Kaskus

Entertainment

ochuqueenaAvatar border
TS
ochuqueena
Antara Kita, Spasi dan Tombol Mute - Kita Tidak Hilang Tapi Sudah Tidak Ada
Quote:


Gue cuma mau cerita dikit. Bukan soal drama selingkuh atau berantem hebat sampai lempar piring. Ini cuma soal gimana dua orang yang dulu tahu warna kaus kaki favorit masing-masing, sekarang bahkan nggak tahu apa yang lagi dipikirkan satu sama lain sebelum tidur.

Nama dia Maya. Nama yang pendek, gampang diingat, tapi belakangan ini jadi kata yang paling berat buat gue sebut di depan temen-temen.

Kita mulai semuanya dari sebuah kedai kopi pinggir jalan yang lampunya remang-remang tapi kopinya juara. Dulu, hampir tiap Sabtu malem, sudut meja nomor empat itu jadi saksi gimana kita ngebahas dari hal paling nggak penting kayak "kenapa kucing takut timun" sampai rencana cicilan rumah di pinggiran kota.
Maya itu tipe orang yang kalau ketawa, matanya ikut hilang.

Dan gue, adalah orang yang paling bangga kalau jadi alasan di balik hilangnya mata itu. Kita punya dunianya sendiri. Sebuah dunia kecil yang cuma muat dua orang, tanpa gangguan notifikasi, tanpa interupsi dunia luar.

Tapi itu dulu. Sebelum "nanti" berubah jadi "kapan-kapan", dan "kapan-kapan" berubah jadi hening.

Semua keretakan ini nggak datang lewat ledakan. Nggak ada suara pecah. Semuanya pelan banget, kayak air yang ngerembes di dinding pas musim hujan. Awalnya cuma noda kecil, lama-lama bikin roboh.

Puncaknya adalah sore itu di stasiun. Kita lagi nunggu kereta masing-masing. Gue mau balik ke kontrakan, dia mau ke rumah orang tuanya.

Gue ngelihat dia lagi sibuk scroll TikTok. Cahaya layarnya mantul di kacamata dia. Gue duduk persis di sampingnya, bahu kita bahkan sesekali bersentuhan pas ada orang lewat. Tapi aneh, gue ngerasa jarak antara gue sama dia itu jauh lebih lebar daripada jarak Jakarta ke London.

"May," panggil gue pelan.
"Hm?" Dia nggak nengok. Jempolnya masih asyik geser video orang joget.
"Besok mau makan siang bareng?"
Dia diem sebentar. Jempolnya berhenti. "Besok kayaknya aku sibuk deh, ada *meeting* sama klien sampai sore. Lain kali aja ya?"

Kalimat "lain kali" itu keluar datar banget. Tanpa rasa bersalah, tanpa usaha buat nyari jadwal pengganti. Di situ gue sadar, prioritas gue di hidup dia udah turun kasta. Dari yang tadinya "wajib ada" jadi "kalau sempat aja".

Gue nggak marah. Gue cuma ngerasa... kosong. Gue ngelihat tangan dia yang nggak lagi nyari tangan gue buat digenggam. Gue ngelihat gimana dia lebih nyaman berdialog sama layar 6 inci itu daripada sama orang yang ada di sebelahnya.

Malemnya, gue nggak bisa tidur. Gue buka galeri foto. Di sana masih banyak foto kita. Foto pas dia belepotan makan es krim, foto pas kita kehujanan di motor, foto pas kita pertama kali ngerayain ulang tahun hubungan.

Gue ngelihat foto-foto itu dan ngerasa aneh. Itu memang wajah gue, itu memang wajah dia. Tapi orang-orang di foto itu... kayak udah nggak ada. Mereka kayak karakter fiksi dari sebuah buku yang udah tamat, sementara gue dan Maya yang sekarang adalah orang asing yang kebetulan mewarisi wajah dan nama mereka.

Gue coba ngetik chat.
*“May, kamu ngerasa ada yang beda nggak sih?”*
Gue hapus. Terlalu *cheesy*.
*“May, kita sebenernya kenapa?”*
Gue hapus lagi. Terlalu nuntut.
Akhirnya gue cuma kirim: *“Jangan lupa minum air putih yang banyak, cuaca lagi panas.”*
Dia cuma bales: *“Sip. Kamu juga.”*

Tiga kata. Singkat, padat, dan mematikan. Di situ gue evaluasi diri. Berapa banyak dari kita yang bertahan dalam hubungan cuma karena "sayang memorinya", bukan "sayang orangnya"? Gue sadar, gue lagi meluk bayangan. Gue lagi maksa nahan seseorang yang jiwanya udah lama check-out, tapi raganya masih ketinggalan di lobi.

Kita nggak hilang, May. Kamu masih ada di kontak WhatsApp-ku. Aku masih sering lihat update IG Story-mu. Tapi kita yang dulu—kita yang satu frekuensi, kita yang selalu punya bahan obrolan—itu sudah nggak ada. Kita cuma dua orang yang gagal mempertahankan apa yang kita bangun, dan sekarang terjebak di reruntuhannya karena nggak tahu cara buat pergi.

Dua minggu kemudian, kita sepakat buat ketemu terakhir kali. Bukan buat balikan, tapi buat saling mengakui kalau ini sudah selesai. Kita ketemu di kedai kopi yang sama, di meja nomor empat yang sama.
Lucunya, suasananya masih sama. Aroma kopinya, lagu indie yang diputar lewat speaker tua itu, bahkan abang parkirnya masih orang yang sama. Yang beda cuma kita.

"Aku rasa kita udah sampai di titik di mana kita cuma saling menyakiti dengan cara bertahan," kata Maya pelan. Akhirnya, dia nengok ke mata gue. Matanya nggak ketawa lagi. Ada lelah yang dalam di sana.
Gue narik napas panjang. "Iya. Kita kayak lagi main tarik tambang, tapi sebenernya talinya udah putus di tengah. Kita cuma megangin sisa-sisanya doang."

Maya senyum tipis. Senyum yang paling sedih yang pernah gue lihat. "Aneh ya. Aku masih sayang kamu, tapi aku udah nggak bisa jalan sama kamu lagi. Rasanya... sesak."

Gue ngangguk. "Enggak apa-apa, May. Mungkin emang ada bagian dari hidup kita yang emang diciptakan buat jadi kenangan, bukan buat jadi masa depan."

Sore itu, kita pesen kopi paling pait. Kita nggak banyak ngomong setelah itu. Kita cuma duduk, ngelihat kendaraan yang lewat, sambil sesekali curi pandang ke arah masing-masing. Itu adalah keheningan paling jujur yang pernah kita punya selama setahun terakhir. Nggak ada pura-pura sibuk sama HP. Cuma ada gue, dia, dan kenyataan kalau besok, nggak akan ada lagi kata "kita".

Pas mau balik, gue nganter dia ke parkiran.
"Hati-hati ya," kata gue.
"Kamu juga," bales dia.
Dia masuk ke mobilnya, gue naik ke motor gue. Kita jalan ke arah yang berlawanan.

Gue ngelihat spion, ngelihat lampu belakang mobilnya pelan-pelan menjauh dan akhirnya hilang di tikungan.
Sekarang, sebulan setelah kejadian itu, gue masih sering nggak sengaja buka profil dia. Dia kelihatan bahagia. Postingannya penuh sama kerjaan baru, temen-temen baru, dan senyum yang... ya, senyum yang sama kayak dulu.

Gue nggak ngeblok dia. Dia juga nggak ngeblok gue. Kita masih berteman di media sosial. Kadang gue masih lihat dia "Online". Kadang dia juga masih jadi penonton pertama di story gue.

Tapi ya udah gitu aja.
Ternyata benar, kehilangan yang paling horor itu bukan pas salah satu dari kita meninggal. Tapi pas kita berdua masih sama-sama hidup, masih bisa dihubungi, tapi kita tahu kalau ngirim satu pesan aja rasanya bakal salah banget. Kita udah jadi bagian dari statistik: orang asing yang pernah saling tahu segalanya.

Kita masih ada di dunia ini, tapi kita sudah tidak ada di hidup satu sama lain.

Lucu ya, cara dunia bekerja. Kita menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk saling mengenal, hanya untuk kembali menjadi dua orang yang saling tidak tahu harus bicara apa.

Ternyata, kita tidak butuh menghilang untuk menjadi tiada.
jaya666Avatar border
skinnyhooperAvatar border
blackberry8310Avatar border
blackberry8310 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
2.1K
9
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan