- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Danantara Ungkap Peluang Besar Industri Semikonduktor di Indonesia
TS
aleksandronesta
Danantara Ungkap Peluang Besar Industri Semikonduktor di Indonesia
Quote:
Danantara Ungkap Peluang Besar Industri Semikonduktor di Indonesia
Rabu, 18 Maret 2026 | 15:02 WIB
Kata Foto

Jakarta – Danantara Indonesia mendukung pengembangan industri semikonduktor nasional, seiring munculnya fase baru dalam dinamika industri global. Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menilai bahwa peluang untuk membangun industri semikonduktor masih terbuka lebar, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi chip berbasis kecerdasan artifisial.
“Tidak ada kata terlambat dalam membangun industri semikonduktor nasional. Saat ini dunia memasuki babak baru, khususnya pada pengembangan AI chip, dan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk masuk pada momentum yang tepat dengan landasan kolaborasi, penguatan talenta, dan pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan industri,” kata Sigit dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/03).
Pernyataan tersebut disampaikan Sigit dalam kegiatan Workshop Percepatan Pengembangan Ekosistem Industri dan Riset Semikonduktor Nasional yang digelar di Wisma Danantara pada 12–13 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Danantara dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Hanya di era Prabowo
Quote:
Batam, Semikonduktor, dan Momentum yang Tak Boleh Terlewat
Editor:Fiska Juanda
Rabu, 18 Mar 2026 - 18:39 WIB
Direktur Politeknik Negeri Batam, Bambang Hendrawan. F. Dokumen Pribadi
ADA momen dalam perjalanan sebuah kota, bahkan sebuah bangsa, yang menentukan arah masa depannya. Momen itu tidak selalu datang dalam situasi yang sepenuhnya tenang. Justru sering kali muncul di tengah perbedaan pandangan, tarik-menarik kepentingan, dan perdebatan publik. Batam, hari ini, berada tepat di titik itu.
Di tengah sorotan terhadap proses pengalokasian lahan untuk pengembangan kawasan industri di Pulau Galang, sesungguhnya ada isu yang jauh lebih besar dari sekadar prosedur administratif.
Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya tata kelola, tetapi apakah Batam dan Indonesia mampu naik kelas dalam rantai nilai ekonomi global. Rencana investasi berbasis hilirisasi pasir silika dan pengembangan industri semikonduktor, dengan nilai awal sekitar Rp82 triliun dan potensi mencapai Rp400 triliun pada tahap berikutnya, bukanlah investasi biasa.
Apalagi jika itu terjadi, potensi peningkatan investasi sangat berpotensi melampaui angka-angka tersebut. Dalam konteks Batam, yang sedang dihadapi bukan hanya peluang investasi besar, tetapi sangat mungkin merupakan investasi terbesar dan paling strategis sepanjang sejarah kawasan ini.
Ini akan dapat menjadi sebuah momentum yang secara ekonomi berpotensi mengubah struktur industri, memperluas kapasitas produksi, dan mempercepat transformasi Batam dari kawasan manufaktur berbasis perakitan menjadi pusat industri teknologi tinggi
Dari Komoditas ke Teknologi Tinggi
Selama ini, pasir silika lebih sering dipandang sebagai komoditas tambang biasa. Padahal, dari material inilah lahir silicon, bahan utama pembuatan chip semikonduktor, komponen yang menjadi “otak” hampir seluruh teknologi modern.
Menurut dta dri Kementerian ESDM, Indonesia memiliki sekitar 340 juta ton cadangan pasir silika, yang merupakan modal penting untuk masuk dalam rantai pasok global semikonduktor. Namun selama ini, sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambahnya dinikmati negara lain Nilai tambah terbesar justru dinikmati negara lain yang mengolahnya menjadi wafer dan chip.
Padahal, dalam rantai nilai global, transformasi dari pasir menjadi chip, menurut Worldbank (2020) & McKinsey( 2022), dapat meningkatkan nilai ekonomi hingga ratusan bahkan 1000 kali lipat. Inilah yang sedang diperebutkan dunia hari ini. Ini juga yang menjadi esensi hilirisasi yang selama ini didorong, bukan sekadar mengekspor bahan, tetapi membangun industri berbasis teknologi tinggi.
Fondasi yang Sebenarnya Sudah Kita Miliki
Yang sering terlewat dalam diskusi publik adalah bahwa Indonesia, khususnya di wilayah Kepulauan Riau dan sekitarnya, sebenarnya memiliki fondasi material yang cukup lengkap untuk masuk ke industri semikonduktor. Pasir silika tersedia di berbagai wilayah, termasuk Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.
Kedekatan Batam dengan sumber silika di Kepri dan Bangka Belitung memberikan keunggulan logistik untuk hilirisasi menjadi metallurgical-grade silicon hingga semiconductor-grade wafer.
Bauksit dimana cadangan nasional tercata mencapai 1,2 miliar ton, dan juga terdapat di wilayah ini menjadi sumber potensial gallium, bahan penting untuk teknologi gallium nitride (GaN), yang digunakan dalam kendaraan listrik, jaringan 5G, dan sistem energi efisien.
Artinya, Indonesia tidak hanya relevan untuk semikonduktor konvensional, tetapi juga untuk generasi berikutnya atau next-generation semiconductor materials.
Indonesia dengan produksi sekitar 78.000 ton per tahun, juga merupakan salah satu produsen timah terbesar dunia, yang berperan penting dalam proses perakitan elektronik dan semikonduktor karena digunakan secara luas dalam solder elektronik, packaging semikonduktor dan komponen konektivitas chip.
Ketersediaan timah domestik memperkuat posisi Indonesia dalam downstream semiconductor manufacturing, khususnya di tahap assembly, testing, dan packaging (ATP). Kombinasi antara kedekatan antara bahan baku utama, kawasan industri, dan akses pasar global ini tidak banyak dimiliki negara lain.
Dalam konteks Batam, keunggulan ini semakin diperkuat oleh lokasinya yang strategis di jalur perdagangan internasional serta kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia, dua pemain utama dalam ekosistem semikonduktor regional. Artinya, Batam tidak memulai dari nol.
Ia memiliki prasyarat untuk berkembang menjadi bagian penting dari rantai nilai global. Dengan demikian, jika ekosistem ini dibangun secara terintegrasi, Batam juga tidak hanya menjadi lokasi manufaktur, tetapi berpotensi berkembang menjadi pusat rantai nilai semikonduktor yang utuh, dari material hingga produk teknologi tinggi.
Dunia Bergerak Cepat, Kita Tidak Bisa Menunggu
Saat ini, dunia sedang berada dalam fase percepatan industri semikonduktor atau sering disebut semiconductor race global. Nilai pasar globalnya telah melampaui USD 500 miliar dan diproyeksikan mencapai USD 1 triliun dalam dekade ini (McKinsey, 2022 & BCG, 2023).
Negara-negara besar berlomba-lomba dengan kebijkan agresif mengamankan rantai pasoknya, karena mereka memahami bahwa semikonduktor adalah fondasi ekonomi digital. Amerika Serikat melalui Chips Act, Eropa dengan EU Chip Act, Jepang, Korea Selatan, hingga China menggelontorkan investasi besar-besaran.
Bahkan di kawasan Asia Tenggara, Malaysia yang menguasai sekitar 13% psar global backend semiconductor dan memiliki ekosistem industry semikonduktor yang relative lengkap dan juga Singapura sebagai hub advanced manufacturing di kawasan Asia Tenggara, bergerak sangat agresif memperkuat posisi mereka.
Dalam konteks ini, Indonesia melalui Batam menghadapi pilihan yang sangat jelas, ikut masuk dalam rantai nilai global, atau tetap berada di pinggiran sebagai pemasok bahan mentah. Jika Indonesia tidak bergerak cepat, kita hanya menjadi pasar bukan pemain utama. Pesan kuatnya, Momentum seperti ini tidak akan menunggu.
Apa Artinya bagi Batam?
Jika dilihat secara konkret, dampaknya tidak kecil. Dalam banyak kasus di berbagai negara, investasi dengan skala seperti ini biasanya juga menjadi titik awal terbentuknya ekosistem industri baru, yang tidak hanya menghadirkan pabrik, tetapi juga menarik jaringan pemasok, pusat riset, hingga pengembangan talenta.
Jika dikelola dengan tepat, dampaknya tidak berhenti pada satu proyek, tetapi menjalar ke seluruh sistem ekonomi daerah.Dengan investasi awal sekitar Rp82 triliun dan multiplier industri teknologi yang secara global berkisar 2 hingga 2,5 kali, potensi kontribusi terhadap ekonomi dapat mencapai lebih dari Rp160-200 triliun dalam jangka menengah.
Sebagai perbandingan, menurut BPS (2026), nilai PDRB Batam berada di 253 triliun per tahun 2025. Artinya, dalam jangka menengah maupun jangka panjang dengan potensi komitmen penambahan ivestsi menjadi 440 triliun, industri ini berpotensi meningkatkan kapasitas ekonomi Batam secara signifikan.
Dari sisi ketenagakerjaan, pengalaman global menunjukkan bahwa satu fasilitas fabriksi semikonduktor dapat menciptakan 3000-5000 tenaga kerja langsung dan 20.000-50.000 pekerja tidak langsung (SEMI, 2023).
Jika ekosistemnya berkembang, Batam berpotensi menciptakan hingga puluhan ribu lapangan kerja baru, bukan sekadar pekerjaan, tetapi pekerjaan berbasis teknologi dengan tingkat keahlian dan pendapatan yang lebih tinggi.
Lebih jauh lagi, kehadiran industri ini akan mendorong kota Batam tidak hanya menjadi pusat produksi/manufaktur, tetapi juga pusat pengembangan talenta, tidak hanya lokal atau nasional tapi juga berpotensi sebagai hub pengembangan talenta regional.
Potensi Batam sebagai talent hub ini cukup besar mengingat sudah ada modal dasar ke arah tersebut melalui kiprah Politeknik Negeri Batam (Polibatam).
Sebagai PTN vokasi di Batam, Polibatam saat ini dapat dikatakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang sejak tahun 2016 memiliki program studi manufaktur elektronika, program studi spesifik mempersiapkan lulusannya yang sebagian besar anak Batam, bekerja di industri semikonduktor khususnya pada ATP Industry.
Tentunya ke depan dengan sinergi semua pihak termasuk semakin banyak perguruan tinggi membuka prodi terkait ekosistem semikonduktor, lebih banyak talenta lokal kita yang berkiprah di ekosistem value-chain industri semikonduktor secara global dan regional
Apa dampaknya bagi Indonesia?
Investasi pada ekosistem industri semikonduktor secara massif ini sangat selaras dengan agenda strategis nasional yaitu agenda hilirisasi industri dimana terjadi proses transformasi dari bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi.
Secara langsung juga terjadi pengutan industry teknologi tinggi yang mendorong Indonesia naik kelas dari labor-based economy ke knowledge-based economy. Selain itu dampak lain adalah terjadinya penciptaan lapangan kerja berkualitas, bukan hanya jumlah tetapi high-value jobs.
Dan ujungnya ketika ekosistem berkembang terutama dengan masuknya usaha-usaha deep tech lokal sebagai pemain, maka akan terbangun juga kedaulatan teknologi, yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen strategis
Menjembatani Perbedaan, Menjaga Momentum
Di tengah peluang besar ini, muncul perbedaan pandangan terkait pengalokasian lahan dan percepatan proyek. Hal ini wajar dalam tata kelola publik yang sehat. Kehati-hatian diperlukan untuk memastikan akuntabilitas, transparansi, dan menghindari konflik kepentingan.
Namun di sisi lain, dunia usaha membutuhkan kepastian dan kecepatan. Komitmen investasi dalam jumlah besar tidak dapat menunggu terlalu lama tanpa progres yang jelas. Di sinilah tantangan kebijakan muncul, bagaimana menjaga integritas proses tanpa kehilangan momentum. Pendekatan yang dapat ditempuh bukanlah memilih salah satu, melainkan mensinergikan keduanya.
Misalnya melalui skema alokasi lahan bertahap berbasis realisasi investasi, penguatan transparansi dan pengawasan publik, serta percepatan perizinan yang tetap terukur.
Dengan cara itu, harapannya kita tidak terjebak dalam dikotomi antara kehati-hatian dan kecepatan. Soal adanya wacana terkait status PSN di atas FTZ yang mengemuka belakangan ini tetap perlu dikaji lebih komprehensif dan sistemik dari berbagai pemangku kepentingaan baik pusat maupun daerah.
Sehingga harapannya nanti kalo pun kebijakan dan regulasi yang ditetapkan mengarah ke penyederhanaan atau justru penguatan yang lebih sinergi, benar-benar lahir dari proses yang matang dan memberikan kepastian bagi investor dan semua pihak yang berkepentingan dengan terciptanya iklim investasi yang atraktif, kondusif dan berkelanjutan di Batam
Pilihan yang Menentukan
Pada akhirnya, ini bukan hanya soal satu proyek atau satu kawasan. Ini adalah soal arah pembangunan. Jika peluang ini dimanfaatkan, Batam berpotensi menjadi salah satu pusat industri semikonduktor di kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi benar-benar mencapai di atas dua digit, menciptakan ribuan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi global.
Namun jika terlewat, konsekuensinya juga jelas. Investasi akan mengalir ke negara lain yang lebih siap dan lebih cepat seperti Malaysia, Vietnam dan India. Indonesia akan kembali berada di posisi pinggiran, dan peluang untuk melakukan lompatan ekonomi kembali tertunda.
Yang paling disayangkan nantinya, kita kehilangan peluang bukan karena tidak memiliki potensi atau sumber daya, tetapi karena tidak mampu menyelaraskan langkah.
Penutup
Indonesia memiliki visi besar untuk menjadi negara maju pada 2045. Salah satu kuncinya adalah kemampuan untuk bertransformasi dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis teknologi dan inovasi.
Apa yang sedang dihadapi Batam hari ini adalah bagian dari perjalanan menuju ke sana. Batam memiliki peluang nyata untuk menjadi pintu masuknya saat ini. Perdebatan tentu tidak bisa dihindari.
Prosedur harus tetap dijaga. Namun di atas semua itu, ada kepentingan yang lebih besar yang tidak boleh kita abaikan yaitu masa depan daya saing bangsa. Momentum seperti ini jarang datang dua kali. Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan, apakah kita siap mengambilnya, atau justru membiarkannya berlalu? (*)
Penulis: Bambang Hendrawan, selaku Direktur Politeknik Negeri Batam, Ketua IA-ITB Pengda Kepulauan Riau, Wakil Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Kepri, Anggota Dewan Pembina Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Batam.
waktu SMP aja dah diajarin nyolderin yang daleman radio ntu
Tapi malah jadi kang jaga warnet

0
216
Kutip
1
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan