Kaskus

News

satuklikAvatar border
TS
satuklik
Puisi, Ketika Lelaki Portugis Mencintai Putri Ternate
Cinta Portugis Tersinga di Ternate
Puisi, Ketika Lelaki Portugis Mencintai Putri Ternate Doc,
Karyan: Wandi G. Naipon


Di abad ketika layar-layar putih
membelah dada Laut Halmahera,
Diego Alvarez turun dari kapal dengan mata penuh peta,
lelaki dari Portugal
yang diajari bahwa dunia bisa dimiliki
selama pedang cukup tajam dan meriam cukup lantang.

Pelabuhan Ternate berbau cengkih dan keringat,
di bawah bayang gagah Gunung Gamalama
yang berdiri seperti penjaga langit timur.
Di sanalah ia melihat Siti Aisyah,
putri tanah Maluku Utara,
yang langkahnya setenang doa subuh dan seteguh batu karang.

Namun tanah ini bukan halaman kosong.
Ia pernah bergetar oleh sumpah para sultan,
oleh takbir dan denting perang
di masa Kesultanan Ternate
dan saudara tuanya, Kesultanan Tidore,
yang menjaga harga diri lebih mahal dari emas Eropa.

Aisyah tumbuh dengan kisah-kisah luka:
tentang benteng yang dibangun dengan paksa,
tentang perjanjian yang ditulis dengan tipu,
tentang laut yang memerah oleh ambisi.
Ia tahu, cinta pada lelaki asing
bisa berarti mengkhianati air mata leluhur.

Tetapi malam kadang lebih jujur dari siang.
Di antara aroma pala dan suara ombak,
Diego mengaku, “Aku datang untuk menguasai,
namun negerimu membuatku merasa kecil.”
Pedangnya terasa berat,
seolah baja itu malu pada ketulusan matanya.

Pada suatu senja yang merah seperti sejarah,
ia menancapkan pedang itu ke tanah rempah,
bukan sebagai tanda penjajahan,
melainkan pengakuan bahwa cinta tak bisa ditaklukkan.
Dan bumi Maluku Utara berbisik lirih:
bahwa bahkan baja pun bisa luluh
jika belajar menghormati tanah yang dicintainya.
0
9
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan