- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Pengalaman marywiguna13 Menjalani Operasi Lepas Pen Tulang #JustShare
TS
marywiguna13
Pengalaman marywiguna13 Menjalani Operasi Lepas Pen Tulang #JustShare

Tulisan ini merupakan sebentuk cerita lanjutan dari salah satu thread yang pernah saya post beberapa tahun yang lalu yang berjudul,
Pengalaman marywiguna13 Ketika Mengalami Kecelakaan Mobil di Tol Cipali #RabuRandom
Apa tujuan saya menuliskannya disini? Saya hanya ingin berbagi cerita, terlepas ada tidaknya hikmah atau pelajaran yang bisa diambil oleh para pembaca dari segala hal yang akan saya ungkapkan secara terperinci.
**************************************************
Percakapan pada tanggal 2 Oktober 2020 tersebut merupakan percakapan terakhir yang saya lakukan bersama dengan dokter yang menangani saya sewaktu mengalami kecelakaan mobil dulu. Saya tidak mampu untuk mengingat nama dan dimana beliau bertugas alias lupa.
Namun, dari percakapan tersebut ada hal yang perlu saya garis bawahi. Yaitu bahwa, pen tulang yang berada di dalam kaki saya tidak perlu diganti, bahkan untuk selamanya. Mendengar hal tersebut tentu saja membuat saya senang dan lega. Karena saya sudah bisa membayangkan biaya yang harus saya keluarkan jika kembali berurusan dengan rumah sakit terkait permasalahan yang saya miliki.
beberapa tahun kemudian, sekitar pertengahan bulan Juli 2023..
Pada suatu hari, disalah satu titik bekas jahitan operasi muncul sebuah benjolan kecil mirip jerawat. Karena merasa gemas, saya memecahkan benjolan kecil tersebut dan mengeluarkan cairan di dalamnya.
Keesokan harinya, ternyata bekas benjolan tersebut tidak kunjung mengering. Bekas benjolan tersebut kembali muncul membentuk benjolan. Namun, kali ini disertai dengan rasa sakit dan terus mengeluarkan cairan berupa n***h serta d***h.
Saya sempat berpikir bahwa benjolan tersebut bukan benjolan jerawat, melainkan bisul. Karena benjolan tersebut membuat saya tidak bisa tidur nyenyak selama dua malam akibat panas dingin yang ditimbulkannya. Dan bahkan, saya terpaksa kembali menggunakan tongkat kruk karena saya tidak kuat untuk berjalan kaki seperti biasa.
Melihat kondisi saya, teteh saya kembali menghubungi dokter yang dulu pernah menangani saya dan bertanya tentang hal yang terjadi. Dokter tersebut menyarankan untuk mendatangi Puskesmas terdekat dan meminta rujukan untuk diperiksa ke seorang dokter spesialis di rumah sakit terdekat.
**************************************************
Iya.. Beberapa hari kemudian, saya mengikuti saran dari dokter tersebut. Dari Puskesmas Margahayu Raya, saya kemudian dirujuk ke rumah sakit Al Islam yang berjarak kurang dari 2 km dari rumah dan bisa ditempuh dalam waktu sepuluh menit saja. Dan saya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi yang bernama dokter Deni Hermana.
Setelah menjalani pemeriksaan, saya didiagnosis mengalami osteomielitis, yaitu infeksi pada tulang yang disebabkan oleh bakteri atau jamur, yang mengakibatkan peradangan, nyeri hebat, bengkak, dan demam.
Ternyata dugaan saya benar. Beberapa hari sebelum saya memeriksakan diri ke rumah sakit, saya sempat mencari tahu melalui google, tentang permasalahan yang saya alami dari gejala-gejala yang saya rasakan. Dan iya, saya sempat memiliki dugaan sendiri bahwa saya mengalami osteomielitis.
Dari diagnosa tersebut, dokter Deni menyarankan saya untuk menjalani operasi pelepasan pen tulang yang masih berada di dalam kaki saya. Karena bagaimanapun juga dan walaupun tidak terjadi infeksi, sebuah pen tulang yang sudah menempel lebih dari 1-1,5 tahun harus segera dilepas. Jika tidak, resiko terparah dari infeksi tersebut akan mengakibatkan kerusakan tulang secara permanen. Dan bahkan, ada kemungkinan bahwa bagian kaki yang mengalami kerusakan harus segera diamputasi.
Dari pemeriksaan terakhir, saya masih harus menunggu selama beberapa hari untuk bisa mendapatkan jadwal operasi. Dan pada akhirnya, saya dijadwalkan untuk menjalani operasi pelepasan pen tulang pada tanggal 31 Juli 2023.
**************************************************
hari H..
Saya yang diwajibkan untuk berpuasa sejak jam enam pagi, harus menjalani berbagai macam pemeriksaan termasuk elektrokardiografiatau EKG, setelah saya membereskan urusan administrasi dan menempati ranjang, serta kamar inap pasca menjalani operasi nanti.
Dan entah kenapa, urusan administrasi rumah sakit dan segala bentuk pemeriksaan yang saya jalani mengingatkan saya ketika saya masih menjadi seorang caregiver di Taiwan dulu. Dimana sayalah yang mengurus hal-hal tersebut bagi kakek atau nenek yang saya rawat jika secara kebetulan mereka menjadi seorang pasien di rumah sakit. Lucunya, dimasa sekarang, keadaannya justru terbalik.
singkat cerita..
Sekitar jam satu siang, setelah mengenakan seragam operasi dan berbaring di ranjang, dua orang bruder yang bisa saya perkirakan baru berumur 20 tahunan membawa saya menuju ke ruang operasi, dimana saya disambut oleh seorang dokter anestesi dan sebuah lampu operasi yang berada di langit-langit ruangan, yang mengingatkan saya pada sebuah drama Korea yang berjudul Romantic Doctor.
Setelah dipindahkan ke ranjang operasi, seorang suster membangunkan badan saya dalam posisi terduduk. Dari situ, dokter anestesiyang bertugas saat itu sempat memberikan informasi tentang jenis anestesi yang akan saya dapatkan, yaitu anestesi spinal yang akan disuntikkan melalui tulang belakang dan akan membuat saya merasakan kesemutan yang luar biasa pada awalnya, kemudian merasakan kebas atau mati rasa dari bagian pusar hingga ke bagian kaki.
Proses operasi pun dimulai setelah saya sempat merasakan sayatan dari scalpel atau pisau bedah seperti sebuah pulpen yang digoreskan ke atas permukaan kulit. Dan selama proses operasi berlangsung, saya masih bisa melihat keadaan di dalam ruang operasi. Pun, saya masih bisa mendengar percakapan ringan yang dilakukan oleh dokter Deni beserta dengan para asistennya. Bahkan, saya bisa mendengar suara pukulan atau ketukan dari sebuah alat yang saya duga adalah sebuah palu, yang menandakan bahwa sepertinya dokter Deni sempat mengalami kesulitan melepas salah satu baut pen tulang yang menempel di dalam kaki saya.
singkat cerita..
Saya tidak tahu persis berapa lama proses operasi yang saya jalani berlangsung. Karena semakin lama, saya semakin merasa mengantuk dan mungkin sempat tertidur. Namun, yang saya ingat, saya kemudian dibawa ke sebuah ruang pemulihan pasca operasi.
Disana, walaupun dengan kedua mata yang masih tertutup karena saya merasa kesulitan untuk membukanya, saya masih bisa mendengar suara dari orang-orang yang saya duga adalah para suster dan bruder, serta seorang dokter jaga yang sempat menyenter kedua mata saya dengan menggunakan penlight. Mungkin dokter jaga tersebut ingin mengetahui seperti apa kedua pupil mata saya pasca menjalani proses operasi.
Terutama setelah saya diketahui tidak memberikan respon ketika seorang suster menyuruh saya untuk menggerakkan jari jika saya mendengar suara suster tersebut. Saya tidak memberikan respon karena saya merasa kesulitan untuk melakukannya. Dan satu hal yang saya mengerti, mungkin saya masih berada dalam pengaruh anestesi.
Setelah saya dianggap berada dalam kondisi yang baik pasca menjalani operasi, dua orang bruder membawa saya ke dalam kamar inap dan memindahkan saya ke ranjang. Saat itu, saya masih merasa kesulitan untuk membuka mata. Namun, saya masih bisa mendengar suara di sekitar yang membuat saya berpikir bahwa sepertinya teteh saya tidak berada disana.
Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidur.
**************************************************
Masih dihari yang sama. Dan kali ini, begitu terbangun dari tidur, kedua mata saya bisa terbuka dengan mudah. Saya melihat sekeliling dan menyadari bahwa saya hanya seorang sendiri, tanpa seorang pun dari keluarga saya yang datang mendampingi.
Namun, sebuah bungkusan bening yang berada di samping saya, isinya cukup menyita perhatian. Sebuah lempengan sedikit lengkung memanjang berukuran 11 cm, dengan lebar 1,5 cm, dengan ketebalan hampir 0,5 cm, dan dengan enam buah lubang. Berbahan (mungkin) stainless steel, platina, atau titanium, saya tidak begitu paham. Serta enam buah baut yang berukuran 2,5 cm.
Tanpa perlu meminta penjelasan dari dokter atau siapapun, saya sudah bisa memastikan bahwa benda-benda tersebut merupakan pen tulang yang menempel di dalam kaki saya selama tiga tahun. Tentu saja saya merasa amazeddan begitu senang karena saya bisa menyimpannya sebagai sebuah kenangan hidup.
Dan karena merasa penasaran dengan kondisi kaki saya pasca operasi, secara pelan-pelan saya membangunkan diri kemudian duduk bersandar pada bantal.
Penampakan kaki sebelah kanan yang dibalut perban setebal dan selebar itu mengingatkan saya pada salah satu momen dimana saya baru bangun dari koma dan melihat penampakan yang kurang lebih sama. Bedanya, dulu kaki sebelah kanan cenderung bengkak dan juga dipenuhi dengan memar. Sekarang, sebuah selang sepanjang dua meter yang menurut penuturan asisten dokter merupakan selang yang berfungsi untuk mengeluarkan darah yang memang sekiranya tidak berguna bagi tubuh, terlihat menempel di titik yang tidak jauh dari bagian kaki yang dijahit.
Lagi-lagi, saya merasa amazeddengan hal-hal yang saya alami.
Selanjutnya, saya menjalani hari-hari yang menyenangkan selama berada di rumah sakit walaupun saya tidak ditemani secara khusus oleh keluarga. Saya hanya berbaring tanpa perlu melakukan apa-apa. Bahkan, disetiap subuh ketika saya sedang tidur pun, dua orang petugas kebersihan pasien datang membersihkan badan saya termasuk mengganti diaper yang saya kenakan dalam waktu semalaman.
Selain itu, saya juga ingin mengucap syukur alhamdulillah dengan sajian makanan dari rumah sakit yang saya konsumsi sebanyak tiga kali dalam sehari. Sisi nikmat dan enaknya yang saya rasakan membuat saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, "Kata siapa makanan rumah sakit itu jelek dan ga enak?"
**************************************************
empat hari kemudian..
Sebenarnya, saya tidak akan menolak jika harus menetap lebih lama di rumah sakit. Namun, mengingat saya adalah pengguna fasilitas BPJS gretongan, saya harus memberikan kesempatan bagi pasien lainnya untuk menerima fasilitas yang sama seperti yang saya terima.
Dalam kunjungan terakhir dokter Deni, beliau mengijinkan saya untuk pulang ke rumah setelah melakukan pemeriksaan singkat. Selain itu, dokter Deni juga sempat membuka seluruh perban di kaki kanan saya dan melepas selang yang ditanam ke dalamnya.
Setelah asisten dokter memasang perban yang baru dan setelah teteh saya mengurus segala bentuk administrasi rumah sakit, pada akhirnya saya bisa pulang ke rumah.
**************************************************
Setelah menjalani operasi pelepasan pen tulang dan dirawat inap selama empat hari tiga malam, saya masih harus melakukan kontrol ke rumah sakit setiap minggunya sampai dokter Deni menyatakan bahwa luka operasi di kaki kanan saya sudah kering dan beliau melepas jahitannya.
Lalu, jika ditanya, bagaimana keadaan kaki kanan saya sekarang pasca pen tulangnya dilepas?
Walaupun saya merasa sudah tidak memiliki kemampuan untuk berlari dalam definisi yang sebenarnya, tetapi saya merasa masih memiliki kemampuan untuk berjalan cepat. Pada intinya, alhamdulillah, kaki kanan saya sekarang berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Dan saya harus belajar agar bisa kembali menggunakan sepatu highheel, karena sepertinya sepatu-sepatu highheelyang saya miliki dirasa sudah menganggur terlalu lama.
**************************************************
Sekian, dan terimakasih.
Thread merupakan tulisan pengalaman pribadi.
*
*
*
*
*
Pengalaman marywiguna13 Ketika Mengalami Kecelakaan Mobil di Tol Cipali #RabuRandom
Apa tujuan saya menuliskannya disini? Saya hanya ingin berbagi cerita, terlepas ada tidaknya hikmah atau pelajaran yang bisa diambil oleh para pembaca dari segala hal yang akan saya ungkapkan secara terperinci.
**************************************************
Quote:
Percakapan pada tanggal 2 Oktober 2020 tersebut merupakan percakapan terakhir yang saya lakukan bersama dengan dokter yang menangani saya sewaktu mengalami kecelakaan mobil dulu. Saya tidak mampu untuk mengingat nama dan dimana beliau bertugas alias lupa.
Namun, dari percakapan tersebut ada hal yang perlu saya garis bawahi. Yaitu bahwa, pen tulang yang berada di dalam kaki saya tidak perlu diganti, bahkan untuk selamanya. Mendengar hal tersebut tentu saja membuat saya senang dan lega. Karena saya sudah bisa membayangkan biaya yang harus saya keluarkan jika kembali berurusan dengan rumah sakit terkait permasalahan yang saya miliki.
beberapa tahun kemudian, sekitar pertengahan bulan Juli 2023..
Pada suatu hari, disalah satu titik bekas jahitan operasi muncul sebuah benjolan kecil mirip jerawat. Karena merasa gemas, saya memecahkan benjolan kecil tersebut dan mengeluarkan cairan di dalamnya.
Keesokan harinya, ternyata bekas benjolan tersebut tidak kunjung mengering. Bekas benjolan tersebut kembali muncul membentuk benjolan. Namun, kali ini disertai dengan rasa sakit dan terus mengeluarkan cairan berupa n***h serta d***h.
Saya sempat berpikir bahwa benjolan tersebut bukan benjolan jerawat, melainkan bisul. Karena benjolan tersebut membuat saya tidak bisa tidur nyenyak selama dua malam akibat panas dingin yang ditimbulkannya. Dan bahkan, saya terpaksa kembali menggunakan tongkat kruk karena saya tidak kuat untuk berjalan kaki seperti biasa.
Melihat kondisi saya, teteh saya kembali menghubungi dokter yang dulu pernah menangani saya dan bertanya tentang hal yang terjadi. Dokter tersebut menyarankan untuk mendatangi Puskesmas terdekat dan meminta rujukan untuk diperiksa ke seorang dokter spesialis di rumah sakit terdekat.
**************************************************
Iya.. Beberapa hari kemudian, saya mengikuti saran dari dokter tersebut. Dari Puskesmas Margahayu Raya, saya kemudian dirujuk ke rumah sakit Al Islam yang berjarak kurang dari 2 km dari rumah dan bisa ditempuh dalam waktu sepuluh menit saja. Dan saya disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi yang bernama dokter Deni Hermana.
Setelah menjalani pemeriksaan, saya didiagnosis mengalami osteomielitis, yaitu infeksi pada tulang yang disebabkan oleh bakteri atau jamur, yang mengakibatkan peradangan, nyeri hebat, bengkak, dan demam.
Ternyata dugaan saya benar. Beberapa hari sebelum saya memeriksakan diri ke rumah sakit, saya sempat mencari tahu melalui google, tentang permasalahan yang saya alami dari gejala-gejala yang saya rasakan. Dan iya, saya sempat memiliki dugaan sendiri bahwa saya mengalami osteomielitis.
Dari diagnosa tersebut, dokter Deni menyarankan saya untuk menjalani operasi pelepasan pen tulang yang masih berada di dalam kaki saya. Karena bagaimanapun juga dan walaupun tidak terjadi infeksi, sebuah pen tulang yang sudah menempel lebih dari 1-1,5 tahun harus segera dilepas. Jika tidak, resiko terparah dari infeksi tersebut akan mengakibatkan kerusakan tulang secara permanen. Dan bahkan, ada kemungkinan bahwa bagian kaki yang mengalami kerusakan harus segera diamputasi.
Dari pemeriksaan terakhir, saya masih harus menunggu selama beberapa hari untuk bisa mendapatkan jadwal operasi. Dan pada akhirnya, saya dijadwalkan untuk menjalani operasi pelepasan pen tulang pada tanggal 31 Juli 2023.
**************************************************
hari H..
Saya yang diwajibkan untuk berpuasa sejak jam enam pagi, harus menjalani berbagai macam pemeriksaan termasuk elektrokardiografiatau EKG, setelah saya membereskan urusan administrasi dan menempati ranjang, serta kamar inap pasca menjalani operasi nanti.
Dan entah kenapa, urusan administrasi rumah sakit dan segala bentuk pemeriksaan yang saya jalani mengingatkan saya ketika saya masih menjadi seorang caregiver di Taiwan dulu. Dimana sayalah yang mengurus hal-hal tersebut bagi kakek atau nenek yang saya rawat jika secara kebetulan mereka menjadi seorang pasien di rumah sakit. Lucunya, dimasa sekarang, keadaannya justru terbalik.
singkat cerita..
Sekitar jam satu siang, setelah mengenakan seragam operasi dan berbaring di ranjang, dua orang bruder yang bisa saya perkirakan baru berumur 20 tahunan membawa saya menuju ke ruang operasi, dimana saya disambut oleh seorang dokter anestesi dan sebuah lampu operasi yang berada di langit-langit ruangan, yang mengingatkan saya pada sebuah drama Korea yang berjudul Romantic Doctor.
Quote:
Setelah dipindahkan ke ranjang operasi, seorang suster membangunkan badan saya dalam posisi terduduk. Dari situ, dokter anestesiyang bertugas saat itu sempat memberikan informasi tentang jenis anestesi yang akan saya dapatkan, yaitu anestesi spinal yang akan disuntikkan melalui tulang belakang dan akan membuat saya merasakan kesemutan yang luar biasa pada awalnya, kemudian merasakan kebas atau mati rasa dari bagian pusar hingga ke bagian kaki.
Proses operasi pun dimulai setelah saya sempat merasakan sayatan dari scalpel atau pisau bedah seperti sebuah pulpen yang digoreskan ke atas permukaan kulit. Dan selama proses operasi berlangsung, saya masih bisa melihat keadaan di dalam ruang operasi. Pun, saya masih bisa mendengar percakapan ringan yang dilakukan oleh dokter Deni beserta dengan para asistennya. Bahkan, saya bisa mendengar suara pukulan atau ketukan dari sebuah alat yang saya duga adalah sebuah palu, yang menandakan bahwa sepertinya dokter Deni sempat mengalami kesulitan melepas salah satu baut pen tulang yang menempel di dalam kaki saya.
singkat cerita..
Saya tidak tahu persis berapa lama proses operasi yang saya jalani berlangsung. Karena semakin lama, saya semakin merasa mengantuk dan mungkin sempat tertidur. Namun, yang saya ingat, saya kemudian dibawa ke sebuah ruang pemulihan pasca operasi.
Disana, walaupun dengan kedua mata yang masih tertutup karena saya merasa kesulitan untuk membukanya, saya masih bisa mendengar suara dari orang-orang yang saya duga adalah para suster dan bruder, serta seorang dokter jaga yang sempat menyenter kedua mata saya dengan menggunakan penlight. Mungkin dokter jaga tersebut ingin mengetahui seperti apa kedua pupil mata saya pasca menjalani proses operasi.
Terutama setelah saya diketahui tidak memberikan respon ketika seorang suster menyuruh saya untuk menggerakkan jari jika saya mendengar suara suster tersebut. Saya tidak memberikan respon karena saya merasa kesulitan untuk melakukannya. Dan satu hal yang saya mengerti, mungkin saya masih berada dalam pengaruh anestesi.
Setelah saya dianggap berada dalam kondisi yang baik pasca menjalani operasi, dua orang bruder membawa saya ke dalam kamar inap dan memindahkan saya ke ranjang. Saat itu, saya masih merasa kesulitan untuk membuka mata. Namun, saya masih bisa mendengar suara di sekitar yang membuat saya berpikir bahwa sepertinya teteh saya tidak berada disana.
Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidur.
**************************************************
Masih dihari yang sama. Dan kali ini, begitu terbangun dari tidur, kedua mata saya bisa terbuka dengan mudah. Saya melihat sekeliling dan menyadari bahwa saya hanya seorang sendiri, tanpa seorang pun dari keluarga saya yang datang mendampingi.
Namun, sebuah bungkusan bening yang berada di samping saya, isinya cukup menyita perhatian. Sebuah lempengan sedikit lengkung memanjang berukuran 11 cm, dengan lebar 1,5 cm, dengan ketebalan hampir 0,5 cm, dan dengan enam buah lubang. Berbahan (mungkin) stainless steel, platina, atau titanium, saya tidak begitu paham. Serta enam buah baut yang berukuran 2,5 cm.
Quote:
Tanpa perlu meminta penjelasan dari dokter atau siapapun, saya sudah bisa memastikan bahwa benda-benda tersebut merupakan pen tulang yang menempel di dalam kaki saya selama tiga tahun. Tentu saja saya merasa amazeddan begitu senang karena saya bisa menyimpannya sebagai sebuah kenangan hidup.
Dan karena merasa penasaran dengan kondisi kaki saya pasca operasi, secara pelan-pelan saya membangunkan diri kemudian duduk bersandar pada bantal.
Quote:
Penampakan kaki sebelah kanan yang dibalut perban setebal dan selebar itu mengingatkan saya pada salah satu momen dimana saya baru bangun dari koma dan melihat penampakan yang kurang lebih sama. Bedanya, dulu kaki sebelah kanan cenderung bengkak dan juga dipenuhi dengan memar. Sekarang, sebuah selang sepanjang dua meter yang menurut penuturan asisten dokter merupakan selang yang berfungsi untuk mengeluarkan darah yang memang sekiranya tidak berguna bagi tubuh, terlihat menempel di titik yang tidak jauh dari bagian kaki yang dijahit.
Lagi-lagi, saya merasa amazeddengan hal-hal yang saya alami.
Selanjutnya, saya menjalani hari-hari yang menyenangkan selama berada di rumah sakit walaupun saya tidak ditemani secara khusus oleh keluarga. Saya hanya berbaring tanpa perlu melakukan apa-apa. Bahkan, disetiap subuh ketika saya sedang tidur pun, dua orang petugas kebersihan pasien datang membersihkan badan saya termasuk mengganti diaper yang saya kenakan dalam waktu semalaman.
Selain itu, saya juga ingin mengucap syukur alhamdulillah dengan sajian makanan dari rumah sakit yang saya konsumsi sebanyak tiga kali dalam sehari. Sisi nikmat dan enaknya yang saya rasakan membuat saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, "Kata siapa makanan rumah sakit itu jelek dan ga enak?"
**************************************************
empat hari kemudian..
Sebenarnya, saya tidak akan menolak jika harus menetap lebih lama di rumah sakit. Namun, mengingat saya adalah pengguna fasilitas BPJS gretongan, saya harus memberikan kesempatan bagi pasien lainnya untuk menerima fasilitas yang sama seperti yang saya terima.
Dalam kunjungan terakhir dokter Deni, beliau mengijinkan saya untuk pulang ke rumah setelah melakukan pemeriksaan singkat. Selain itu, dokter Deni juga sempat membuka seluruh perban di kaki kanan saya dan melepas selang yang ditanam ke dalamnya.
Quote:
Setelah asisten dokter memasang perban yang baru dan setelah teteh saya mengurus segala bentuk administrasi rumah sakit, pada akhirnya saya bisa pulang ke rumah.
**************************************************
Setelah menjalani operasi pelepasan pen tulang dan dirawat inap selama empat hari tiga malam, saya masih harus melakukan kontrol ke rumah sakit setiap minggunya sampai dokter Deni menyatakan bahwa luka operasi di kaki kanan saya sudah kering dan beliau melepas jahitannya.
Lalu, jika ditanya, bagaimana keadaan kaki kanan saya sekarang pasca pen tulangnya dilepas?
Walaupun saya merasa sudah tidak memiliki kemampuan untuk berlari dalam definisi yang sebenarnya, tetapi saya merasa masih memiliki kemampuan untuk berjalan cepat. Pada intinya, alhamdulillah, kaki kanan saya sekarang berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Dan saya harus belajar agar bisa kembali menggunakan sepatu highheel, karena sepertinya sepatu-sepatu highheelyang saya miliki dirasa sudah menganggur terlalu lama.
**************************************************
Sekian, dan terimakasih.
Thread merupakan tulisan pengalaman pribadi.
*
*
*
*
*
MemoryExpress memberi reputasi
1
159
20
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan


