- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah di Titik Terendah, Misbakhun Sebut Kebijakan BI Usang
TS
jaguarxj220
Rupiah di Titik Terendah, Misbakhun Sebut Kebijakan BI Usang
Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai Bank Indonesia (BI) masih menggunakan cara konvensional dan cenderung terlalu berhati-hati dalam menjaga nilai tukar rupiah. Politikus Partai Golkar itu memandang BI harus membuka perspektif lebih kuat dalam menentukan berbagai arah kebijakan moneter yang dijalankan.
Hal ini merespons nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,33% pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Mata uang Nusantara kembali berada di level terendah sepanjang masa, yaitu Rp17.095/US$.
“Saya menemukan cara BI menangani nilai tukar masih sangat konvensional dan terlalu hati-hati. Kebijakan-kebijakan moneter kita kalau menurut saya BI ini perlu membuka perspektif lebih kuat,” kata Misbakhun dalam diskusi ekonomi dikutip Rabu (8/4/2026).
Misbakhun mengaku setiap hari dirinya selalu berdisuksi dengan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti terkait dengan nilai tukar rupiah. Dia juga tak menyangkal bahwa BI melakukan upaya yang sangat serius dalam menjaga nilai tukar rupiah, baik di spot market, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-deliverable forward (NDF) di off-shore market.
Akan tetapi, menurut Misbakhun, dengan kondisi yang dinamis seperti saat ini, cara bank sentral menangani permasalahan masih tidak berubah. “Permasalahannya makin lama makin kompleks, dia [cara BI] tidak berubah,” ujarnya.
Tak hanya itu, Misbakhun juga mempertanyakan mengapa BI tidak mengambil peran lebih agresif sebagai penyedia likuiditas valuta asing (valas). Dia mencontohkan kebutuhan valas Indonesia yang bisa mencapai sekitar US$300 miliar per tahun, yang menurutnya seharusnya bisa diantisipasi sejak awal melalui kontrak besar atau kerja sama strategis tingkat tinggi.
Dia bahkan mendorong adanya pendekatan diplomatik langsung di level kepala negara, seperti pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, guna mengamankan akses likuiditas valas yang lebih kuat.
“Kita tidak punya jalurnya untuk mendapatkan itu, kita hanya punya jalur hedging saja dengan Amerika. Kenapa kita tidak melakukan high level meeting, misalnya Presiden ketemu dengan Trump, Pak Prabowo, untuk meminta liquidity itu?,” jelas dia.
Dengan begitu, lanjut dia, ketika pasar membutuhkan valas dalam bentuk spot atau instrumen lainnya, likuiditas sudah tersedia.
Misbakhun menyadari dirinya memang tidak secara langsung menangani persoalan monitoring, tetapi jika masalah seperti ini terus diselesaikan dengan pendekatan yang sama, maka hasilnya tidak akan optimal.
“Ini yang perlu dilakukan perubahan-perubahan fundamental ini,” tegasnya.
Nilai Wajar Rupiah Rp15.000/US$
Lebih lanjut dia juga mengungkap pandangan bahwa nilai tukar rupiah saat ini kemungkinan berada dalam kondisi undervalued. Berdasarkan diskusinya dengan pelaku pasar, nilai wajar rupiah disebut berada di kisaran Rp15.000/US$ bukan di level Rp17.000/US$.
Menurutnya, pergerakan nilai tukar tidak sepenuhnya didasarkan pada fundamental, melainkan juga sangat dipengaruhi sentimen pasar. Misbakhun memperingatkan dampak langsung pelemahan rupiah terhadap sektor industri nasional yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan nilai tukar akan meningkatkan biaya produksi dan berujung pada kenaikan harga barang.
“Begitu tekanan ini masuk ke harga pokok industri, mereka langsung menaikkan harga. Ini yang perlu konsolidasi lebih kuat,” imbuhnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup terdepresiasi 0,33% di level terendah Rp17.095/US$, yang merupakan posisi penutupan (closing) terlemah nilai tukar rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka.
Pelemahan rupiah selama tiga beruntun terjadi di tengah isu perang AS-Israel terhadap Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah di atas US$100 per barel. Bahkan ada beberapa analis yang telah menguji skema jika harga minyak mentah menembus di level US$200 per barel.
Di tengah upaya intervensi stabilisasi nilai tukar yang dilakukan Bank Indonesia, rupiah melemah bersama peso Filipina di tengah kekhawatiran terkait kondisi fiskal yang semakin melebar.
Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan hari ini berbalik rebound seperti won Korea Selatan, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, rupee India, dolar Singapura, yen Jepang, dolar Taiwan dan Hong Kong.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...akan-bi-usang/
Mau sampai kapan denial, kalau masalahnya bukan di moneter (BI), tapi akarnya di FISKAL (APBN-Kemenkeu)??
Defisit APBN makin gede, ngutang makin banyak.
Bunga (Yield) SBN naik -> efeknya bunga pinjaman bank naik.
IHSG yang merefleksikan sektor swasta juga masih tiarap.
Sementara pertumbuhan ekonomi yg dijanjikan 6% nggak kelihatan wujudnya.
Malah yg kelihatan impor mobil (kopdes), motor (MBG).
Hal ini merespons nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,33% pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Mata uang Nusantara kembali berada di level terendah sepanjang masa, yaitu Rp17.095/US$.
“Saya menemukan cara BI menangani nilai tukar masih sangat konvensional dan terlalu hati-hati. Kebijakan-kebijakan moneter kita kalau menurut saya BI ini perlu membuka perspektif lebih kuat,” kata Misbakhun dalam diskusi ekonomi dikutip Rabu (8/4/2026).
Misbakhun mengaku setiap hari dirinya selalu berdisuksi dengan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti terkait dengan nilai tukar rupiah. Dia juga tak menyangkal bahwa BI melakukan upaya yang sangat serius dalam menjaga nilai tukar rupiah, baik di spot market, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-deliverable forward (NDF) di off-shore market.
Akan tetapi, menurut Misbakhun, dengan kondisi yang dinamis seperti saat ini, cara bank sentral menangani permasalahan masih tidak berubah. “Permasalahannya makin lama makin kompleks, dia [cara BI] tidak berubah,” ujarnya.
Tak hanya itu, Misbakhun juga mempertanyakan mengapa BI tidak mengambil peran lebih agresif sebagai penyedia likuiditas valuta asing (valas). Dia mencontohkan kebutuhan valas Indonesia yang bisa mencapai sekitar US$300 miliar per tahun, yang menurutnya seharusnya bisa diantisipasi sejak awal melalui kontrak besar atau kerja sama strategis tingkat tinggi.
Dia bahkan mendorong adanya pendekatan diplomatik langsung di level kepala negara, seperti pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, guna mengamankan akses likuiditas valas yang lebih kuat.
“Kita tidak punya jalurnya untuk mendapatkan itu, kita hanya punya jalur hedging saja dengan Amerika. Kenapa kita tidak melakukan high level meeting, misalnya Presiden ketemu dengan Trump, Pak Prabowo, untuk meminta liquidity itu?,” jelas dia.
Dengan begitu, lanjut dia, ketika pasar membutuhkan valas dalam bentuk spot atau instrumen lainnya, likuiditas sudah tersedia.
Misbakhun menyadari dirinya memang tidak secara langsung menangani persoalan monitoring, tetapi jika masalah seperti ini terus diselesaikan dengan pendekatan yang sama, maka hasilnya tidak akan optimal.
“Ini yang perlu dilakukan perubahan-perubahan fundamental ini,” tegasnya.
Nilai Wajar Rupiah Rp15.000/US$
Lebih lanjut dia juga mengungkap pandangan bahwa nilai tukar rupiah saat ini kemungkinan berada dalam kondisi undervalued. Berdasarkan diskusinya dengan pelaku pasar, nilai wajar rupiah disebut berada di kisaran Rp15.000/US$ bukan di level Rp17.000/US$.
Menurutnya, pergerakan nilai tukar tidak sepenuhnya didasarkan pada fundamental, melainkan juga sangat dipengaruhi sentimen pasar. Misbakhun memperingatkan dampak langsung pelemahan rupiah terhadap sektor industri nasional yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan nilai tukar akan meningkatkan biaya produksi dan berujung pada kenaikan harga barang.
“Begitu tekanan ini masuk ke harga pokok industri, mereka langsung menaikkan harga. Ini yang perlu konsolidasi lebih kuat,” imbuhnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup terdepresiasi 0,33% di level terendah Rp17.095/US$, yang merupakan posisi penutupan (closing) terlemah nilai tukar rupiah di pasar spot dalam sejarah Indonesia merdeka.
Pelemahan rupiah selama tiga beruntun terjadi di tengah isu perang AS-Israel terhadap Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah di atas US$100 per barel. Bahkan ada beberapa analis yang telah menguji skema jika harga minyak mentah menembus di level US$200 per barel.
Di tengah upaya intervensi stabilisasi nilai tukar yang dilakukan Bank Indonesia, rupiah melemah bersama peso Filipina di tengah kekhawatiran terkait kondisi fiskal yang semakin melebar.
Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan hari ini berbalik rebound seperti won Korea Selatan, yuan China, yuan offshore, baht Thailand, rupee India, dolar Singapura, yen Jepang, dolar Taiwan dan Hong Kong.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...akan-bi-usang/
Mau sampai kapan denial, kalau masalahnya bukan di moneter (BI), tapi akarnya di FISKAL (APBN-Kemenkeu)??
Defisit APBN makin gede, ngutang makin banyak.
Bunga (Yield) SBN naik -> efeknya bunga pinjaman bank naik.
IHSG yang merefleksikan sektor swasta juga masih tiarap.
Sementara pertumbuhan ekonomi yg dijanjikan 6% nggak kelihatan wujudnya.
Malah yg kelihatan impor mobil (kopdes), motor (MBG).
saya.palsu dan MemoryExpress memberi reputasi
2
422
8
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan