- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Anthoni Salim Akui Ekonomi RI Menantang, Margin Indofood Stagnan
TS
jaguarxj220
Anthoni Salim Akui Ekonomi RI Menantang, Margin Indofood Stagnan
Bloomberg Technoz, Jakarta - Emiten Anthoni Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), mencatatkan kinerja keuangan positif, namun dengan sejumlah catatan.
ICBP mencatat kenaikan laba bersih 30% secara tahunan menjadi Rp9,22 triliun pada 2025.
Meski naik, namun tingkat keuntungan dari setiap penjualan ICBP stagnan. Ini tercermin dari margin laba usaha yang berada di kisaran 22,3% selama dua periode tersebut.
Selain itu, tanpa memperhitungkan non-recurring items dan selisih kurs, core profit yang mencerminkan kinerja operasional ICBP turun 4% menjadi Rp9,98 triliun dari sebelumnya Rp9,98 triliun, akibat kenaikan beban bahan baku.
Dari sisi top line, ICBP membukukan penjualan bersih konsolidasi Rp74,85 triliun, naik 3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp72,6 triliun.
Direktur Utama & CEO ICBP Anthoni Salim mengakui, kinerja keuangan perusahaan menghadapi situasi makro ekonomi yang menantang.
"Ke depan, kami akan memperkuat relevansi produk melalui inovasi yang berorientasi pada kebutuhan konsumen, memperluas jangkauan pasar baik di Indonesia maupun luar Indonesia, serta meningkatkan keunggulan operasional kami," jelas Anthoni Salim dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).
Induk ICBP, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami kondisi serupa, laba meningkat tanpa diiringi kenaikan margin.
INDF mencatat kenaikan laba usaha 6% secara tahunan menjadi RP24,57 triliun sepanjang 2025. Meski positif, namun margin laba usaha tetap berada di kisaran 19,9%.
Sementara, laba bersih naik 24% secara tahunan menjadi RP10,68 triliun. Di balik kenaikan ini, core profit yang mencerminkan kinerja operasional INDF hanya mencatat kenaikan 1% secara tahunan menjadi Rp11,39 triliun.
Posisi bottom line tersebut diperoleh setelah INDF membukukan penjualan bersih konsolidasi Rp123,49 triliun, naik 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp115,79 triliun.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...ofood-stagnan/
Dagang mie kemasan aja ngaku berat.
Mending sekarang uangnya dibelikan valas, emas, atau kalau wajib ditaruh di Indonesia, dibelikan SBN.
Sudah ga make sense ekspansi pabrik, tambah kapasitas produksi, peremajaan mesin, dll.
Pakai mesin yg udh ada saja.
ICBP mencatat kenaikan laba bersih 30% secara tahunan menjadi Rp9,22 triliun pada 2025.
Meski naik, namun tingkat keuntungan dari setiap penjualan ICBP stagnan. Ini tercermin dari margin laba usaha yang berada di kisaran 22,3% selama dua periode tersebut.
Selain itu, tanpa memperhitungkan non-recurring items dan selisih kurs, core profit yang mencerminkan kinerja operasional ICBP turun 4% menjadi Rp9,98 triliun dari sebelumnya Rp9,98 triliun, akibat kenaikan beban bahan baku.
Dari sisi top line, ICBP membukukan penjualan bersih konsolidasi Rp74,85 triliun, naik 3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp72,6 triliun.
Direktur Utama & CEO ICBP Anthoni Salim mengakui, kinerja keuangan perusahaan menghadapi situasi makro ekonomi yang menantang.
"Ke depan, kami akan memperkuat relevansi produk melalui inovasi yang berorientasi pada kebutuhan konsumen, memperluas jangkauan pasar baik di Indonesia maupun luar Indonesia, serta meningkatkan keunggulan operasional kami," jelas Anthoni Salim dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).
Induk ICBP, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mengalami kondisi serupa, laba meningkat tanpa diiringi kenaikan margin.
INDF mencatat kenaikan laba usaha 6% secara tahunan menjadi RP24,57 triliun sepanjang 2025. Meski positif, namun margin laba usaha tetap berada di kisaran 19,9%.
Sementara, laba bersih naik 24% secara tahunan menjadi RP10,68 triliun. Di balik kenaikan ini, core profit yang mencerminkan kinerja operasional INDF hanya mencatat kenaikan 1% secara tahunan menjadi Rp11,39 triliun.
Posisi bottom line tersebut diperoleh setelah INDF membukukan penjualan bersih konsolidasi Rp123,49 triliun, naik 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp115,79 triliun.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...ofood-stagnan/
Dagang mie kemasan aja ngaku berat.
Mending sekarang uangnya dibelikan valas, emas, atau kalau wajib ditaruh di Indonesia, dibelikan SBN.
Sudah ga make sense ekspansi pabrik, tambah kapasitas produksi, peremajaan mesin, dll.
Pakai mesin yg udh ada saja.
saya.palsu memberi reputasi
1
949
3
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan