Kaskus

Entertainment

fleshingAvatar border
TS
fleshing
Fifty-fifty dalam kebiasaan yang di adaptasikan dari kesukaan Dalam pekerjaan
Fifty-fifty dalam kebiasaan yang di adaptasikan dari kesukaan Dalam pekerjaan

Bagaimana itu fifty-fifty dalam kebiasaan?
Apa bisa untuk mendapat hasil keuntungan ?
Dan apa kita dapat beristirahat setelah mempertimbangkan sebuah kepentingan saat bekerja ?

Sudah sepantasnya kita melakukannya, diluar jam kerja ataupun saat bekerja, karena siapa yang bakal tidak meluangkan untuk sekedar saja, untuk melepas dahaga atau melepas stress sahaja

Namun siapa sangka bahwa kebiasaan kita hanya sebagian , dari pilihan yang ada , kita sering memelihara waktu me time di tempat yang singkat secara terus-menerus, lebih banyak memesan yang lebih murah juga setiap pagi , dan malam , ini sangat disayangkan , bila saja kita menghemat untuk tidak melakukan selama beberapa waktu sahaja , kita akan dapatkan hasilnya , yaitu dengan menu jajanan yang lebih eksklusif

Disitulah terdapat trade-off dalam memfokuskan semua panca indera kita , untuk hanya berlaku sabar menunggu pilihan selanjutnya dalam porsi yang ekstra , atau kualitas lebih didalamnya di menu yang jarang di pesan.

Kita bisa menggunakan waktu yang bermanfaat tersebut , menunggu sahaja memang sangat membosankan bahkan dapat mengkhawatirkan , overthinking di dalam kecemasan pula dalam sebuah tema yang menakutkan , sekejap kita dapat bayangan yang memungkinkan , hal buruk terjadi .

Padahal yang akan terjadi hanya soal me time , yang akan kita pilih dari dua opsi berbeda , antara pesanan yang kita ambil sesegera mungkin , dalam kebiasaan menyukai banyak hal yang sepele dan sementara dalam usahanya , juga melanjutkan tugas kita berusaha , atau kita mengakhirkan pada sistem yang berbeda di lain waktu dengan gaya yang berbeda

Ini lah yang menjadi fifty-fifty saat kita pernah ada di dalamnya , kita sudah punya pilihan di setengahnya , kita dapat menjadikan kebiasaan kita dalam usaha me time, menjadi lebih indah , dan bermakna , dan pada kesehatan yang lebih pula
Dengan menjaga metabolisme tubuh kita , kita menakar untuk hari yang menjanjikan di tempat yang tepat

Pengertian “orang berhasil” dalam konteks ini biasanya bukan cuma soal punya barang mahal atau bisa me time yang eksklusif, tapi lebih ke *kemampuan menunda kepuasan* dan mengelola uang dengan tujuan yang jelas.

*Menabung untuk beli barang yang lebih mahal*
Orang yang berhasil menabung biasanya:
- Punya target spesifik (misalnya jam tangan, laptop, atau rumah) sehingga tiap kali menyisihkan uang terasa ada arah.
- Mengubah kebiasaan “menyimpan uang” menjadi “mengubah uang jadi aset atau nilai”. Ada kreator keuangan Indonesia yang bahkan memakai analogi _sendal_ — setiap uang yang masuk langsung diputar jadi investasi, lalu keuntungannya yang dipakai buat beli barang mahal, jadi modal awal tetap utuh.
- Efek psikologisnya: rasa bangga dan peningkatan harga diri saat barang itu akhirnya dibeli, serta perasaan pencapaian karena barang tersebut melambangkan status atau reward atas kerja keras. cb9c

Efek yang muncul:
- *Positif*: motivasi meningkat, disiplin keuangan terbentuk, dan barang yang dibeli terasa lebih berharga karena “diperjuangkan”.
- *Risiko*: kalau fokusnya hanya pada gengsi, bisa timbul _social risk_—takut dipandang rendah kalau tidak punya barang itu, atau merasa kecewa bila barang tidak memberi kepuasan jangka panjang.

*Me time yang lebih eksklusif*
Me time adalah waktu khusus buat diri sendiri—bisa spa, solo traveling, hobi, atau sekadar diam sejenak tanpa gangguan.
Orang yang berhasil melakukannya biasanya:
- Menjadwalkannya secara rutin (misalnya 30 menit tiap hari atau satu hari penuh sebulan sekali).
- Memilih aktivitas yang benar-benar mengisi energi, bukan sekadar menghabiskan uang.

Efek yang muncul:
- *Manfaat*: otak dapat istirahat, stres berkurang, mood membaik, dan produktivitas kembali naik.
- *Jika terlalu eksklusif & menguras tabungan*: bisa menimbulkan tekanan finansial, rasa bersalah, atau kecanduan “reward” sehingga menabung jadi terganggu.

*Inti-nya*
Berhasil menabung untuk barang mahal atau me time eksklusif berarti kamu:
1. Menetapkan tujuan yang jelas,
2. Menjaga disiplin,
3. Menggunakan hasilnya sebagai reward, bukan sebagai pelarian.

Kalau seimbang, hasilnya rasa puas, kesehatan mental lebih baik, dan keuangan tetap sehat. Kalau tidak seimbang, bisa jadi stres atau penyesalan di kemudian hari.




Dari sini kita akan melatih diri untuk bersikap adil dan jujur untuk diri sendiri , sebelum kita melakukan takaran untuk orang lain ,

Lawan dari curang dalam menakar dan menimbang dalam Islam adalah *bersikap adil dan jujur*, yang dalam istilah Al-Qur’an disebut *al-qisth (القسط)* — yaitu _menyempurnakan takaran dan timbangan_.

Al-Qur’an secara tegas memerintahkan hal ini:

- *QS Al-Muthaffifin 1-3*
“Celakalah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

- *QS Ar-Rahman 9*
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”

- *QS Al-An‘am 152*
“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.”

Jadi, lawan dari curang (al-mutaffifin) adalah:
*Al-Qisth* → adil dalam menakar dan menimbang
*Al-Wafa’* → menyempurnakan hak orang lain tanpa mengurangi
*Al-Amanah* → jujur dan dapat dipercaya dalam muamalah

Intinya, Islam menuntut pedagang (dan siapa pun yang bertransaksi) untuk memberi takaran/timbangan yang penuh, tidak mengurangi sedikit pun, karena itu bentuk keadilan dan kejujuran yang mendatangkan keberkahan.


Kita asah kemampuan penakaran diri agar lebih jelih memperhatikan empati diri

Kalau kita sudah punya hal tersebut kita akan lebih berlapang dada
*Tasamuh* adalah istilah bahasa Arab yang artinya “lapang dada”, “murah hati”, atau “kemudahan”. Dalam bahasa Indonesia KBBI mengartikannya sebagai _kelapangan dada, keluasan pikiran, toleransi_.

Dalam konteks agama (khususnya Islam), tasamuh bukan sekadar “membiarkan” perbedaan, tapi *sikap aktif menghargai, menghormati, dan bersikap lemah lembut* terhadap orang lain yang berbeda pendapat, keyakinan, budaya, atau kebiasaan—tanpa harus mengorbankan prinsip keimanan kita.

*Poin penting tasamuh*
- *Asal kata*: dari _samaha_ → berarti memberi kemudahan, memaafkan, berlapang hati.
- *Makna*: toleransi yang didasari rasa hormat dan kasih sayang, bukan hanya menahan diri dari konflik.
- *Dalil*: QS Al-Kafirun (109):1-6 “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Ayat ini menjadi landasan bahwa Islam mengajarkan menghargai perbedaan keyakinan.

*Contoh perilaku tasamuh*
- Menghormati teman yang beribadah menurut agamanya (misalnya tidak mengganggu saat mereka sholat atau merayakan hari raya).
- Tidak memaksakan pendapat sendiri dalam diskusi.
- Membantu tetangga berbeda agama saat mereka butuh, tanpa memandang latar belakang.

*Hikmahnya*
- Menciptakan kehidupan sosial yang damai dan harmonis, terutama di masyarakat yang majemuk.
- Mengurangi konflik dan prasangka.
- Menumbuhkan rasa saling pengertian dan persaudaraan.

Jadi, tasamuh itu lebih dalam dari sekadar toleransi pasif; ia adalah sikap menghargai perbedaan dengan hati yang lapang dan penuh kebaikan.
0
103
3
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan