- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah Tutup Perdagangan Pekan Ini di Rp17.000/US$
TS
jaguarxj220
Rupiah Tutup Perdagangan Pekan Ini di Rp17.000/US$
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,12% tertahan di Rp17.000/US$ pada perdagangan spot Kamis (2/4/2026), di tengah kondisi ketidakpastian perang Timur Tengah. Hari ini menjadi perdagangan terakhir selama sepekan, karena besok pasar tutup memperingati Jumat Agung.
Menguatnya indeks dolar AS sebesar 0,44% ke level 100 kembali menghantam mata uang di kawasan. Yen Jepang tergerus 0,49% disusul ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing melemah 0,32%, dolar Singapura 0,27%, yuan offshore 0,25%, yuan China 0,25%, won Korea Selatan 0,16%, rupiah 0,12%, dan dolar Taiwan 0,1%.
Sebaliknya, rupee India melesat 2,09% dan dolar Hong Kong stagnan dengan sedikit perubahan 0,01%.
Di sisi lain, bursa pasar Asia bergerak melemah sore ini. Indeks Topix melemah 1,61%, Nikkei 225 melemah 2,38%, KOSDAQ dan KOSPI masing-masing 5,36% dan 4,47%. IHSG melemah 1,8%, indeks FTSE Malay 0,97%, dan Taiwan TAIEX melemah 1,82%.
Begitu juga dengan pasar obligasi domestik. Melansir data Bloomberg, aksi jual melanda pasar Surat Utang Negara (SUN) dengan kenaikan yield di hampir semua tenor.
Imbal hasil tenor 1 tahun naik 6,4 bps ke 5,9%, tenor 5 tahun naik 3,7 bps ke 6,52%, tenor 6 tahun naik 2,9 bps ke 6,68%. Sebaliknya, tenor benchmark 10 tahun mengalami aksi beli dan mencatatkan penurunan imbal hasil 2,9 bps ke 6,65%.
Tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah pada perdagangan hari ini bukan lagi respons jangka pendek terhadap kondisi ketidakstabilan geopolitik, tapi juga representasi kondisi domestik yang mempertegas kerapuhan fundamental ekonomi Indonesia.
Di tengah inflasi yang mulai menanjak sebesar 3,48% didorong oleh harga makanan dan energi, permintaan domestik justru melemah dengan inflasi inti bertahan di level 2,52%.
Di saat yang sama, sektor manufaktur mulai menunjukkan tanda stagnasi dengan penurunan PMI menjadi 50, lebih rendah dari capaian bulan Februari 53,8. Penurunan ini berpotensi menggerus kinerja ekspor yang selama ini menjadi penopang rupiah dan sumber devisa.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...i-rp17-000-us/
Inflasi sudah tinggi, bahkan sebelum harga BBM naik.
Data PMI juga tidak baik2 saja di level stagnan 50.
Ya sudah, nikmati long weekend dulu deh yaa..
Menguatnya indeks dolar AS sebesar 0,44% ke level 100 kembali menghantam mata uang di kawasan. Yen Jepang tergerus 0,49% disusul ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing melemah 0,32%, dolar Singapura 0,27%, yuan offshore 0,25%, yuan China 0,25%, won Korea Selatan 0,16%, rupiah 0,12%, dan dolar Taiwan 0,1%.
Sebaliknya, rupee India melesat 2,09% dan dolar Hong Kong stagnan dengan sedikit perubahan 0,01%.
Di sisi lain, bursa pasar Asia bergerak melemah sore ini. Indeks Topix melemah 1,61%, Nikkei 225 melemah 2,38%, KOSDAQ dan KOSPI masing-masing 5,36% dan 4,47%. IHSG melemah 1,8%, indeks FTSE Malay 0,97%, dan Taiwan TAIEX melemah 1,82%.
Begitu juga dengan pasar obligasi domestik. Melansir data Bloomberg, aksi jual melanda pasar Surat Utang Negara (SUN) dengan kenaikan yield di hampir semua tenor.
Imbal hasil tenor 1 tahun naik 6,4 bps ke 5,9%, tenor 5 tahun naik 3,7 bps ke 6,52%, tenor 6 tahun naik 2,9 bps ke 6,68%. Sebaliknya, tenor benchmark 10 tahun mengalami aksi beli dan mencatatkan penurunan imbal hasil 2,9 bps ke 6,65%.
Tekanan terhadap aset berdenominasi rupiah pada perdagangan hari ini bukan lagi respons jangka pendek terhadap kondisi ketidakstabilan geopolitik, tapi juga representasi kondisi domestik yang mempertegas kerapuhan fundamental ekonomi Indonesia.
Di tengah inflasi yang mulai menanjak sebesar 3,48% didorong oleh harga makanan dan energi, permintaan domestik justru melemah dengan inflasi inti bertahan di level 2,52%.
Di saat yang sama, sektor manufaktur mulai menunjukkan tanda stagnasi dengan penurunan PMI menjadi 50, lebih rendah dari capaian bulan Februari 53,8. Penurunan ini berpotensi menggerus kinerja ekspor yang selama ini menjadi penopang rupiah dan sumber devisa.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...i-rp17-000-us/
Inflasi sudah tinggi, bahkan sebelum harga BBM naik.
Data PMI juga tidak baik2 saja di level stagnan 50.
Ya sudah, nikmati long weekend dulu deh yaa..
MemoryExpress dan 6 lainnya memberi reputasi
7
1.6K
44
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan