Kaskus

Story

aurora..Avatar border
TS
aurora..
[CERPEN] Air Sejuk Untuk Api Kebencian
Api yang dibalas dengan api akan semakin berkobar dan membesar. Sebaliknya, api yang dibalas dengan air akan padam dan tidak bisa membakar lagi.

— Miss Rora —



Langit sore itu berwarna jingga pucat, seakan lelah menanggung panas yang sejak siang tak kunjung mereda. Dea duduk di teras rumahnya, menggenggam secangkir teh yang sudah mulai dingin. Matanya kosong, menatap jalan kecil di depan rumahnya yang sepi.

Namun, ketenangan itu tidak pernah benar-benar utuh. Sebab, di seberang sana, ada satu rumah yang selalu membawa kegelisahan, yaitu rumah Arga.

Dea menghela napas pelan. Ia tahu, cepat atau lambat, masalah akan datang lagi.

Dan benar saja…

“BRAK!”

Suara keras itu membuat tubuh Dea tersentak. Sebuah kantong plastik hitam mendarat tepat di depan terasnya, isinya tumpah. Bau busuk langsung menyeruak, bau sisa makanan basi, kulit buah, bahkan popok bekas.

Dea memejamkan mata sejenak. Dadanya naik turun, mencoba menahan emosi.

“Arga…” gumam Dea lirih

Dea tidak perlu melihat siapa pelakunya. Sudah terlalu sering hal seperti ini terjadi, dan pelakunya selalu sama.

Arga adalah laki-laki 21 tahun yang entah sejak kapan membenci Dea sejak kecil tanpa alasan yang ia mengerti.

Awalnya, hanya beberapa gangguan kecil, yaitu sampah di depan rumah, lalu jebakan tikus.

Dea masih ingat jelas bagaimana kakinya pernah hampir tertusuk bola berbilah tajam yang disembunyikan di bawah keset. Jika saja Dea tidak berhenti sejenak untuk mengikat tali sepatu saat itu, mungkin kakinya sudah berdarah parah.

Belum lagi, minyak goreng yang pernah sengaja ditumpahkan di jalan depan rumahnya.

Hari itu, Dea terpeleset. Punggungnya membentur lantai keras. Rasa sakitnya masih bisa ia ingat hingga sekarang.

Namun, yang lebih sakit adalah saat ia melihat Arga berdiri di kejauhan, menatapnya tanpa rasa bersalah. Bahkan, tidak ada niat untuk menolong. Hanya ada diam dan ekspresi puas, seolah penderitaan Dea adalah sesuatu yang pantas.

“Dea, kamu harus lapor ke Pak RT!” ucap Bu Rina pada suatu sore

Dea hanya tersenyum lemah.

“Sudah, Bu. Tapi Arga selalu mengelak.”

“Anak itu memang bikin resah! Kemarin dia lempar batu ke jendela rumah Pak Hadi!”

Dea mengangguk pelan. Dea tahu, dan semua orang di kampung itu juga tahu.

Arga bukan hanya mengganggu Dea saja. Ia mengganggu semua orang.

Namun anehnya, kebencian Arga pada Dea terasa lebih pribadi, lebih tajam, dan lebih sering, seolah ada sesuatu yang belum terselesaikan di antara mereka, padahal…

“Aku bahkan tidak pernah melakukan apa-apa…” bisik Dea pada dirinya sendiri malam itu

***

Suatu malam, hujan turun deras.

Angin berembus kencang, menggoyangkan pepohonan hingga berderit.

Dea baru saja pulang dari kampus. Jaketnya basah, rambutnya menempel di pipi. Ia membuka pagar rumahnya pelan. Langkahnya berhenti.

Ada sesuatu di depan pintu. Sebuah ember kecil yang airnya berwarna kehitaman. Dan ketika Dea mendekat, bau busuk menyergapnya. Air comberan.

Dea menutup hidungnya refleks. Dadanya terasa sesak. Matanya berair, bukan hanya karena bau itu, melainkan karena lelah.

“Kenapa?” gumam Dea, suaranya bergetar

Dea menoleh ke arah rumah Arga. Lampunya menyala. Tirai jendela tertutup rapat.

Namun Dea tahu, bahwa dirinya sedang diperhatikan, dan untuk pertama kalinya, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

***

Hari demi hari berlalu. Gangguan tidak pernah berhenti.

Namun, Dea memilih diam.

Bukan karena Dea tidak bisa melawan, melainkan karena ia tidak ingin menjadi seperti Arga yang dipenuhi kebencian tanpa arah.

Dea hanya berharap, suatu saat nanti, semua ini akan berhenti entah bagaimana caranya.

Dan hari itu akhirnya datang.

Namun, tidak seperti yang Dea bayangkan.

Siang itu, suasana kampung mendadak gaduh. Orang-orang berlarian. Teriakan terdengar dari ujung gang.

“Arga digigit anjing!”

“Banyak sekali darahnya!”

“Cepat bawa ke rumah sakit!”

Dea, yang sedang menyapu halaman, langsung membeku. Sapunya jatuh dari tangan.

“Arga?” ulang Dea pelan

Tanpa berpikir panjang, Dea ikut berlari.

Di ujung gang, Dea melihat kerumunan warga, dan di tengahnya, ada Arga.

Tubuhnya tergeletak di tanah. Kakinya penuh luka gigitan anjing. Darah mengalir deras. Wajahnya pucat. Matanya setengah terbuka.

Seekor anjing liar yang tadi menggigitnya sudah diusir warga, tetapi lukanya sangat mengerikan.

“Banyak sekali darahnya…” bisik seseorang

“Katanya sampai 1,5 liter…”

“Harus segera dapat transfusi darah!”

Namun, ketika kata “transfusi darah” terdengar, semua orang saling berpandangan.

Hening. Tidak ada yang maju.

“Golongan darahnya apa?” tanya Pak RT

“AB,” jawab seorang pemuda

Suasana kembali sunyi. Beberapa orang menggeleng pelan. Yang lainnya menunduk. Tidak ada yang bersedia donor darah.

Dea berdiri di belakang kerumunan, jantungnya berdebar keras. Matanya tertuju pada Arga, laki-laki yang selama ini menyakitinya. Yang membuat hidupnya tidak tenang. Yang tidak pernah sekalipun menunjukkan penyesalan.

Namun, sekarang, Arga terlihat begitu rapuh dan begitu manusiawi.

Dea menggigit bibirnya, langkahnya maju perlahan.

“Saya…”

Suara Dea pelan, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang menoleh.

“Saya golongan darah AB.”

Semua mata tertuju padanya.

“Dea… kamu yakin?” tanya Bu Rina dengan terkejut

Dea menatap Arga sekali lagi, lalu mengangguk.

“Iya.”

***

Rumah sakit itu terasa dingin. Bau antiseptik memenuhi udara.

Dea duduk di kursi, lengan kirinya terhubung dengan jarum donor darah.

Darahnya mengalir perlahan menuju ke kantong berukuran 350 cc.

Dea tidak banyak bicara, hanya diam dan menatap ke arah jendela.

Di balik kaca, hujan kembali turun, seperti hari ketika ia menangis karena ember air kotor itu.

Namun, kali ini, hati Dea terasa berbeda. Tidak ada kebencian, hanya kelelahan yang perlahan mencair.

***

Beberapa jam kemudian, setelah menerima satu kantong darah dari Dea, Arga mulai sadar. Matanya terbuka perlahan. Langit-langit putih menyambut pandangannya.

Arga mengerang pelan.

“Arga… kamu sudah sadar?” tanya salah seorang perawat

Arga mengedipkan matanya, lalu menoleh.

Dan di sanalah, Arga melihat Dea duduk di kursi dengan wajah yang pucat tetapi tenang.

Arga terdiam. Waktu seolah berhenti.

“Kenapa…” ucap Arga, suaranya serak

“Kenapa kamu di sini?”

Dea tersenyum tipis.

“Kamu butuh darah, Ga.”

Arga menatap Dea lama. Matanya mulai memerah.

“Kenapa… kamu masih mau donor?”

Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan, seperti kebingungan yang tidak bisa ia pahami.

Dea menarik napas pelan.

“Karena tidak ada yang mau donor buat kamu.”

Sunyi.

Arga menutup matanya. Air matanya mengalir tanpa suara.

***

Beberapa hari kemudian, kondisi Arga mulai membaik. Lukanya masih dijahit, tetapi ia sudah bisa duduk. Dan hari itu, Dea datang menjenguk.

Dea berdiri di ambang pintu, tampak ragu sejenak.

Namun, sebelum Dea sempat berbicara, Arga mempersilakan Dea masuk.

“Masuk.”

Suara Arga terdengar pelan.

Dea melangkah masuk. Udara di ruangan itu terasa canggung.

“Terima kasih,” ucap Arga secara tiba-tiba

Dea terdiam. Ia tidak menyangka akan mendengar kata itu.

“Aku… tidak pantas menerima darahmu,” lanjut Arga, suaranya bergetar

Dea menatap Arga. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Arga. Bukan kebencian, melainkan penyesalan.

“Kenapa kamu selalu melakukan kejahatan itu padaku?” tanya Dea akhirnya

Pertanyaan itu selama ini Dea simpan.

Arga menunduk, tangannya mengepal, lalu perlahan ia mulai bercerita.

“Ayahku… meninggal waktu aku umur 4 tahun.”

Suara Arga lirih.

“Ayahku sakit meningitis. Sudah dua minggu ayahku sering kejang.”

Dea mendengarkan dengan tenang.

“Waktu itu tengah malam. Kejangnya kambuh lagi. Ibuku sudah meninggal waktu aku masih bayi. Aku terpaksa cari bantuan sendiri.”

Arga menelan ludah. Matanya kosong, seperti kembali ke masa lalu.

“Aku lari ke rumah tetangga satu per satu. Aku ketuk pintu mereka. Aku gedor-gedor pintu dan minta tolong.”

Tangan Arga gemetar.

“Tapi, tidak ada yang membukakan pintu.”

Dea merasakan dadanya sesak.

“Semua rumah… gelap. Sunyi.”

Arga menarik napas dalam.

“Termasuk rumahmu, Dea.”

Dea membeku.

“Ayahku… mati sendirian di kamarnya. Dan rumahmu… tertutup rapat.”

Air mata jatuh dari mata Arga.

“Aku benci. Aku marah. Aku nggak mengerti kenapa semua orang nggak ada yang peduli.”

Arga menatap Dea.

“Dan aku tumbuh dengan kebencian itu.”

Sunyi memenuhi ruangan. Dea menggenggam tangannya sendiri.

“Aku… tidak tahu,” bisik Dea

“Aku sekeluarga memang sedang liburan di luar kota waktu itu…”

Arga mengangguk pelan.

“Aku tahu sekarang.”

Arga mengusap wajahnya.

“Tapi, dulu aku tidak peduli. Aku hanya butuh seseorang untuk disalahkan.”

Mata Arga kembali bertemu dengan mata Dea.

“Dan aku memilih kamu.”

Air mata Dea ikut jatuh. Namun kali ini, bukan karena sakit, melainkan karena memahami.

“Aku minta maaf,” ucap Arga

Suara itu tulus. Tanpa ego. Tanpa kemarahan. Hanya penyesalan yang murni.

Dea menatapnya lama, lalu perlahan ia tersenyum.

“Aku sudah memaafkanmu… sejak aku mendonorkan darahku.”

Arga tertegun.

“Kenapa?”

Dea menggeleng pelan.

“Karena aku tidak mau hidup dengan kebencian.”

Dea menarik napas.

“Orang yang dipukul di pipi kanan tidak boleh membalas memukul pelakunya di pipi kanan juga, kan?”

Arga menatapnya.

“Orang yang dipukul di pipi kanan, harus menyerahkan pipi kirinya untuk sama-sama dipukul.”

Senyum Dea hangat, dan untuk pertama kalinya, Arga merasa hatinya benar-benar tenang.

***

Beberapa bulan kemudian, kampung itu berubah. Tidak ada lagi sampah di depan rumah Dea. Tidak ada jebakan tikus. Tidak ada minyak di jalan.

Arga berubah. Ia mulai membantu warga memperbaiki pagar dan mengangkat barang. Bahkan, sesekali ia terlihat tersenyum.

Dan suatu sore, di teras yang sama, Arga berdiri di depan Dea dengan gugup.

“Aku tahu… ini mungkin terlalu cepat,” ucap Arga

“Tapi… aku tidak ingin menunda lagi.”

Dea menatapnya, bingung.

“Aku ingin memperbaiki semuanya, bukan hanya dengan kata-kata.”

Arga menarik napas.

“Dea… maukah kamu… menikah denganku?”

Hening.

Angin sore berembus pelan. Daun-daun berdesir lembut.

Dea menatap Arga, laki-laki yang dulu penuh kebencian, yang kini berdiri dengan harapan.

Dea tersenyum. Air matanya jatuh perlahan.

“Iya.”

Dan di bawah langit jingga, api kebencian itu akhirnya benar-benar padam, digantikan oleh air yang menenangkan dan cinta yang tumbuh perlahan.

TAMAT

@kakekane.cell@pabuaranwetan @aldo12
bekticahyopurnoAvatar border
aldo12Avatar border
senjaperenunganAvatar border
senjaperenungan dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.5K
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan