Kaskus

Entertainment

kuri214Avatar border
TS
kuri214
Negara Maju yang Menjajah, Negara Berkembang yang Menindas.

Negara Maju yang Menjajah, Negara Berkembang yang Menindas.


Halo agan-agan, balik lagi sama ane, Kuri. 
Kali ini ane pengen numpahin keresahan tentang kondisi dunia yang makin nggak masuk akal. Ane melihat sebuah Paradoks Dua Wajah: Di satu sisi, ada negara maju yang makmurnya luar biasa, fasilitas rakyatnya terjamin bak di surga, tapi tangan mereka berlumuran darah karena merusak negara lain lewat perang.
Lihat aja gimana konflik yang melibatkan Amerika dan sekutunya sekarang, yang tanpa ampun menghajar wilayah luar (seperti situasi panas yang menyeret Turki saat ini) dengan berbagai pembenaran. Kok bisa ya, mereka jadi 'malaikat' buat rakyat sendiri tapi jadi 'predator' di tanah orang?
Di sisi lain, ane melihat negara kita sendiri. Di panggung internasional, kita lantang bicara perdamaian dan setia dengan prinsip non-blok. Kelihatannya damai banget dari luar. Tapi ironisnya, pemerintah seolah lupa pake logika yang sama buat rakyat sendiri. Di dalam negeri, kebijakan kita justru sering 'mencekik' warga sendiri.
Kenapa standar ganda ini bisa terjadi? Dan satu hal yang terbersit di pikiran ane:

Bab 1: Alasan yang Terus Berubah dan Logika yang Patah


 Apakah agama atau ideologi punya peran besar di balik semua skenario gila ini?
Gila sih kalau dipikir-pikir. Negara sekelas Amerika berani memulai perang dengan dalih kecurigaan pengembangan nuklir di Iran—padahal Iran sudah 'dikurung' sanksi internasional bertahun-tahun. Yang lebih nggak masuk akal lagi, Badan Pengawas Nuklir Dunia sendiri bilang nggak ada bukti kuat, tapi serangan tetap jalan di tengah proses perundingan. Ini kan namanya main hakim sendiri di tingkat global?
Akibatnya? Dunia kacau. Harga-harga melambung, stabilitas goyang. Dan yang bikin ane makin geleng-geleng kepala, setelah sebulan perang jalan, alasan penyerangannya malah berubah-ubah terus. Apa ini cuma pengulangan skenario Perang Irak jaman dulu? Di mana alasan 'senjata pemusnah massal' cuma jadi bungkus buat ngerampok sumber energi?
Atau jangan-jangan, ini cuma taktik bisnis ala Trump yang ditunggangi kepentingan Israel karena ketakutan mereka sama pengaruh Iran? Di sini ane mulai sadar: Bagi mereka, nyawa orang di negara luar itu cuma angka dalam kalkulator bisnis atau catur politik. Sementara di dalam negeri, mereka tampil bak pahlawan yang menjamin keamanan rakyatnya sendiri. Malaikat di rumah, predator di luar.


Bab 2: Teriak Damai di Teras, Bengis di Dalam Dapur
Nah, sekarang mari kita tengok negeri tercinta kita sendiri. Lucu ya, setiap ada eskalasi konflik di luar sana, kita selalu tampil di barisan paling depan. Teriak paling kencang soal kedamaian, menyerukan persatuan, sampai kirim bantuan paling awal. Pokoknya kita ambil peran sebagai "PAHLAWAN" yang paling tahu cara hidup tenang dan memaafkan.
Tapi nyatanya? Jangankan damai secara global, nyelesaiin masalah tawuran antar pelajar yang udah jadi 'TRADISI' aja nggak pernah beres. Entah emang SDM kita yang begini, atau emang kita cuma jago teori. Di level paling kecil, kayak lingkungan keluarga atau jalan raya, kita jago nyuruh orang jangan korupsi tapi buat sekadar taat aturan lampu merah aja susahnya minta ampun.
Jujur, ane ngerasa sedih sekaligus miris. Kita ini negara yang katanya religius, percaya Tuhan, dan diajarin kitab kebaikan dari kecil. Tapi kenapa kenyataannya kita seolah-olah memakai topeng? Kita pinter nasehatin dunia, tapi 'ZOLIM' sama PENGHUNI di rumah sendiri. Kata yang tepat mungkin cuma satu: MUNAFIK.

Penutup: Berhenti Merias Wajah, Mulailah Berbenah
Dari dua bab di atas, ane cuma pengen nekenin satu hal: Kita ini kayaknya terlalu sibuk merias muka di depan orang banyak, tapi lupa ngerawat kesehatan organ dalam sendiri.
Oke, kita emang nggak nembak roket ke rumah orang lain kayak negara maju itu. Tapi secara sadar atau nggak, kita sering "NGIRIM" penderitaan ke rakyat sendiri lewat ketidakadilan yang sistemis. Masalah sesimpel bikin hukuman yang bikin koruptor jera aja kita nggak mampu malah loyo ,tapi di saat yang sama pengen banget tampil jadi "DEWA PENYELAMAT DUNIA".
Kata ane mah, kurang-kurangin deh itu SHOW OFF  di panggung internasional. Berbenah diri dulu, tuntasin masalah di dalem negeri sendiri, baru deh bicara soal urusan dunia. Jangan sampai kita jago nasehatin tetangga soal damai, sementara di dalem rumah kita sendiri, rakyat lagi teriak karena dicekik ketidakadilan.
Berhenti jadi munafik, 
emoticon-Wow








multimedia.ptrtAvatar border
multimedia.ptrt memberi reputasi
1
104
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan