co.uk/ace/ws/689/cpsprodpb/1c48/live/8518e720-33f2-11f1-8606-05fe34b06e1b.jpg.webp[/img]
Keterangan gambar,Kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Dogiyai.
Pada 31 Maret siang, suara tembakan semakin intensif terdengar di pusat Dogiyai. Berbagai grup Whatsapp warga penuh pembicaraan, sampai sebuah foto jenazah laki-laki muda dengan luka tembak tersebar.
Herman Degei, yang bersama para ASN memilih bertahan di kantor Sekretariat Bupati ketimbang bertemu aparat di jalanan, melihat foto tersebut.
"Itu jenazah Siprianus Tibakoto," ujar Herman, yang belakangan mengetahui identitas warga sipil itu.
Merujuk data yang dikumpulkan Solidaritas Rakyat Papua Kabupaten Dogiyai, Siprianus adalah pemuda 19 tahun dari Kampung Ikebo. Dia tewas setelah peluru menembus dagunya.
Dalam kondisi yang disebut Herman penuh ketakutan dan ketegangan itu, sejumlah warga berlarian dari arah terminal dan dari arah Gereja Katolik Santa Maria Imaculata menuju ke dalam Sekretariat Kantor Bupati.
"Karena di kantor ini ada pagar besi, jadi warga mau berlindung di situ," kata Herman.

Keterangan gambar,Ruas Jalan Tengah Moenemani, Dogiyai, dalam keadaan masih dipalang, Kamis, 2 April 2026.
Kurang dari 10 menit usai kedatangan para warga itu, Herman kembali mengecek ponselnya. Di grup Whatsapp, dia melihat foto jenazah perempuan tua dengan darah di sekitarnya.
"Itu foto mama Ester," ujar Herman.
Ester adalah panggilan untuk perempuan berumur 70-an tahun, yang bernama Yulita Pigai. Seperti Siprianus Tibakoto, Yulita juga warga Kampung Ikebo.
Yulita Pigai tewas dengan luka tembak di bagian perut. Yulita kehilangan nyawa di dalam rumahnya, ketika aparat menyisir kampung dan mengejar kelompok pemuda.
Informasi soal kematian Yulita itu disampaikan putranya, Oktavianus Pigai. Kesaksian yang diutarakannya serupa dengan dicatat oleh seorang pengurus gereja dan Solidaritas Rakyat Papua.
Tak lama setelah jam 12 siang, Herman dan para warga di Sekretariat Kantor Bupati memutuskan pulang. Mereka berjalan beriringan, sekitar 8 sampai 10 orang.
Di setiap rombongan itu, kata Herman, terdapat pegawai berpakaian dinas. "Karena kalau hanya ada yang pakai pakaian biasa, kami nanti dicurigai dan ditembak," ujarnya.
Herman dan rombongannya berjalan pulang dengan rute pasar Moanemani, perumahan pegawai dinas, Kampung Mauwa, lalu ke Kampung Ekemanida.

Keterangan gambar,Suasana Kampung Idakotu, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai.
Jelang masuk Ekemanida, Herman bertemu sekelompok pemuda. Mereka menutup jembatan yang menjadi akses masuk Ekemanida dengan batu dan balok.
"Kalau mau pulang, pulang terus. Jangan kembali ke sini lagi," kata Herman, mengulang pernyataan seorang pemuda kepadanya.
Namun hari itu Herman tidak pulang ke Ekemanida. Bersama kerabatnya, Herman berjalan lebih jauh ke dataran yang lebih tinggi—ke Kampung Idakotu.
Herman menghabiskan hari di Idakotu, sambil mengurus kebun kopi keluarganya. Pada malam hari, dia melihat setidaknya empat pesawat nirawak (drone) kepolisian terbang di kampungnya.
Herman juga terus-menerus mendengar suara tembakan. Di jeda antara tembakan itu Herman mendengar para pemuda meneriakkan yel-yel dalam bahasa Mee, "yuu waita...yuu...yuu...yuu".
"Terdengar saling balas-membalas antara suara anak-anak muda dengan tembakan aparat," ujar Herman. Suara-suara itu Herman dengar sampai dia tertidur.

Keterangan gambar,Kebakaran di sebuah bangunan di pusat Dogiyai, 31 Maret 2026.
Pagi hari, 1 April, Herman telah bangun dan berniat membabat rerumputan di depan rumahnya. Namun dia melihat sejumlah tetangganya berkumpul di sebuah rumah, dekat balai desa.
"Saya melihat beberapa mama-mama menangis," ujarnya. Seorang bapak lalu berjalan melewati Herman. "Anak, hari ini jangan pergi. Tetangga kita meninggal," ujar laki-laki paruh baya itu kepada Herman.
Herman kaget bukan main. Tetangganya yang meninggal itu adalah Martinus Yobee, anak laki-laki berumur 12 tahun.
Herman selalu mengingat Martinus sebagai salah satu orang pertama yang menolongnya saat hendak memulai operasional PAUD dan TK di Ekemanida, lima tahun silam.
Namun pagi itu Herman tak bisa lagi melihat jenazah Martinus. Pihak keluarga memakamkan Martinus saat subuh.
Adat-istiadat orang Mee, kata Herman, mewajibkan keluarga mengubur saudara dan kerabat yang meninggal dalam perang sebelum matahari kembali terbit.

Keterangan gambar,Para kerabat Martinus Yobee, beberapa jam usai pemakaman anak berumur 12 tahun itu, 1 April 2026.
Pagi itu Herman menemui Mariana—kakak perempuan Martinus yang bekerja sebagai guru di yayasan pendidikan Katolik.
"Eiii, noukai…ani puto," kata Mariana kepada Herman. Kata-kata itu didengar Mariana dari kawan Martinus, yang menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan pemuda itu.
Kalimat dalam bahasa Mee itu berarti, "Aduh mama..usus perut saya."
Martinus adalah korban penembakan aparat yang fotonya beredar di berbagai grup Whatsapp warga Dogiyai—yang kemudian menyebar luas ke berbagai penjuru.
Dalam foto itu, Martinus meninggal dengan posisi tangan memegang perut. Bagian bawah perutnya sobek. Usus Martinus keluar dari perutnya yang menganga itu.

Keterangan gambar,Unggahan kepolisian yang menuding foto jenazah Martinus Yobee sebagai kabar bohong.
Pada 6 April lalu, Polda Papua Tengah dan Polres Dogiyai menyatakan foto jenazah Martinus dengan kondisi usus yang keluar dari perut itu sebagai hoaks.
"Narasi yang menyebutkan bahwa kejadian dalam gambar tersebut terjadi pada tanggal 31 Maret di Dogiyai ini adalah tidak benar. Gambar tersebut adalah foto lama," tulis kepolisian dalam media sosial mereka.
Dua institusi itu, dalam unggahan tersebut, juga menegasikan pemberitaan terkait kericuhan Dogiyai yang ditayangkan salah satu media massa terbesar di Papua, yaitu Jubi.
Klaim kepolisian itu tidak sesuai dengan kesaksian Herman, tapi juga pernyataan Markus Auwe, Kepala Distrik Kamuu.
"Foto yang beredar itu benar foto Martinus Yobee," kata Markus.
BBC meminta tanggapan Kapolsek Kamuu, Iptu Aiem Yusuf soal tuduhan hoaks yang tak sesuai dengan kesaksian orang-orang yang mengenal Martinus. Namun Yusuf meminta kami menghubungi Polda Papua Tengah.
"Mereka yang viralkan. Saya tidak bisa klarifikasi," ujarnya.
BBC telah mengontak Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini. Tiga hari telah berlalu sampai berita ini ditayangkan, tapi Jeremias tidak merespons pertanyaan kami.
Kisah hidup Martinus Yobee dan Yulita Pigai
Martinus adalah anak bungsu di keluarganya. Dia memiliki empat saudara kandung.
Martinus tertembak di belakang kantor Dukcapil Dogiyai, sekitar 350 meter dari SD Negeri Moanemani—tempatnya pernah mengenyam pendidikan. Informasi ini dikatakan Yulianus Goo, paman Martinus.
Yulianus berkata, Martinus pagi itu baru saja membantu mamanya mencari kayu bakar untuk keperluan dapur. Martinus mengambil kayu bersama sejumlah kawannya.
"Setelah membantu orang tua, dia turun ke jalan raya untuk main-main, tapi ternyata baku dapat dengan kejadian perang," kata Yulianus. "Oleh sebab itu dia mencari perlindungan dari aparat di belakang Dukcapil."

Keterangan gambar,Satu-satunya potret Martinus Yobee yang masih tersimpan di ponsel milik kerabatnya.
Namun "di tempat perlindungan itu" pula Martinus tertembak. Yulianus berkata, dua perempuan dewasa—kerabat Martinus—menjadi saksi mata kematiannya karena berada pada lokasi yang sama.
"Aparat buang senjata kiri-kanan, tidak memandang apakah ada orang atau tidak di sekitar itu. Maka itu Martinus kena di bagian perut," kata Yulianus.
Kematian Martinus memukul keluarganya. Martinus diingat sebagai anak yang selalu membantu keluarga.
"Dia membantu bapak punya pekerjaan, seperti mencari kayu atau membuat pagar. Dia juga tidak lupa terhadap mama, kerja kebun seperti mengangkat bedeng atau ubi ke rumah," ujar Yulianus.
https://www.bbc.com/indonesia/articl...471m079zlo.amp
lanjutannya di bawah
Sumber gambar,Polda Papua Tengah
Keterangan gambar,Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini, bertemu perwakilan masyarakat Dogiyai, Kamis (09/04).
Jeremias berkunjung ke Dogiyai, Kamis (09/04). Dia bertemu sejumlah perwakilan masyarakat.
"Tidak pernah ada instruksi untuk melakukan penembakan terhadap masyarakat sipil," ujar Jeremias dalam keterangan tertulis yang dibagikan Humas Polda Papua Tengah.
"Kami membuka ruang seluas-luasnya untuk menampung aspirasi masyarakat serta berkomitmen untuk menyampaikan perkembangan penanganan masalah secara terbuka kepada publik," kata Jeremias.
Selama satu pekan, BBC menelusuri bagaimana kericuhan di Dogiyai terjadi. Kami mewawancarai sejumlah saksi mata sekaligus mengumpulkan dokumentasi visual terkait peristiwa mematikan itu.
Kami memilih untuk tidak menampilkan sejumlah foto dan video itu atas pertimbangan etik dan menjaga kenyamanan para pembaca.
Herman Degei adalah pemuda keturunan adat Mee yang selama beberapa tahun terakhir bekerja di sebuah sekolah di Kampung Ekemanida, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai. Dia berada di Sekretariat Kantor Bupati Dogiyai pada 31 Maret pagi.
Sekitar pukul 10 pagi, Herman melihat dua pegawai berbaju dinas datang dalam kepanikan. "Wah dong (mereka) ada tembak-tembakan lagi," begitu perkataan salah satu pegawai yang diingat Herman.
Pegawai tersebut lalu menunjukkan foto yang beredar di sejumlah grup Whatsapp. Foto itu memperlihatkan polisi bernama Juventus Edowai, yang berpangkat brigadir dua, sudah tak bernyawa.
Kepanikan menyebar di antara mereka, tapi rasa heran juga menyeruak.
"Tidak banyak darah di lokasi itu, padahal lehernya seperti ditusuk pisau," kata Herman. "Kalau dia ditusuk di situ, seharusnya kan ada banyak darah," ujarnya.
Kepala Distrik Kamuu, Markus Awue, pada waktu yang sama juga mendapat informasi tentang jenazah Juventus Edowai.
Kala itu Markus sedang mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Otonomi Khusus Dogiyai di Aula Koteka Moge—berjarak sekitar 200 meter dari tempat Herman berada.
Di tengah diskusi untuk mencari strategi terbaik meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan terhadap masyarakat asli Papua, Markus menerima pesan dari Kapolsek Kamuu, Iptu Aiem Yusuf.

Sumber gambar,Polres Dogiyai
Markus bilang, Yusuf mengabarkan penemuan jenazah di dalam parit, di depan gereja Gereja Kemah Injili Indonesia (Kingmi) Ebenezer. "Kapolsek mengajak saya untuk jalan ke lokasi, memastikan masalah ini," ucapnya.
Perjalanan Markus dan Yusuf berlangsung singkat karena jarak Aula Koteka Moge dan Gereja Kingmi Ebenezer hanya sekitar 500 meter.
Namun akhirnya hanya Yusuf yang bisa benar-benar melihat jenazah Juventus Edowai. Markus bilang, lokasi itu dipenuhi polisi dan salah satu dari mereka menghadangnya.
"Saya bilang saya kepala distrik, kepala wilayah, dan kehadiran saya adalah kehadiran pemerintah," kata Markus.
Situasi memanas. Markus berpikir dua kali untuk melanjutkan perdebatan.
"Dalam situasi seperti itu mereka bisa kehilangan akal sehat. Kalau mereka lepas peluru, saya bisa kena," ucapnya.
Markus memilih mundur. Di jalanan, dia menghampiri para perempuan yang berjualan di pasar untuk segera pulang.
Markus berputar ke beberapa kampung, seperti Ekemanida, Idakoto, Mawa, dan Ikebo. Dia berpesan kepada warga yang ditemuinya "untuk menjaga situasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan."

Sumber gambar,Polda Papua Tengah
Keterangan gambar,Patroli aparat kepolisian di Kampung Ekemanida, Dogiyai, 2 April 2026.
Setibanya di rumah, Markus mendapat pesan dari Bupati Dogiyai, Yudas Tebai. Yudas memerintahkan Markus untuk datang ke lokasi penemuan jenazah Juventus Edowai.
Mengingat penghadangan yang dia alami beberapa menit sebelumnya, Markus menghubungi Iptu Aiem Yusuf. Dia menjelaskan perintah yang dia terima dari Yudas.
Di ujung telepon, kata Markus, Yusuf berkata telah berkoordinasi dengan aparat di sekitar Gereja Kingmi Ebenezer. "Kapolsek bilang sudah aman," kata Markus.
Dalam perjalanan, Markus bertemu Alex Waine. Dia mengajak Alex untuk bersama-sama menuju ke depan Gereja Kingmi Ebenezer.
Seperti Markus, Alex adalah laki-laki muda berdarah Mee—komunitas adat terbesar di Dogiyai. Dia berprofesi sebagai jurnalis di media massa lokal.
Sebelum bertemu Markus di tengah jalan, Alex sudah merasa terpanggil untuk melakukan kerja-kerja jurnalistik: datang ke lokasi penemuan jenazah Jufentus Edowai.
"Saya bertemu kepala distrik. Lokasi kejadian itu memang wilayah kerjanya. Dia selalu kontrol," ujar Alex.
Alex dan Markus mengendarai sepeda motor mereka masing-masing. Sekitar satu kilometer dari Gereja Kingmi Ebenezer, Alex melihat aparat kepolisian telah tersebar di sepanjang Jalan Trans Nabire—akses utama Dogiyai, sekaligus jalan menuju gereja tersebut.
Saat itu tidak ada lagi aktivitas masyarakat di jalanan tersebut. Selain aparat, Alex melihat sejumlah kelompok laki-laki muda. Mereka berdiri di jalan-jalan menuju perkampungan.
Dalam situasi itu, tembakan aparat terdengar berturut-turut, kata Alex.
Beberapa menit sebelumnya, Pastor Yeskiel Belau baru saja melalui Jalan Trans Nabire itu. Di atas motornya, dia melewati terminal yang berjarak sekitar 300 meter dari Gereja Kingmi Ebenezer.
"Saya melihat mobil polisi melaju ke arah saya dengan kecepatan tinggi, jadi saya segera ke pinggir," kata Yeskiel.
"Mobil itu berjalan menuju pasar dan rumah sakit," tuturnya. Rumah sakit yang dia maksud adalah RSUD Dogiyai, selemparan batu di seberang Gereja Kingmi Ebenezer.
Yeskiel melanjutkan perjalanannya menuju pastoran di Gereja Katolik Santa Maria Imaculata.

Setibanya di sana, Yeskiel menghubungi suster pimpinan di gereja tersebut. "Ada kekacauan di Moanemani," kata suster itu kepada Yeskiel.
Yeskiel lalu melangkah ke pinggir jalan. Di situ Yeskiel melihat mobil polisi yang berpapasan dengannya sebelumnya.
"Kantong jenazah dibaringkan di belakang mobil, diapit beberapa polisi yang duduk dan berdiri," ujarnya.
"Saya melihat mobil itu melaju ke depan Polres. Beberapa polisi naik dan mobil itu kembali ke jalan lagi," kata Yeskiel.
Kantor Polres Dogiyai tepat berada di seberang kanan Santa Maria Imaculata.
Dalam situasi itu, Yeskiel mendengar suara tembakan dari arah terminal, rumah sakit, dan pasar. Dia melihat sejumlah perempuan yang berjualan di pinggir jalan berlarian pulang.
"Saya saat itu juga lari dengan motor ke arah Mapia," kata Yeskiel.

Keterangan gambar,Foto yang dibagikan Polda Papua Tengah memperlihatkan aparat bersenjata lengkap di salah satu jalan utama Dogiyai. Batu-batu diletakkan warga di tengah jalan dengan klaim mencegah patroli dan penembakan aparat.
Dalam kekacauan itulah Alex Waine dan Markus Awue berusaha menuju lokasi jenazah Juventus Edowai di depan Gereja Kingmi Ebenezer.
Namun sekitar 100 meter dari Gereja Kingmi Ebenezer, sang wartawan dan kepala distrik ini dihentikan seorang polisi—yang mereka identifikasi dengan nama William, merujuk nama yang tertera di seragamnya.
"Dia sempat katakan intimidasi atau ancaman," kata Markus.
"Masyarakat harus cepat ungkap pelaku, kalau tidak kami akan meratakan, habiskan warga," ujar Markus mengulang kata-kata polisi itu.
Belakangan, pada 5 April, Iptu Aiem Yusuf meminta maaf atas intimidasi yang diterima Markus dan Alex. Dia menyebut polisi bernama William itu bukan anggota Polsek Kamuu, tapi polisi di bawah Polres Dogiyai.
"Jujur bukan karena saya anak Papua, saya tahu pemuda-pemuda di sini, saya sangat dekat dengan mereka. Perilaku anggota polisi ini tidak benar, tidak profesional," ujarnya kepada wartawan Tribunnews Papua.
[mg]https://ichef.bbci.co.uk/ace/ws/689/cpsprodpb/1c48/live/8518e720-33f2-11f1-8606-05fe34b06e1b.jpg.webp[/img]
Keterangan gambar,Kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Dogiyai.
Pada 31 Maret siang, suara tembakan semakin intensif terdengar di pusat Dogiyai. Berbagai grup Whatsapp warga penuh pembicaraan, sampai sebuah foto jenazah laki-laki muda dengan luka tembak tersebar.
Herman Degei, yang bersama para ASN memilih bertahan di kantor Sekretariat Bupati ketimbang bertemu aparat di jalanan, melihat foto tersebut.
"Itu jenazah Siprianus Tibakoto," ujar Herman, yang belakangan mengetahui identitas warga sipil itu.
Merujuk data yang dikumpulkan Solidaritas Rakyat Papua Kabupaten Dogiyai, Siprianus adalah pemuda 19 tahun dari Kampung Ikebo. Dia tewas setelah peluru menembus dagunya.
Dalam kondisi yang disebut Herman penuh ketakutan dan ketegangan itu, sejumlah warga berlarian dari arah terminal dan dari arah Gereja Katolik Santa Maria Imaculata menuju ke dalam Sekretariat Kantor Bupati.
"Karena di kantor ini ada pagar besi, jadi warga mau berlindung di situ," kata Herman.

Keterangan gambar,Ruas Jalan Tengah Moenemani, Dogiyai, dalam keadaan masih dipalang, Kamis, 2 April 2026.
Kurang dari 10 menit usai kedatangan para warga itu, Herman kembali mengecek ponselnya. Di grup Whatsapp, dia melihat foto jenazah perempuan tua dengan darah di sekitarnya.
"Itu foto mama Ester," ujar Herman.
Ester adalah panggilan untuk perempuan berumur 70-an tahun, yang bernama Yulita Pigai. Seperti Siprianus Tibakoto, Yulita juga warga Kampung Ikebo.
Yulita Pigai tewas dengan luka tembak di bagian perut. Yulita kehilangan nyawa di dalam rumahnya, ketika aparat menyisir kampung dan mengejar kelompok pemuda.
Informasi soal kematian Yulita itu disampaikan putranya, Oktavianus Pigai. Kesaksian yang diutarakannya serupa dengan dicatat oleh seorang pengurus gereja dan Solidaritas Rakyat Papua.
Tak lama setelah jam 12 siang, Herman dan para warga di Sekretariat Kantor Bupati memutuskan pulang. Mereka berjalan beriringan, sekitar 8 sampai 10 orang.
Di setiap rombongan itu, kata Herman, terdapat pegawai berpakaian dinas. "Karena kalau hanya ada yang pakai pakaian biasa, kami nanti dicurigai dan ditembak," ujarnya.
Herman dan rombongannya berjalan pulang dengan rute pasar Moanemani, perumahan pegawai dinas, Kampung Mauwa, lalu ke Kampung Ekemanida.

Keterangan gambar,Suasana Kampung Idakotu, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai.
Jelang masuk Ekemanida, Herman bertemu sekelompok pemuda. Mereka menutup jembatan yang menjadi akses masuk Ekemanida dengan batu dan balok.
"Kalau mau pulang, pulang terus. Jangan kembali ke sini lagi," kata Herman, mengulang pernyataan seorang pemuda kepadanya.
Namun hari itu Herman tidak pulang ke Ekemanida. Bersama kerabatnya, Herman berjalan lebih jauh ke dataran yang lebih tinggi—ke Kampung Idakotu.
Herman menghabiskan hari di Idakotu, sambil mengurus kebun kopi keluarganya. Pada malam hari, dia melihat setidaknya empat pesawat nirawak (drone) kepolisian terbang di kampungnya.
Herman juga terus-menerus mendengar suara tembakan. Di jeda antara tembakan itu Herman mendengar para pemuda meneriakkan yel-yel dalam bahasa Mee, "yuu waita...yuu...yuu...yuu".
"Terdengar saling balas-membalas antara suara anak-anak muda dengan tembakan aparat," ujar Herman. Suara-suara itu Herman dengar sampai dia tertidur.

Keterangan gambar,Kebakaran di sebuah bangunan di pusat Dogiyai, 31 Maret 2026.
Pagi hari, 1 April, Herman telah bangun dan berniat membabat rerumputan di depan rumahnya. Namun dia melihat sejumlah tetangganya berkumpul di sebuah rumah, dekat balai desa.
"Saya melihat beberapa mama-mama menangis," ujarnya. Seorang bapak lalu berjalan melewati Herman. "Anak, hari ini jangan pergi. Tetangga kita meninggal," ujar laki-laki paruh baya itu kepada Herman.
Herman kaget bukan main. Tetangganya yang meninggal itu adalah Martinus Yobee, anak laki-laki berumur 12 tahun.
Herman selalu mengingat Martinus sebagai salah satu orang pertama yang menolongnya saat hendak memulai operasional PAUD dan TK di Ekemanida, lima tahun silam.
Namun pagi itu Herman tak bisa lagi melihat jenazah Martinus. Pihak keluarga memakamkan Martinus saat subuh.
Adat-istiadat orang Mee, kata Herman, mewajibkan keluarga mengubur saudara dan kerabat yang meninggal dalam perang sebelum matahari kembali terbit.

Keterangan gambar,Para kerabat Martinus Yobee, beberapa jam usai pemakaman anak berumur 12 tahun itu, 1 April 2026.
Pagi itu Herman menemui Mariana—kakak perempuan Martinus yang bekerja sebagai guru di yayasan pendidikan Katolik.
"Eiii, noukai…ani puto," kata Mariana kepada Herman. Kata-kata itu didengar Mariana dari kawan Martinus, yang menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan pemuda itu.
Kalimat dalam bahasa Mee itu berarti, "Aduh mama..usus perut saya."
Martinus adalah korban penembakan aparat yang fotonya beredar di berbagai grup Whatsapp warga Dogiyai—yang kemudian menyebar luas ke berbagai penjuru.
Dalam foto itu, Martinus meninggal dengan posisi tangan memegang perut. Bagian bawah perutnya sobek. Usus Martinus keluar dari perutnya yang menganga itu.

Keterangan gambar,Unggahan kepolisian yang menuding foto jenazah Martinus Yobee sebagai kabar bohong.
Pada 6 April lalu, Polda Papua Tengah dan Polres Dogiyai menyatakan foto jenazah Martinus dengan kondisi usus yang keluar dari perut itu sebagai hoaks.
"Narasi yang menyebutkan bahwa kejadian dalam gambar tersebut terjadi pada tanggal 31 Maret di Dogiyai ini adalah tidak benar. Gambar tersebut adalah foto lama," tulis kepolisian dalam media sosial mereka.
Dua institusi itu, dalam unggahan tersebut, juga menegasikan pemberitaan terkait kericuhan Dogiyai yang ditayangkan salah satu media massa terbesar di Papua, yaitu Jubi.
Klaim kepolisian itu tidak sesuai dengan kesaksian Herman, tapi juga pernyataan Markus Auwe, Kepala Distrik Kamuu.
"Foto yang beredar itu benar foto Martinus Yobee," kata Markus.
BBC meminta tanggapan Kapolsek Kamuu, Iptu Aiem Yusuf soal tuduhan hoaks yang tak sesuai dengan kesaksian orang-orang yang mengenal Martinus. Namun Yusuf meminta kami menghubungi Polda Papua Tengah.
"Mereka yang viralkan. Saya tidak bisa klarifikasi," ujarnya.
BBC telah mengontak Kapolda Papua Tengah, Brigjen Jeremias Rontini. Tiga hari telah berlalu sampai berita ini ditayangkan, tapi Jeremias tidak merespons pertanyaan kami.
Kisah hidup Martinus Yobee dan Yulita Pigai
Martinus adalah anak bungsu di keluarganya. Dia memiliki empat saudara kandung.
Martinus tertembak di belakang kantor Dukcapil Dogiyai, sekitar 350 meter dari SD Negeri Moanemani—tempatnya pernah mengenyam pendidikan. Informasi ini dikatakan Yulianus Goo, paman Martinus.
Yulianus berkata, Martinus pagi itu baru saja membantu mamanya mencari kayu bakar untuk keperluan dapur. Martinus mengambil kayu bersama sejumlah kawannya.
"Setelah membantu orang tua, dia turun ke jalan raya untuk main-main, tapi ternyata baku dapat dengan kejadian perang," kata Yulianus. "Oleh sebab itu dia mencari perlindungan dari aparat di belakang Dukcapil."

Keterangan gambar,Satu-satunya potret Martinus Yobee yang masih tersimpan di ponsel milik kerabatnya.
Namun "di tempat perlindungan itu" pula Martinus tertembak. Yulianus berkata, dua perempuan dewasa—kerabat Martinus—menjadi saksi mata kematiannya karena berada pada lokasi yang sama.
"Aparat buang senjata kiri-kanan, tidak memandang apakah ada orang atau tidak di sekitar itu. Maka itu Martinus kena di bagian perut," kata Yulianus.
Kematian Martinus memukul keluarganya. Martinus diingat sebagai anak yang selalu membantu keluarga.
"Dia membantu bapak punya pekerjaan, seperti mencari kayu atau membuat pagar. Dia juga tidak lupa terhadap mama, kerja kebun seperti mengangkat bedeng atau ubi ke rumah," ujar Yulianus.
https://www.bbc.com/indonesia/articl...471m079zlo.amp
lanjutannya di bawah
Diubah oleh mabdulkarim 10-04-2026 14:37
realmehpjtbn170 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
131
5
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan