Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Di banyak film, iklan, dan media sosial, ada satu gambaran yang sering muncul, bahwa ketika seorang perempuan sukses secara finansial, perempuan itu akan identik dengan gaya hidup belanja mewah. Tas mahal, sepatu bermerek, kosmetik premium, liburan eksklusif, hingga perawatan kecantikan yang mahal. Gambaran ini sering dianggap sebagai simbol keberhasilan.
Namun, jika ditinjau dari perspektif psikologi, ekonomi perilaku, dan kesehatan mental, kebiasaan berbelanja berlebihan justru bisa menjadi jebakan yang merusak kualitas hidup. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi material yang berlebihan berkaitan dengan tingkat stres, kecemasan finansial, dan kepuasan hidup yang lebih rendah (Dittmar, Bond, Hurst, & Kasser, 2014).
Thread ini adalah
Superwoman Series seri #15, yang membahas satu pertanyaan penting, apakah perempuan yang kaya harus identik dengan hobi belanja? Jawabannya tidak sesederhana itu. Bahkan, kebiasaan belanja berlebihan bisa menjadi mekanisme psikologis yang menjerumuskan seseorang pada berbagai masalah.
Mari kita bahas topik ini secara ilmiah Sist

.
Quote:
Hobi Belanja Sebagai “Kenikmatan Instan”
Dalam banyak tradisi moral dan religius, sifat kerakusan sering digambarkan sebagai godaan yang membuat manusia mengejar kesenangan instan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Dalam konteks budaya populer, sifat ini kadang disimbolkan dengan figur seperti Beelzebub, yang melambangkan kerakusan.
Dalam ilmu saraf modern, fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan secara biologis. Ketika seseorang membeli sesuatu yang baru, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Dopamin membuat aktivitas tersebut terasa menyenangkan dan ingin diulang kembali.
Masalahnya, kenikmatan dopamin dari konsumsi harta benda biasanya bersifat sementara. Setelah beberapa waktu, rasa puas menurun dan seseorang terdorong membeli lagi untuk mendapatkan sensasi yang sama. Proses ini disebut
hedonic adaptation (Brickman & Campbell, 1971).
Akibatnya, seseorang bisa terbiasa mencari kenyamanan melalui konsumsi barang. Seseorang lupa, bahwa banyak bentuk kebahagiaan lain yang tidak memerlukan uang, seperti olahraga, membaca, berkebun, atau membantu orang lain.
Quote:
Belanja dan Validasi Sosial
Selain kenikmatan pribadi, belanja juga sering berkaitan dengan status sosial. Barang mewah tidak hanya digunakan karena fungsi, tetapi juga sebagai simbol gengsi.
Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai
conspicuous consumption, yaitu konsumsi yang bertujuan menunjukkan status kepada orang lain (Veblen, 1899). Dalam budaya populer, sifat kesombongan ini kadang disimbolkan dengan figur seperti Lucifer, yang melambangkan kesombongan dan keinginan untuk diakui.
Ketika seseorang terlalu bergantung pada simbol status, harga dirinya menjadi bergantung pada penilaian orang lain. Jika pujian berkurang atau ada orang yang memiliki barang lebih mahal, rasa percaya diri dapat ikut menurun.
Penelitian menunjukkan bahwa orientasi materialistik berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dan hubungan sosial yang kurang sehat (Kasser, 2002).
Dengan kata lain, validasi yang dibeli dengan uang sering kali tidak stabil.
Quote:
Standar Kecantikan yang Dibentuk Konsumsi
Industri kecantikan global bernilai ratusan miliar dolar setiap tahun. Iklan sering menggambarkan bahwa kecantikan perempuan ditentukan oleh kulit mulus, rambut indah, dan penampilan sempurna.
Padahal penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa persepsi kecantikan sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya (Langlois et al., 2000). Kesehatan fisik, kepercayaan diri, dan ekspresi emosi juga berperan besar dalam daya tarik seseorang.
Aktivitas seperti olahraga teratur, tidur cukup, dan pola makan yang sehat sering kali memberikan dampak kesehatan yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar membeli produk kecantikan mahal.
Selain itu, perilaku empatik seperti berdonasi atau membantu orang lain terbukti meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kebahagiaan (Aknin et al., 2013). Artinya, kepedulian sosial juga dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang secara nyata.
Dengan kata lain, kecantikan tidak selalu berasal dari kosmetik mahal.
Quote:
Tidak Semua Hal Bisa Dibeli dengan Uang
Dalam ekonomi perilaku, ada perbedaan penting antara kesejahteraan finansial dan kesejahteraan psikologis. Uang memang dapat meningkatkan kualitas hidup sampai batas tertentu, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Namun, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan pendapatan tidak selalu sebanding dengan peningkatan kebahagiaan (Kahneman & Deaton, 2010).
Beberapa hal paling penting dalam kehidupan manusia tidak dapat dibeli dengan uang, seperti kepercayaan dalam hubungan, kesehatan mental, persahabatan yang tulus, makna hidup, hingga ketenangan batin
Jika seseorang terbiasa memandang segala sesuatu melalui nilai uang, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk menghargai aspek-aspek kehidupan yang tidak bersifat material.
Quote:
Risiko Finansial dari Kebiasaan Berbelanja Berlebihan
Kebiasaan belanja yang tidak terkontrol dapat berkembang menjadi
compulsive buying disorder, yaitu gangguan perilaku yang ditandai oleh dorongan kuat untuk membeli sesuatu meskipun tidak dibutuhkan. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini sering berkaitan dengan kecemasan, depresi, masalah utang, dan konflik keluarga (Black, 2007).
Dalam kondisi ekstrem, tekanan finansial dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang berisiko, seperti mencari pekerjaan yang terdengar “terlalu bagus untuk menjadi kenyataan”. Banyak kasus eksploitasi tenaga kerja, penipuan online, atau perdagangan manusia bermula dari janji pekerjaan dengan gaji tinggi dan usaha minimal.
Oleh karena itu, literasi finansial bagi perempuan sangatlah penting.
Quote:
Caranya, Cobalah untuk Berinvestasi Positif pada Diri Sendiri
Perempuan berkualitas tidak harus menjadikan belanja sebagai hobi utama. Banyak bentuk investasi diri yang jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang.
Contohnya, mengikuti kursus bahasa, bergabung dengan komunitas olahraga, mengikuti komunitas sosial atau profesional, belajar keterampilan baru, serta menabung atau berinvestasi. Aktivitas sederhana seperti berkebun atau menanam pohon juga memiliki manfaat lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa visualisasi dedaunan hijau dan aktivitas berkebun dapat meningkatkan kesehatan mental serta mengurangi stres (Soga, Gaston, & Yamaura, 2017).
Selain itu, memiliki tabungan jangka panjang juga memberikan rasa aman finansial, yang merupakan salah satu faktor penting dalam kesejahteraan psikologis.
Quote:
Risiko Kesehatan dari Obsesi Kecantikan Instan
Dalam upaya memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis, sebagian orang rela mengeluarkan uang dalam jumlah sangat banyak untuk mengambil langkah ekstrem, seperti prosedur kosmetik berisiko, atau penggunaan produk yang belum terbukti aman. Literatur medis menunjukkan bahwa beberapa prosedur kosmetik memiliki risiko komplikasi, mulai dari infeksi hingga kerusakan jaringan (Sarwer, 2019). Selain itu, penggunaan produk pemutih kulit yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius.
Bahkan, penggunaan suplemen penurun berat badan tanpa pengawasan medis juga dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi jantung dan metabolisme.
Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang harganya mahal tidak selalu berarti aman atau efektif.
Quote:
PENUTUP
Kekayaan finansial sebenarnya memberikan kebebasan untuk memilih. Namun, kebebasan itu bisa digunakan dengan bijak, supaya jangan terjebak dalam konsumsi berlebihan.
Perempuan yang kuat secara mental biasanya tidak menjadikan barang mewah sebagai sumber utama kebahagiaan atau identitas diri, tetapi memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh kemewahan.
Dalam topik tentang wanita super, perempuan yang benar-benar kuat adalah perempuan yang mampu mengelola keuangan dengan bijak, mengembangkan diri secara intelektual, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta bisa memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.
Belanja sesekali tentu tidak salah. Namun, jika berbelanja menjadi satu-satunya sumber kesenangan dan validasi, berarti kebiasaan itu perlu dievaluasi. Sebab, pada akhirnya, kualitas hidup seseorang tidak diukur dari berapa banyak barang yang dimiliki, tetapi dari seberapa bijak seseorang menggunakan hidupnya.
Quote:
SUMBER
Aknin, L. B., Dunn, E. W., & Norton, M. I. (2013). Prosocial spending and well-being.
Annual Review of Psychology,
64, 635–660.
Black, D. W. (2007). A review of compulsive buying disorder.
World Psychiatry,
6(1), 14–18.
Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic relativism and planning the good society. In M. H. Appley (Ed.),
Adaptation-level theory. Academic Press.
Dittmar, H., Bond, R., Hurst, M., & Kasser, T. (2014). The relationship between materialism and personal well-being.
Journal of Personality and Social Psychology,
107(5), 879–924.
Kahneman, D., & Deaton, A. (2010). High income improves evaluation of life but not emotional well-being.
Proceedings of the National Academy of Sciences,
107(38), 16489–16493.
Kasser, T. (2002).
The high price of materialism. MIT Press.
Langlois, J. H., et al. (2000). Maxims or myths of beauty? A meta-analytic review.
Psychological Bulletin[I], 126(3), 390–423.
Sarwer, D. B. (2019). Body image and cosmetic medical treatments. [I]Body Image,
31, 302–308.
Soga, M., Gaston, K. J., & Yamaura, Y. (2017). Gardening is beneficial for health.
Preventive Medicine Reports,
5, 92–99.
Veblen, T. (1899).
The theory of the leisure class. Macmillan.
@aldo12 @itkgid @swiitdebby