Kaskus

Entertainment

MuzmuzAvatar border
TS
Muzmuz
Renungan : Antara Ceramah dan Kenyataan yang Disembunyikan
“Orang beriman itu senang dengan datangnya Ramadan dan bersedih dengan perginya.”

Kalimat itu indah. Terlalu indah, bahkan. Ia terdengar dalam setiap ceramah saat Ramadan datang. Diulang, diperhalus, dibumbui kisah salaf: enam bulan menunggu Ramadan, enam bulan lagi khawatir amal tidak diterima. Seolah-olah, itulah gambaran umum manusia beriman.

Tapi mari jujur.

Begitu Ramadan berjalan setengah, apa yang terjadi?

Orang mulai gelisah menunggu tanggal. Grup chat ramai dengan pertanyaan: “Kapan 1 Syawal?” Perdebatan hisab dan rukyat bukan lagi sekadar diskusi ilmiah—diam-diam ada harapan tersembunyi: semoga lebih cepat. Kalender dicek, hitungan mundur dimulai. Dan ketika pengumuman datang bahwa Idul Fitri telah tiba, banyak yang mengucap takbir—tapi di dalam hati, ada satu rasa yang jarang diakui: lega.

Lega karena selesai.

Kalau memang Ramadan begitu dicintai, kenapa reaksi yang muncul justru seperti orang yang keluar dari tekanan?

Di sinilah masalahnya. Kita terlalu sering hidup dalam dua dunia: dunia kata-kata dan dunia kenyataan. Di dunia kata-kata, kita fasih berbicara tentang cinta kepada Ramadan. Di dunia nyata, kita menghitung hari untuk meninggalkannya.

Dan kita jarang berani mengakui kontradiksi itu.

Lebih jauh lagi, bahkan ketika Ramadan telah berlalu dan hari-hari di bulan Syawal berjalan, perdebatan tentang penentuan 1 Syawal masih saja muncul. Anehnya, perdebatan itu kadang berlangsung ketika hari-hari Syawal sudah berjalan—seakan-akan yang dipersoalkan bukan lagi ibadahnya, tapi pembenarannya. Energi habis untuk memastikan siapa yang paling benar dalam penetapan hari raya, bukan untuk menjaga ruh ibadah yang seharusnya masih tersisa setelah Ramadan pergi.
Jika benar yang dikejar adalah makna, mengapa yang dipertahankan justru perdebatan?

Lebih mudah menyibukkan diri pada perbedaan metode daripada menghadapi kenyataan bahwa hati sendiri belum berubah.

Ramadan, pada praktiknya, terasa berat bagi banyak orang. Bukan karena ajarannya salah, tapi karena hati belum siap. Bangun sahur mengganggu tidur. Menahan lapar mengganggu kenyamanan. Ibadah malam terasa melelahkan. Semua ini nyata, bukan teori. Maka ketika ada kesempatan untuk kembali ke ritme normal, wajar jika sebagian orang menyambutnya dengan rasa lega.

Tapi masalahnya bukan di rasa lega itu.
Masalahnya adalah ketika rasa lega itu dibungkus dengan narasi seolah-olah semuanya tetap selaras dengan “cinta Ramadan”. Di sinilah ketidakjujuran mulai tumbuh—halus, tapi dalam.
Kita ingin terlihat mencintai Ramadan, tanpa benar-benar mau menanggung konsekuensi dari cinta itu.

Padahal cinta selalu punya ciri yang jelas: ia tidak ingin cepat berakhir.
Orang yang benar-benar menikmati suatu momen tidak akan sibuk mencari jalan keluar darinya. Ia akan memperpanjangnya, menikmatinya, bahkan merasa kehilangan sebelum benar-benar berpisah. Jika Ramadan benar-benar menjadi ruang kedekatan, ruang ketenangan, ruang perbaikan diri, maka secara alami manusia akan berat meninggalkannya.

Jika itu tidak terjadi, maka ada dua kemungkinan: entah Ramadan belum benar-benar dirasakan, atau hati belum benar-benar hadir di dalamnya.

Fenomena “ingin cepat Idul Fitri” bukan sekadar soal budaya atau kebiasaan. Ia adalah indikator. Ia menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, Ramadan masih berada di level kewajiban, belum naik menjadi kebutuhan. Ia dijalani karena harus, bukan karena dicintai.
Dan selama itu belum berubah, ceramah akan terus terdengar indah—tapi tidak akan terasa nyata.

Lebih tajam lagi: mungkin masalahnya bukan pada ceramah yang terlalu tinggi, tapi pada kita yang terlalu cepat merasa sudah sampai. Kita mengulang kalimat para salaf, tapi tidak menempuh jalan mereka. Kita mengutip kerinduan mereka, tapi tidak membangun rasa itu dalam diri. Akhirnya, yang tersisa hanya retorika.

Renungan ini tidak nyaman, karena ia menuntut kejujuran. Jika memang hati merasa lega ketika Ramadan berakhir, katakan itu dalam hati—lalu tanya kenapa. Bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk memahami posisi sebenarnya. Karena perubahan tidak dimulai dari pura-pura ideal, tapi dari pengakuan yang jujur.

Mungkin hari ini kita belum sampai pada titik “sedih ketika Ramadan pergi".

Selamat Idul Fitri 1447H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.


0
766
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan