Kekayaan SDA Topang Ekonomi Indonesia di Tengah Geopolitik Global 2026
Apr 7, 2026 - 16:45
5 Reads
Salsabila Putri
Author

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun/Foto: Retno Ayuningrum/detikcom
Situasi ekonomi global saat ini diwarnai oleh ketidakpastian, terutama akibat ketegangan geopolitik di berbagai wilayah, termasuk Timur Tengah. Di tengah kondisi tersebut, Indonesia memiliki keuntungan signifikan berupa sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Kekayaan ini, menurut Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, berfungsi sebagai bantalan kuat bagi perekonomian nasional melalui penerimaan pajak.
Misbakhun menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar dunia untuk komoditas seperti Crude Palm Oil (CPO), batu bara, dan nikel. Selain itu, kemampuan negara dalam memproduksi minyak juga turut mendukung ketahanan ekonomi. Pernyataan ini disampaikan Misbakhun dalam acara Outlook Indonesia: Peran Penggerak Ekonomi Nasional, yang diselenggarakan di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Selasa (7/4/2026), dilansir dari Detik Finance.
Acara Outlook Indonesia tersebut merupakan kolaborasi antara Komisi XI DPR RI dan detikcom, didukung oleh berbagai pihak seperti Danantara Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan, Otoritas Jasa Keuangan, serta sejumlah bank BUMN seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Mengenai penerimaan negara, Misbakhun mengamati adanya pertumbuhan penerimaan pajak yang dinilai berada pada jalur positif seiring implementasi sistem Coretax. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa masih terdapat beberapa tantangan terkait sistem Coretax yang memerlukan penyelesaian. "Tetapi manfaat Coretax mulai bisa dirasakan. Penerimaan pajak mulai berada dalam jalur yang banyak," tambah Misbakhun.
Lebih lanjut, Misbakhun menguraikan bahwa pola ekonomi Indonesia seringkali diuntungkan dari kenaikan harga komoditas. Fenomena ini umumnya terjadi saat harga minyak dunia mengalami lonjakan, yang pada gilirannya dapat mengimbangi beban fiskal negara. Hal ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas fiskal.
“Tentunya kalau biasanya dalam setiap krisis, ketika harga minyak naik, pasti diikuti oleh harga komoditas yang naik. Batu bara naik, CPO naik, kemudian karet naik, nikel naik, dan lain-lain,” terang Misbakhun. Ia berharap, kenaikan harga komoditas ini dapat menjadi penutup atau offset jika Indonesia menghadapi default rating. Menurutnya, dalam beberapa krisis sebelumnya, Indonesia termasuk negara yang diuntungkan dari kondisi default rating, dan hal ini diharapkan kembali menjadi bantalan fiskal ke depan.