- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Rentan meski Cadangan Devisa Besar
TS
jaguarxj220
Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Rentan meski Cadangan Devisa Besar
Jakarta, Beritasatu.com – Ekonomi Indonesia dinilai tidak sekuat yang terlihat, meskipun memiliki cadangan devisa besar. Di balik angka tersebut, fundamental ekonomi disebut masih rapuh dan rentan terhadap tekanan eksternal.
Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, menilai cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar US$ 150 miliar sebagian besar berasal dari utang luar negeri, bukan dari aktivitas ekonomi produktif.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan devisa, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia menarik aliran dana dari luar negeri, termasuk melalui penerbitan utang.
“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia,” ujar Anthony dalam catatannya, dikutip Selasa (24/3/2026).
Ia menambahkan, dalam praktiknya, utang luar negeri tidak hanya digunakan untuk pembiayaan fiskal, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Stabilitas rupiah tergantung dari apakah Indonesia masih bisa berutang terus,” kata Anthony.
Secara historis, cadangan devisa besar tidak selalu mampu menjaga nilai tukar tetap stabil. Pada periode 2014–2015, cadangan devisa turun sekitar US$ 9,44 miliar, sementara rupiah melemah hingga 20%, dari Rp 12.185 menjadi Rp 14.650 per dolar AS.
Tekanan serupa terjadi pada 2018, saat cadangan devisa menyusut sekitar US$ 17,13 miliar dan rupiah melemah 13,5% ke level Rp 15.202 per dolar AS.
Sementara itu, tekanan paling tajam terjadi pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Dalam waktu satu bulan, cadangan devisa turun sekitar US$ 10,7 miliar dan rupiah melemah sekitar 20%, dari Rp 13.675 menjadi Rp 16.575 per dolar AS.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah biasanya merespons dengan menerbitkan obligasi global dan sukuk internasional guna menarik aliran dana asing. Langkah ini membantu menambah cadangan devisa dan menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek.
Namun, strategi ini dinilai membuat rupiah semakin bergantung pada utang luar negeri. Bahkan, dalam satu dekade terakhir, meski cadangan devisa meningkat dari sekitar US$ 100 miliar pada 2014 menjadi US$ 150 miliar pada Februari 2026, nilai tukar rupiah justru melemah dari kisaran Rp 12.000 menjadi sekitar Rp 17.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga mulai terlihat pada awal 2026. Dalam dua bulan pertama, cadangan devisa turun sekitar US$ 4,6 miliar meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri sekitar US$ 7,1 miliar.
Anthony menilai konflik geopolitik, khususnya ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, berpotensi memperburuk tekanan terhadap ekonomi Indonesia.
“Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia," ujarnya.
Berdasarkan pola historis, Anthony memperkirakan pelemahan rupiah sebesar 15%–20% bukanlah skenario ekstrem. Bahkan, dalam kondisi geopolitik yang memanas, nilai tukar rupiah berpotensi menyentuh Rp 20.000 per dolar AS.
“Angka ini bukan lagi spekulatif, tetapi berbasis data historis. Dalam kondisi yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah dapat melampaui 20% dan terjadi dalam waktu relatif singkat, yakni tiga hingga enam bulan ke depan,” pungkasnya.
https://www.beritasatu.com/ekonomi/2...n-devisa-besar
Devisa besar, hasil dari ngutang besar...
Seperti Indonesia negara besar, hasil dari omong besar doank..
Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, menilai cadangan devisa Indonesia yang mencapai sekitar US$ 150 miliar sebagian besar berasal dari utang luar negeri, bukan dari aktivitas ekonomi produktif.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan devisa, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia menarik aliran dana dari luar negeri, termasuk melalui penerbitan utang.
“Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia,” ujar Anthony dalam catatannya, dikutip Selasa (24/3/2026).
Ia menambahkan, dalam praktiknya, utang luar negeri tidak hanya digunakan untuk pembiayaan fiskal, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Stabilitas rupiah tergantung dari apakah Indonesia masih bisa berutang terus,” kata Anthony.
Secara historis, cadangan devisa besar tidak selalu mampu menjaga nilai tukar tetap stabil. Pada periode 2014–2015, cadangan devisa turun sekitar US$ 9,44 miliar, sementara rupiah melemah hingga 20%, dari Rp 12.185 menjadi Rp 14.650 per dolar AS.
Tekanan serupa terjadi pada 2018, saat cadangan devisa menyusut sekitar US$ 17,13 miliar dan rupiah melemah 13,5% ke level Rp 15.202 per dolar AS.
Sementara itu, tekanan paling tajam terjadi pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Dalam waktu satu bulan, cadangan devisa turun sekitar US$ 10,7 miliar dan rupiah melemah sekitar 20%, dari Rp 13.675 menjadi Rp 16.575 per dolar AS.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah biasanya merespons dengan menerbitkan obligasi global dan sukuk internasional guna menarik aliran dana asing. Langkah ini membantu menambah cadangan devisa dan menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek.
Namun, strategi ini dinilai membuat rupiah semakin bergantung pada utang luar negeri. Bahkan, dalam satu dekade terakhir, meski cadangan devisa meningkat dari sekitar US$ 100 miliar pada 2014 menjadi US$ 150 miliar pada Februari 2026, nilai tukar rupiah justru melemah dari kisaran Rp 12.000 menjadi sekitar Rp 17.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga mulai terlihat pada awal 2026. Dalam dua bulan pertama, cadangan devisa turun sekitar US$ 4,6 miliar meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri sekitar US$ 7,1 miliar.
Anthony menilai konflik geopolitik, khususnya ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, berpotensi memperburuk tekanan terhadap ekonomi Indonesia.
“Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia," ujarnya.
Berdasarkan pola historis, Anthony memperkirakan pelemahan rupiah sebesar 15%–20% bukanlah skenario ekstrem. Bahkan, dalam kondisi geopolitik yang memanas, nilai tukar rupiah berpotensi menyentuh Rp 20.000 per dolar AS.
“Angka ini bukan lagi spekulatif, tetapi berbasis data historis. Dalam kondisi yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah dapat melampaui 20% dan terjadi dalam waktu relatif singkat, yakni tiga hingga enam bulan ke depan,” pungkasnya.
https://www.beritasatu.com/ekonomi/2...n-devisa-besar
Devisa besar, hasil dari ngutang besar...
Seperti Indonesia negara besar, hasil dari omong besar doank..
MemoryExpress dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.3K
10
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan