- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Gejolak jiwa anak kyai yang tidak menyukai lawan jenis
TS
kutilkuda1202
Gejolak jiwa anak kyai yang tidak menyukai lawan jenis
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Selamat pagi, siang atau malam bagi warga kaskus semua. Perkenalkan namaku Bakti. Aku berasal dari Tulungagung, usiaku saat ini 36 tahun. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adikku seorang perempuan yang sudah menikah dan dikaruniai dua orang putra. Kami terlahir dari keluarga muslim yang sangat kuat. Ayahku seorang kyai di desaku, dan ibuku seorang petani. Aku dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang yang sempurna, meskipun banyak kesederhanaan dan kesulitan yang kami alami. Kalian semua pasti bisa membayangkan, bagaimana kehidupan di desa dengan posisi seorang anak pertama laki laki dengan ayah dan ibu yang mendalami agama islam. Setiap hari aku sudah terbiasa dengan sholat lima waktu, membaca al-qurán dan juga kegiatan kegiatan rohani. Sholat berjamaah, berdoa sebelum melakukan aktifitas, dzikir dan asmaul husna, serta melakukan infaq sudah menjadi kebiasaan ku setiap mingguannya. Kehidupan yang penuh dengan didikan agama ini membentukku menjadi pria yang tidak pernah melanggar aturan. Sejak kecil, aku tidak pernah merokok, tidak pernah minuman keras, tidak berjudi, tidak berkumpul dengan orang orang jahat dan juga menerapkan hal hal baik dalam kehidupanku. Aku juga mampu bergaul dengan baik. Olahraga seperti sepakbola, voli dan juga aktifitas anak laki-laki pun aku selalu lakukan bersama dengan teman-teman sebayaku.
Aku rasa tidak ada kekurangan kasih sayang dan perilaku yang menyimpang dalam hidupku. Namun, aku mengalami suatu gejolak yang tidak benar. Gejolak jiwa yang seharusnya tidak ku alami. Aku merasakan getaran menyukai sesama jenis di usiaku menginjak 14 tahun. Ya, saat aku duduk di bangku MTS.
Saat itu, aku mulai merasakan kagum dengan teman laki laki yang bisa dibilang menarik. Aku ingat betul, namanya Albert. Dia seorang anak laki laki dari Semarang, perawakannya putih, tinggi , badannya juga atletis karena suka berolahraga dan juga sangat ramah pandai bergaul. Entah mengapa, tiap melihat wajahnya yang tampan itu, aku merasa getaran getaran jatuh cinta. Jantung berdegup kencang, malu malu sendiri, tapi ingin selalu bersama dia. Namun, aku tahu ini tidak benar. Hal ini mengakibatkan aku terbiasa menahan rasa suka cinta ku kepada sesama jenis. Rasa ini aku alihkan sebagai persahabatan.
Namun, tidak bisa ku bohongi. Rasa persahabatan ini sebenarnya tidak murni karena ada bumbu cinta didalamnya. Aku menjadi teman yang terlalu baik, terlalu loyal dan terlalu ingin masuk dalam kehidupan Albert. Sehingga, aku benar benar dekat dengan albert. Namun, ya tetap saja, ada rasa kecewa dalam dada karena menyadari Albert mencintai wanita dan aku hanya sebagai sahabat saja. Aku kadang merasa seperti seorang "backburner" atau peneman rasa sepi dia saja. Tapi, aku hanya sahabat dan dia normal, tidak ada rasa tertarik pada pria. Aku sendiripun takut kalau dia tahu aku tidak normal. Sungguh, rasa seperti ini sangat menyiksaku. Perasaan ini aku alami hingga aku lulus MA atau sederajat SMA. Sepanjang usia SMP hingga SMA itu, aku sudah terbiasa menjadi seorang sahabat tetapi bertindak layaknya pacar yang sangat melayani pria yang ku suka tetapi tidak mendapat imbal balik cinta seperti yang ku harapkan, karena mereka semua pria normal. Setiap kali ditanya, "mana cewekmu?" Aku selalu menjawab "Muslim tidak mengajarkan pacaran, zinah itu". Padahal sebenarnya, aku menyukai pria dan aku menahan rasa itu.
Hingga akhirnya aku mendapat beasiswa dan bisa berkuliah di Jogjakarta. Disanalah, aku mulai mengerti apa dunia cinta sesama jenis. Aku bertemu seorang pria dari facebook. Ia bernama Syahrul. Seorang anak alim, asli dari Purwokerto. Ia sangat rajin beribadah, namun memiliki kelainan hasrat yang sama dengan ku, yaitu menyukai sesama jenis. Namun, pendidikan agama dari orang tuaku, itulah yang menjadi kendaliku. Aku bisa menjaga diriku untuk tidak gonta ganti pasangan. Aku hanya berpasangan dengan Syahrul hingga kami lulus kuliah. Ia bekerja di Surabaya dan aku di Semarang.
Selanjutnya aku menjalani kehidupanku sebagai pria jomblo, hingga di usiaku ke 25 tahun, aku mencoba menjalin relasi dengan pria juga tetapi dengan sembunyi-sembunyi hingga saat ini. Namanya Mas Gege. Ia pria yang sangat baik hati, dia seorang pegawai di sebuah bank. Jujur, dia adalah pria yang sangat menyayangi ku, dan aku merasa sangat dicintai. Kami tidak bergonta ganti pasangan, dan tetap setia sampai saat ini. Kami tinggal serumah, dan tiap hari kehidupan kami seperti layaknya pasangan suami istri. Aku bahagia dengan kehidupan ini. Semua orang tahunya Gege adalah adikku, anak dari pamanku. Padahal dia adalah pasanganku. Kami berdua memang pria yang tidak terlihat belok atau melambai. Kami benar benar straight act, layaknya kakak adik. Tapi saat hanya berdua, kami benar benar layaknya suami istri.
Namun, lebaran 2026 ini, aku kepikiran berat karena ayahku sakit keras dan menginginkan aku menikah. Aku benar benar tidak tahu harus bagaimana. Selama ini, aku beralasan belum siap secara ekonomi, belum siap secara mental, sibuk kerja dan sudah gak ada waktu. Tetapi keluarga mengejar aku untuk menikah dengan wanita.
Aku benar benar merasa tidak nyaman. Aku tidak bisa mencintai wanita. Aku tidak nafsu dengan wanita. Aku bisa benar benar tegang saat bersama pria. Aku tertarik melihat pria buka baju, aku suka memeluk pria dan aku nyaman hidup bersama pria.
Hatiku berkata,"bapak, ibu, anakmu ini gak bisa sama perempuan". Tetapi aku tidak tega mengucapkan itu. Seorang anak kyai tetapi belok, tidak normal.
Menurut teman teman kaskusers, aku harus gimana?
Silahkan masukan nya ke komentar ya,
Bakti, Tulungagung.
Selamat pagi, siang atau malam bagi warga kaskus semua. Perkenalkan namaku Bakti. Aku berasal dari Tulungagung, usiaku saat ini 36 tahun. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adikku seorang perempuan yang sudah menikah dan dikaruniai dua orang putra. Kami terlahir dari keluarga muslim yang sangat kuat. Ayahku seorang kyai di desaku, dan ibuku seorang petani. Aku dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang yang sempurna, meskipun banyak kesederhanaan dan kesulitan yang kami alami. Kalian semua pasti bisa membayangkan, bagaimana kehidupan di desa dengan posisi seorang anak pertama laki laki dengan ayah dan ibu yang mendalami agama islam. Setiap hari aku sudah terbiasa dengan sholat lima waktu, membaca al-qurán dan juga kegiatan kegiatan rohani. Sholat berjamaah, berdoa sebelum melakukan aktifitas, dzikir dan asmaul husna, serta melakukan infaq sudah menjadi kebiasaan ku setiap mingguannya. Kehidupan yang penuh dengan didikan agama ini membentukku menjadi pria yang tidak pernah melanggar aturan. Sejak kecil, aku tidak pernah merokok, tidak pernah minuman keras, tidak berjudi, tidak berkumpul dengan orang orang jahat dan juga menerapkan hal hal baik dalam kehidupanku. Aku juga mampu bergaul dengan baik. Olahraga seperti sepakbola, voli dan juga aktifitas anak laki-laki pun aku selalu lakukan bersama dengan teman-teman sebayaku.
Aku rasa tidak ada kekurangan kasih sayang dan perilaku yang menyimpang dalam hidupku. Namun, aku mengalami suatu gejolak yang tidak benar. Gejolak jiwa yang seharusnya tidak ku alami. Aku merasakan getaran menyukai sesama jenis di usiaku menginjak 14 tahun. Ya, saat aku duduk di bangku MTS.
Saat itu, aku mulai merasakan kagum dengan teman laki laki yang bisa dibilang menarik. Aku ingat betul, namanya Albert. Dia seorang anak laki laki dari Semarang, perawakannya putih, tinggi , badannya juga atletis karena suka berolahraga dan juga sangat ramah pandai bergaul. Entah mengapa, tiap melihat wajahnya yang tampan itu, aku merasa getaran getaran jatuh cinta. Jantung berdegup kencang, malu malu sendiri, tapi ingin selalu bersama dia. Namun, aku tahu ini tidak benar. Hal ini mengakibatkan aku terbiasa menahan rasa suka cinta ku kepada sesama jenis. Rasa ini aku alihkan sebagai persahabatan.
Namun, tidak bisa ku bohongi. Rasa persahabatan ini sebenarnya tidak murni karena ada bumbu cinta didalamnya. Aku menjadi teman yang terlalu baik, terlalu loyal dan terlalu ingin masuk dalam kehidupan Albert. Sehingga, aku benar benar dekat dengan albert. Namun, ya tetap saja, ada rasa kecewa dalam dada karena menyadari Albert mencintai wanita dan aku hanya sebagai sahabat saja. Aku kadang merasa seperti seorang "backburner" atau peneman rasa sepi dia saja. Tapi, aku hanya sahabat dan dia normal, tidak ada rasa tertarik pada pria. Aku sendiripun takut kalau dia tahu aku tidak normal. Sungguh, rasa seperti ini sangat menyiksaku. Perasaan ini aku alami hingga aku lulus MA atau sederajat SMA. Sepanjang usia SMP hingga SMA itu, aku sudah terbiasa menjadi seorang sahabat tetapi bertindak layaknya pacar yang sangat melayani pria yang ku suka tetapi tidak mendapat imbal balik cinta seperti yang ku harapkan, karena mereka semua pria normal. Setiap kali ditanya, "mana cewekmu?" Aku selalu menjawab "Muslim tidak mengajarkan pacaran, zinah itu". Padahal sebenarnya, aku menyukai pria dan aku menahan rasa itu.
Hingga akhirnya aku mendapat beasiswa dan bisa berkuliah di Jogjakarta. Disanalah, aku mulai mengerti apa dunia cinta sesama jenis. Aku bertemu seorang pria dari facebook. Ia bernama Syahrul. Seorang anak alim, asli dari Purwokerto. Ia sangat rajin beribadah, namun memiliki kelainan hasrat yang sama dengan ku, yaitu menyukai sesama jenis. Namun, pendidikan agama dari orang tuaku, itulah yang menjadi kendaliku. Aku bisa menjaga diriku untuk tidak gonta ganti pasangan. Aku hanya berpasangan dengan Syahrul hingga kami lulus kuliah. Ia bekerja di Surabaya dan aku di Semarang.
Selanjutnya aku menjalani kehidupanku sebagai pria jomblo, hingga di usiaku ke 25 tahun, aku mencoba menjalin relasi dengan pria juga tetapi dengan sembunyi-sembunyi hingga saat ini. Namanya Mas Gege. Ia pria yang sangat baik hati, dia seorang pegawai di sebuah bank. Jujur, dia adalah pria yang sangat menyayangi ku, dan aku merasa sangat dicintai. Kami tidak bergonta ganti pasangan, dan tetap setia sampai saat ini. Kami tinggal serumah, dan tiap hari kehidupan kami seperti layaknya pasangan suami istri. Aku bahagia dengan kehidupan ini. Semua orang tahunya Gege adalah adikku, anak dari pamanku. Padahal dia adalah pasanganku. Kami berdua memang pria yang tidak terlihat belok atau melambai. Kami benar benar straight act, layaknya kakak adik. Tapi saat hanya berdua, kami benar benar layaknya suami istri.
Namun, lebaran 2026 ini, aku kepikiran berat karena ayahku sakit keras dan menginginkan aku menikah. Aku benar benar tidak tahu harus bagaimana. Selama ini, aku beralasan belum siap secara ekonomi, belum siap secara mental, sibuk kerja dan sudah gak ada waktu. Tetapi keluarga mengejar aku untuk menikah dengan wanita.
Aku benar benar merasa tidak nyaman. Aku tidak bisa mencintai wanita. Aku tidak nafsu dengan wanita. Aku bisa benar benar tegang saat bersama pria. Aku tertarik melihat pria buka baju, aku suka memeluk pria dan aku nyaman hidup bersama pria.
Hatiku berkata,"bapak, ibu, anakmu ini gak bisa sama perempuan". Tetapi aku tidak tega mengucapkan itu. Seorang anak kyai tetapi belok, tidak normal.
Menurut teman teman kaskusers, aku harus gimana?
Silahkan masukan nya ke komentar ya,
Bakti, Tulungagung.
teguhjepang9932 dan 3 lainnya memberi reputasi
2
301
14
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan