Sampah Bisa Jadi Potensi Besar Sumber Energi Alternatif
Selasa, 7 April 2026 | 19:01 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK

Pemerintah Kota Serang akan mendapatkan dukungan investasi sekitar Rp3 triliun untuk pembangunan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). (Beritasatu.com/Muhamad Fajar Mutaqien)
Jakarta, Beritasatu.com – Pengembangan energi berbasis sampah atau waste to energy (WtE) dinilai dapat mempercepat pencapaian target nol emisi karbon di Indonesia melalui penguatan sistem energi berkelanjutan serta kebijakan terpadu di tingkat daerah.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Purwokerto, Wiwiek Rabiatul, Adawiyah menyampaikan bahwa transisi menuju energi bersih merupakan tuntutan global yang harus direspons melalui inovasi serta kebijakan yang adaptif.
Menurut dia, komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat membutuhkan transformasi mendasar dalam sistem energi nasional, termasuk pemanfaatan sumber energi alternatif.
“Pengembangan energi dari sampah memiliki potensi besar karena tidak hanya mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga mendukung penyediaan energi terbarukan,” ujar Wiwiek dilansir dari Antara.
Ia menambahkan, penguatan kebijakan di tingkat daerah menjadi faktor penting dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah terpadu dengan pengembangan energi terbarukan berbasis ekonomi sirkular.
Sementara itu, Ketua Bidang VI Pengurus Pusat ISEI Aviliani menekankan pentingnya kolaborasi multipihak untuk menjaga keberlanjutan proyek energi berbasis sampah.
Menurut dia, keterlibatan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam mempercepat implementasi program sekaligus memperluas dampaknya.
Selain itu, dokumentasi praktik baik dari berbagai daerah dinilai perlu diperkuat agar dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan serupa di wilayah lain.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Purwokerto Mahdi Abdillah menyampaikan bahwa pengelolaan sampah berbasis energi di Kabupaten Banyumas menunjukkan perkembangan positif melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Ia menjelaskan optimalisasi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) mampu menghasilkan berbagai produk seperti refuse derived fuel (RDF), kompos, serta material daur ulang yang memiliki nilai ekonomi.
“Program ini tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah, tetapi juga berkontribusi terhadap penyediaan energi alternatif dan penguatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.