- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Pemerintah Buat Skenario Terbaik-Terburuk Antisipasi Defisit APBN
TS
jaguarxj220
Pemerintah Buat Skenario Terbaik-Terburuk Antisipasi Defisit APBN
Bloomberg Technoz, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto sedang menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) untuk mensahkan perubahan rasio defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang melewati batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), seperti yang tercantum dalam Undang-undang Keuangan Negara.
Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dan dihadiri para Menteri Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
"Kita pernah melakukan Perppu, ada beberapa faktor yang perlu mungkin masuk di dalam Perppu yang sedang kita persiapkan. Soal timing itu tentu keputusan politik pak presiden, tapi keputusan Perppu saat Covid-19 pernah kami siapkan," ujar Airlangga.

Secara garis besar, ketiga skenario ini memperkirakan bahwa harga minyak mentah akan melonjak ke level US$90 per barel jika perang terjadi selama 5 bulan. Kemudian, harga minyak bisa menembus level US$107 per barel jika perang terjadi selama 6 bulan. Terakhir, harga minyak bahkan bisa melewati angka US$130 per barel jika terjadi selama 10 bulan, dengan level akhir US$125 per barel pada Desember mendatang.
Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dan dihadiri para Menteri Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
"Kita pernah melakukan Perppu, ada beberapa faktor yang perlu mungkin masuk di dalam Perppu yang sedang kita persiapkan. Soal timing itu tentu keputusan politik pak presiden, tapi keputusan Perppu saat Covid-19 pernah kami siapkan," ujar Airlangga.

Pokok-Pokok Pengaturan Utama dalam Perpu (Bloomberg Technoz/Dovana Hasiana)
Dalam laporannya, Airlangga memaparkan tiga skenario kondisi makroekonomi Indonesia di tengah dampak potensi kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik yang berlangsung di Timur Tengah.
Menariknya, ketiga skenario tersebut menunjukkan bahwa potensi kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dalam asumsi makro akan membuat rasio defisit APBN dipastikan melewati batas 3% PDB.
Menariknya, ketiga skenario tersebut menunjukkan bahwa potensi kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dalam asumsi makro akan membuat rasio defisit APBN dipastikan melewati batas 3% PDB.
"Dengan berbagai skenario ini, defisit 3% sulit dipertahankan, kecuali mau memotong belanja dan pertumbuhan. Ini berbagai skenario yang perlu kita rapatkan secara terbatas," kata Airlangga.
Tak hanya itu, asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga berpotensi melemah drastis hingga ke level Rp17.500/US$, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang akan melambat, meski masih tetap akan dipertahankan di level 5%. Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi negara berpotensi ke level lebih dari 7%.
Dengan adanya ketiga skenario tersebut, pemerintah mengaku sedang menyiapkan Perppu guna mengubah batas defisit APBN melewati level 3% terhadap PDB. Hal ini sama seperti yang dilakukan ketika ada kondisi darurat pandemi Covid-19.
Tak hanya itu, asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga berpotensi melemah drastis hingga ke level Rp17.500/US$, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang akan melambat, meski masih tetap akan dipertahankan di level 5%. Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi negara berpotensi ke level lebih dari 7%.
Dengan adanya ketiga skenario tersebut, pemerintah mengaku sedang menyiapkan Perppu guna mengubah batas defisit APBN melewati level 3% terhadap PDB. Hal ini sama seperti yang dilakukan ketika ada kondisi darurat pandemi Covid-19.
Berikut ketiga skenario yang disiapkan pemerintah:
Skenario I
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 5 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$86 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.000/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,3% dari target awal 5,4%. Yield SBN 6,9% dengan asumsi defisit APBN 3,18%.
Skenario II
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 6 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$97 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.300/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,23% dari target awal 5,4%. Yield SBN 7,2% dengan asumsi defisit APBN 3,53%.
Skenario III
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 10 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$115 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.500/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,2% dari target awal 5,4%. Yield SBN 7,2% dengan asumsi defisit APBN 4,06%.
Skenario I
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 5 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$86 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.000/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,3% dari target awal 5,4%. Yield SBN 6,9% dengan asumsi defisit APBN 3,18%.
Skenario II
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 6 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$97 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.300/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,23% dari target awal 5,4%. Yield SBN 7,2% dengan asumsi defisit APBN 3,53%.
Skenario III
Dengan adanya asumsi terjadi perang AS-Israel dan Iran selama 10 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$115 per barel, dari asumsi saat ini US$70 per barel. Kemudian, kurs rupiah bisa melonjak menjadi Rp17.500/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,2% dari target awal 5,4%. Yield SBN 7,2% dengan asumsi defisit APBN 4,06%.
Secara garis besar, ketiga skenario ini memperkirakan bahwa harga minyak mentah akan melonjak ke level US$90 per barel jika perang terjadi selama 5 bulan. Kemudian, harga minyak bisa menembus level US$107 per barel jika perang terjadi selama 6 bulan. Terakhir, harga minyak bahkan bisa melewati angka US$130 per barel jika terjadi selama 10 bulan, dengan level akhir US$125 per barel pada Desember mendatang.
Histori Harga Minyak Dunia
Dalam paparannya, Airlangga menceritakan, dalam 25 tahun terakhir, harga minyak tertinggi berada di angka US$139 per barel, yakni pada Juni 2008. Kemudian, level harga minyak merosot US$46 per barel pada Desember 2008, akibat krisis properti subprime mortgage di Amerika Serikat.
Kenaikan harga minyak juga terjadi akibat ada permintaan besar dari China, di tengah pasokan cadangan OPEC terbatas.
"Nah kali ini cadangan relatif Amerika Serikat aman dan mereka punya cadangan nasional mereka, belum strategic petroleum reserve-nya dari berbagai negara itu belum ada yang dikeluarkan," tutur dia.
Selanjutnya, pada 2011, harga minyak dunia sempat berada di level US$125 per barel. Saat itu, rentang harga minyak berada di level US$98-US$123 per barel dalam tiga tahun akibat Arab Spring serta kebijakan pelonggaran moneter atau quantitative easing di Amerika Serikat yang menghadapi krisis finansial saat itu.
Kemudian, saat perang Rusia dan Ukraina pada 2022, harga minyak dunia sempat menyentuh US$110 per barel, sebelum akhirnya menurun menjadi US$78 per barel pada September 2022.
"Sedangkan harga minyak Indonesia dibandingkan harga Brent bedanya US$3 per barel.
Dalam paparannya, Airlangga menceritakan, dalam 25 tahun terakhir, harga minyak tertinggi berada di angka US$139 per barel, yakni pada Juni 2008. Kemudian, level harga minyak merosot US$46 per barel pada Desember 2008, akibat krisis properti subprime mortgage di Amerika Serikat.
Kenaikan harga minyak juga terjadi akibat ada permintaan besar dari China, di tengah pasokan cadangan OPEC terbatas.
"Nah kali ini cadangan relatif Amerika Serikat aman dan mereka punya cadangan nasional mereka, belum strategic petroleum reserve-nya dari berbagai negara itu belum ada yang dikeluarkan," tutur dia.
Selanjutnya, pada 2011, harga minyak dunia sempat berada di level US$125 per barel. Saat itu, rentang harga minyak berada di level US$98-US$123 per barel dalam tiga tahun akibat Arab Spring serta kebijakan pelonggaran moneter atau quantitative easing di Amerika Serikat yang menghadapi krisis finansial saat itu.
Kemudian, saat perang Rusia dan Ukraina pada 2022, harga minyak dunia sempat menyentuh US$110 per barel, sebelum akhirnya menurun menjadi US$78 per barel pada September 2022.
"Sedangkan harga minyak Indonesia dibandingkan harga Brent bedanya US$3 per barel.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/102888/pemerintah-buat-skenario-terbaik-terburuk-antisipasi-defisit-apbn/
Kok ane ga kaget.... 

Kalau tiba2 IHSG atau kurs anjlok akibat credit rating dipangkas, ane ga kaget juga sih.. 

Memang sudah on the right track menuju Bubar 2030
saya.palsu memberi reputasi
1
233
15
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan