Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
Pria di Lahat Bunuh & Bakar Ibu Kandung, Jasad Tak Muat Berujung Mutilasi
Sadisnya Pria di Lahat Tega Bunuh & Bakar Ibu Kandung, Jasad Tak Muat Masuk Karung Berujung Mutilasi
Pria di Lahat Bunuh & Bakar Ibu Kandung, Jasad Tak Muat Berujung Mutilasi
Tayang: Rabu, 8 April 2026 14:33 WIB
Penulis: Ehdi Amin | Editor: Slamet Teguh
zoom-inlihat fotoSadisnya Pria di Lahat Tega Bunuh & Bakar Ibu Kandung, Jasad Tak Muat Masuk Karung Berujung Mutilasi
Dokumen/Polres Lahat
DIAMANKAN - Pelaku Saat Diamankan di Polres Lahat. Sadisnya Pria di Lahat Tega Bunuh dan Bakar Ibu Kandung, Tak Muat Masuk Karung Berujung Mutilasi


Laporan Wartawan Sripoku.com, Ehdi Amin

TRIBUNSUMSEL.COM, LAHAT - Sungguh tragis apa yang terjadi pada Siti Anawati (63), warga Desa Karang Dalam, Kecamatan Pulau Pinang, Lahat.

Betapa tidak, Ahmad Fahrozi alias AF (23), yang tak lain anak yang ia lahirkan dan dibesarkannya, tega menghabisi nyawanya.[/b\

Tak hanya itu, AF membunuh ibunya dengan cara yang sangat kejam.

[b]"Ya benar, pelaku mutilasi merupakan anak kandung korban sendiri. Motifnya diduga kuat karena pelaku emosi setelah korban menolak memberikan uang, yang rencananya akan digunakan untuk bermain judi slot,
" terang Kasat Reskrim Polres Lahat, AKP Muhammad Ridho Pradani, S.Pd., S.H., Rabu (8/6/2026).

Peristiwa sadis ini bermula Sabtu, 28 Maret 2026, sekitar pukul 11.00 WIB di Desa Danau Belidang, Kecamatan Mulak Sebingkai, Lahat.

Saat itu, dalam kondisi emosi, pelaku membacok leher korban berkali-kali menggunakan parang hingga kepala korban terputus dari tubuhnya.

Namun, kekejian Ahmad Fahrozi tak berhenti di situ.

Pelaku kemudian pergi mencari bensin dan membakar tubuh korban.

Setelah api padam, jasad korban ditutupi dengan daun-daun agar tidak mudah ditemukan warga.

Tak cukup sampai di situ, pelaku kembali dengan membawa empat karung untuk menghilangkan barang bukti kejahatannya. Karena tubuh korban tidak muat, pelaku dengan tega memutilasi jasad ibunya sendiri, memisahkan bagian tubuh untuk dimasukkan ke dalam karung.

Potongan tubuh korban kemudian dibawa ke Desa Karang Dalam dan disembunyikan di kebun milik pelaku.

Untuk menghilangkan jejak, pelaku bahkan sempat meminta bantuan dua rekannya, Raju dan Nando, untuk menggali lubang dengan dalih pekerjaan kebun, dengan upah Rp300 ribu.

Setelah lubang selesai digali, pelaku mengambil kembali karung berisi potongan tubuh korban dan menguburkannya di lokasi tersebut.

Terungkapnya perilaku sadis Ahmad Fahrozi ini bermula dari kecurigaan keluarga yang tidak melihat korban selama hampir satu pekan.

Keluarga yang mencari hingga ke kebun korban curiga dengan adanya gundukan tanah.

Setelah digali, ternyata ditemukan tiga karung plastik berisi potongan tubuh manusia.

Setelah mendapat laporan itu, Tim Opsnal Jagal Bandit Satreskrim Polres Lahat bergerak cepat dan berhasil menangkap pelaku di sebuah kontrakan di Kelurahan Bandar Agung, Kecamatan Lahat. Pelaku diamankan tanpa perlawanan.

"Alhamdulillah, tak sampai 24 jam dari laporan warga, pelaku sudah berhasil kami tangkap tanpa perlawanan. Pelaku kami jerat Pasal 458 ayat (2) dan (3) UU Nomor 1 Tahun 2023," sampai Muhammad Ridho Pradani.


Kronologi Penemuan Mayat
Kapolres Lahat, AKBP Novi Edyanto, melalui Kasubsi Penmas Humas Polres Lahat, Aiptu Lispono, menerangkan penemuan mayat SA yang diketahui sebagai seorang ibu rumah tangga tersebut pertama kali dilaporkan oleh S (49), anak kandung korban.

Disampaikannya, berdasarkan keterangan saksi, kejadian bermula saat keluarga korban merasa curiga karena korban sudah tidak terlihat selama kurang lebih satu minggu.

"Jadi sudah seminggu tidak terlihat. Upaya pencarian kemudian dilakukan oleh pihak keluarga," sampainya, Rabu (8/4/2026).

Dilanjutkannya, sekira pukul 22.00 WIB, saksi S mendapatkan informasi dari warga berinisial R terkait adanya aktivitas penggalian tanah di kebun milik korban yang dilakukan atas permintaan seseorang berinisial AF.

Menindaklanjuti informasi tersebut, saksi bersama perangkat desa dan warga setempat melakukan pengecekan ke lokasi dan menemukan sebuah lubang yang telah ditimbun kembali.

"Setelah dilakukan penggalian ulang, ditemukan tiga karung plastik yang berisi potongan tubuh manusia yang diduga merupakan bagian tubuh korban," ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Tim Inafis Polres Lahat bersama personel Polsek Pulau Pinang langsung melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengevakuasi jenazah untuk dibawa ke RSUD Lahat guna dilakukan autopsi.

Dari hasil penyelidikan awal, diketahui bahwa terduga pelaku berinisial AF yang merupakan salah satu anggota keluarga korban, saat ini tidak berada di tempat dan belum diketahui keberadaannya.

"Polres Lahat melalui Satuan Reserse Kriminal saat ini terus melakukan pendalaman, termasuk pemeriksaan terhadap saksi-saksi serta pengumpulan alat bukti guna mengungkap secara jelas peristiwa tersebut," terangnya.

https://sumsel.tribunnews.com/sumsel...lasi?page=all.



Kasus Anak Mutilasi Ibu Kandung di Lahat, Kriminolog: Ada Luka Batin dan Emosi yang Tak Stabil
Pria di Lahat Bunuh & Bakar Ibu Kandung, Jasad Tak Muat Berujung Mutilasi
Tayang: Rabu, 8 April 2026 21:25 WIB
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Moch Krisna
zoom-inlihat fotoKasus Anak Mutilasi Ibu Kandung di Lahat, Kriminolog: Ada Luka Batin dan Emosi yang Tak Stabil
Dokumentasi/Warga
MUTILASI -- Anggota Polres Lahat saat melakukan identifikasi terhadap mayat perempuan di Desa Karang Dalam, Kecamatan Pulau Pinang, Lahat, Selasa (7/4/2026) malam. Korbannya ada wanita lansia berinisial SA (63), yang potongan tubuhnya terkubur dalam 3 karung di kebun.



TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kasus tragis seorang anak yang tega membunuh hingga memutilasi ibu kandungnya di Lahat menuai perhatian serius dari berbagai pihak.

Kriminolog sekaligus dosen di Palembang, Dr. Derry Angling Kesuma, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai tindak pidana biasa, melainkan harus ditelusuri dari akar penyebabnya.

Menurut Derry, tindakan menghilangkan nyawa seseorang jelas merupakan kejahatan. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah alasan di balik tindakan tersebut, terlebih jika pelaku adalah anak terhadap orang tuanya sendiri.

“Yang menjadi persoalan adalah mengapa seorang anak bisa sampai membunuh ibunya. Ini berkaitan dengan hubungan emosional antara anak dan orang tua, yang seharusnya dilandasi rasa hormat dan perlindungan,” kata Derry, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa faktor intelektual, psikologis, dan emosional menjadi kunci utama dalam memahami perilaku tersebut. Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan cenderung menginternalisasi pola tersebut hingga dewasa.

“Lingkungan yang keras akan membentuk kebiasaan. Jika sejak kecil anak terbiasa dengan kekerasan, intimidasi, dan emosi yang tidak stabil, maka saat dewasa ia berpotensi menunjukkan perilaku serupa,” jelasnya.

Selain pola asuh, Derry juga menyoroti kemungkinan adanya luka batin seperti sakit hati, kemarahan yang terpendam, hingga pengalaman menjadi korban kekerasan. Hal ini dapat memicu tindakan ekstrem jika tidak pernah ditangani dengan baik.

“Bisa jadi anak tersebut pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan secara berulang. Emosi yang tidak pernah distabilkan, terutama oleh figur terdekat seperti ibu, dapat berkembang menjadi ledakan yang tidak terkendali,” tambahnya.

Ia juga membuka kemungkinan adanya gangguan mental yang tidak berkaitan langsung dengan keluarga, melainkan dipengaruhi lingkungan lain seperti pergaulan atau sekolah. Dalam beberapa kasus, anak dapat menunjukkan kepribadian berbeda di lingkungan yang berbeda.

Terkait tindakan mutilasi, Derry menilai hal itu bisa mengindikasikan pola pikir yang sudah mengarah pada upaya menghilangkan jejak, sebagaimana dilakukan oleh pelaku kejahatan dewasa.

Ke depan, ia menekankan pentingnya peran aparat penegak hukum dan organisasi perangkat daerah yang menangani perlindungan anak untuk tidak hanya fokus pada proses hukum, tetapi juga melakukan pendalaman terhadap kondisi mental dan perkembangan psikologis anak.

“Pendekatan yang komprehensif diperlukan, baik dari sisi hukum maupun psikologis, agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang,” katanya.

(*)

https://sumsel.tribunnews.com/palemb...ng-tak-stabil.


Bukan sekedar gelap mata..


0
135
3
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan