- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Harga Nikel Dunia Melejit Usai Presiden Prabowo Setujui Pajak Ekspor
TS
mabdulkarim
Harga Nikel Dunia Melejit Usai Presiden Prabowo Setujui Pajak Ekspor

Penulis : Grace El Dora
25 Mar 2026 | 17:23 WIB
BAGIKAN
Seorang pekerja menulis nomor batch pada karung nikel matte di pabrik pengolahan di Sorowako, Sulawesi Selatan. (Foto: AP/ Dita Alangkara)
Seorang pekerja menulis nomor batch pada karung nikel matte di pabrik pengolahan di Sorowako, Sulawesi Selatan. (Foto: AP/ Dita Alangkara)
Mobile Apps
LONDON, investor.id – Harga nikel global melonjak tajam setelah Indonesia, produsen nikel terbesar di dunia, resmi menyetujui kebijakan pajak atas pengiriman logam baterai ke luar negeri.
Harga kontrak berjangka di London Metal Exchange (LME) naik hingga 2,7% pada Rabu (25/3/2026).
Kenaikan ini terjadi sesaat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui pengenaan tarif ekspor untuk batu bara dan nikel. Meski demikian, rincian besaran tarif pajak tersebut masih dalam tahap pembahasan intensif.
Tekanan Anggaran Akibat Perang Timur Tengah
Langkah berani ini diambil di tengah tekanan anggaran negara yang kian berat. Sebagai negara importir bersih (net importer) minyak mentah dan bahan bakar, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Gangguan aliran energi global tidak hanya mengancam pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memicu tekanan inflasi. Kebijakan pajak ekspor komoditas ini dipandang sebagai upaya pemerintah untuk menambal defisit anggaran sekaligus memperkuat penerimaan negara di masa krisis.
Ambisi Hilirisasi dan Dominasi Global
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari ambisi besar Indonesia untuk naik kelas dalam rantai nilai sumber daya alam. Dengan menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong investasi di pengolahan logam, Indonesia ingin bertransformasi menjadi pusat industri baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) dunia.
Saat ini, Indonesia memegang kendali atas lebih dari separuh produksi nikel global. Sebagian besar pertumbuhan industri ini didorong oleh investasi besar-besaran dari perusahaan-perusahaan China.
"Investor kini cenderung lebih percaya pada rencana ini mengingat kesulitan fiskal yang dihadapi Indonesia," ujar Gao Yin, analis dari Shuohe Asset Management Co. Menurutnya, pajak yang lebih tinggi secara otomatis akan mendongkrak biaya produksi dan harga nikel di pasar internasional.
Pada perdagangan di London, harga nikel tercatat naik 2,1% menjadi US$ 17.310 per ton.
Strategi pengenaan pajak ekspor nikel merupakan bagian dari peta jalan besar "Hilirisasi" yang telah dicanangkan Indonesia sejak era pemerintahan sebelumnya dan kini dipertegas oleh Presiden Prabowo Subianto. Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia menyadari menjual bijih mentah (raw material) hanya memberikan keuntungan jangka pendek dengan nilai tambah yang minim.
Wacana pajak ekspor nikel ini sebenarnya telah muncul sejak 2022, namun urgensinya meningkat drastis pada awal 2026. Perang di Timur Tengah yang melumpuhkan Selat Hormuz telah memaksa Indonesia untuk mencari sumber pendapatan alternatif guna menutupi membengkaknya subsidi energi domestik.
Dengan menguasai lebih dari 50% pasokan dunia, Indonesia memiliki kekuatan posisi tawar (bargaining power) yang besar untuk mendikte harga pasar.
Kebijakan ini tidak hanya bertujuan mengamankan fiskal, tetapi juga memaksa investor global untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri, sehingga Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam revolusi energi hijau dunia.
https://investor.id/market/432972/ha...i-pajak-ekspor
MemoryExpress dan 2 lainnya memberi reputasi
3
307
6
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan