Kaskus

News

jaguarxj220Avatar border
TS
jaguarxj220
Pasar Obligasi Tertekan Aksi Jual, Yield SUN 10 Tahun Nyaris 7%
Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar surat utang Indonesia sedang menghadapi pekan yang penuh gejolak. Pada Senin (16/3/2026) imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) bertenor 10Y, yang menjadi acuan utama bagi investor, naik 9,2 basis poin (bps) ke 6,89%. Kenaikan yield ini menandakan tekanan aksi jual dan menjadi posisi tertinggi sejak Mei tahun lalu.

Imbal hasil pada semua tenor melanjutkan tren kenaikan, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kenaikan yield merata terutama pada tenor pendek.

Yield tenor 1Y naik 15,9 bps ke 5,76%, sementara tenor 3Y naik 16,6 bps menjadi 6,23%. Tekanan juga terlihat pada tenor 5Y yang melonjak 18,8 bps ke 6,51%, serta tenor 6Y naik 11 bps menjadi 6,77%.

Pada tenor panjang, yield juga bergerak naik, meski dengan kenaikan yang relatif terbatas. Yield 15Y naik 5,1 bps berada di 6,95%, tenor 18Y naik 4,5 bps ke 6,97%, dan tenor 20Y naik 4,2 bps di 6,86%.

Aksi jual terjadi lantaran beredarnya informasi mengenai skenario defisit fiskal melebihi 3% terhadap PDB akibat perang Iran. Skenario tersebut disiapkan oleh Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, yang disertai usul untuk menerbitkan Perppu sebagai langkah antisipasi secara hukum.

"Meskipun pemerintah dapat mengantisipasi legalitas dari defisit fiskal 3%, lembaga rating surat utang seperti S&P, Moody's dan Fitch berperluang tidak akan mentolerir hal ini. Sovereign rating Indonesia berpotensi mengalami downgrade menjadi BBB- pada awal tahun depan atau akhir tahun ini, setelah Moody’s dan Fitch merilis laporan resmi mereka dengan outlook negatif untuk tahun ini," sebut Laporan Mega Capital Sekuritas yang disusun oleh Lionel Priyadi, Muhamad Haikal, dan Nanda Puput Rahmawati, Senin (16/3/2026).

Tekanan potensi penurunan peringkat oleh MSCI, Moody's, dan Fitch tersebut menyebabkan sentimen risk aversion menjangkiti aset di pasar keuangan domestik. Hal ini terjadi lantaran kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperlebar defisit. Tanpa perubahan skenario dalam anggaran APBN 2026, dalam perhitungan Kementerian Keuangan defisit dapat melebar hingga 3,6%.

Selain tekanan fiskal, pelaku pasar juga cenderung menunggu arah kebijakan bank sentral global, terutama Federal Reserve (The Fed), serta keputusan Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan berlangsung besok. Kombinasi ketidakpastian global dan sikap wait and see investor membuat pasar obligasi domestik masih berada dalam fase defensif dengan yield yang berpotensi tetap bergerak naik dalam jangka pendek.

Sebagai catatan, pada Kamis (12/3/2026), pasar obligasi telah mengalai net outflow (arus modal keluar) sebesar US$123 juta secara harian. Sepanjang pekan, arus modal keluar telah mencapai US$667,1 juta.

https://www.bloombergtechnoz.com/det...ahun-nyaris-7/

Sudah benar sejak awal tahun exit dari market Indon..
Jauhi beli obligasi/SBN Indon, apalagi saham judi2an..

0
753
13
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan