Kaskus

Story

revan.hidayatAvatar border
TS
revan.hidayat
PETAKA MAIN DENGAN ISTRI ORANG
[PART 2]

Karena sering berangkat dan pulang kerja bersama, hubungan saya dengan Wati semakin dekat. Suatu malam, tiba-tiba saya menerima pesan BBM darinya (pada masa itu WhatsApp belum populer).
Wati: “Van, lagi apa?”
Saya: “Biasa, lagi nonton TV sambil sebat. Kenapa, Wat?”
Wati: “Udah makan belum? Main sini ke kontrakan, makanan masih banyak. Sayang kalau nggak abis, takut basi.”
Saya: “Ogah ah, ada suami kamu, Muklis. Nanti dikira saya ngapelin istri orang.”
Wati: “Muklis shift malam, udah berangkat tadi maghrib. Ayo sini, makan. Banyak banget.”
Saya: “Yaudah, bentar mandi dulu. Nanti saya ke situ.”
Wati: “Dih, jam segini belum mandi. Jorok banget lu, Van.”
Saya: “Bagen ah, Wat. Tadi keasyikan nonton TV sampai lupa waktu.”
Setelah mandi, saya langsung meluncur ke kontrakan Wati. Kebetulan saya memang sedang bosan dengan menu warteg yang itu-itu saja, jadi tawaran makan gratis jelas tidak bisa saya tolak.
Sesampainya di depan pintu, saya mengetuk pelan.
Tok tok tok.
Saya: “Wat… Wati…”
Wati: “Iya, bentar.”
Pintu pun dibuka.
Wati: “Sini, Van, masuk.”

Begitu masuk, saya melihat di depan TV sudah tersedia piring berisi nasi, sayur asem, sambal teri, dan gorengan.

Saya: “Beugh, makan enak malam ini, Wat. Ini kamu yang masak sendiri?”
Wati: “Iya lah, siapa lagi. Udah, makan dulu gih.”

Saya pun mulai makan sambil sesekali melirik Wati yang sedang duduk menonton TV. Ia mengenakan hotpants dan kaos santai. Pandangan saya jadi tidak fokus, antara menikmati makanan dan memikirkan hal lain yang tiba-tiba muncul di kepala.
Selesai makan, saya dan Wati ngobrol santai sambil menonton TV. Setelah itu, saya pamit pulang.

Namun sesampainya di rumah, pikiran saya tidak bisa tenang. Bayangan tentang apa yang saya lihat di kontrakan Wati terus muncul.
Dalam hati, saya berdebat dengan diri sendiri.
“Wati itu kan sudah punya suami. Mana mungkin dia suka sama saya?”
Tapi di sisi lain, muncul pikiran lain:
“Apa mungkin Wati sebenarnya memberi lampu hijau? Kalau dia tidak suka, mana mungkin dia mengundang saya datang ke kontrakannya untuk makan. Apalagi dengan penampilan santainya seperti tadi.”

Pertarungan pikiran itu membuat saya semakin bingung. Antara logika yang mengingatkan bahwa Wati sudah berstatus istri orang, dan perasaan yang mulai meyakini ada sinyal khusus dari dirinya.

Esok paginya, seperti biasa saya menjadi “ojek pribadi” Wati. Saya menjemputnya di kontrakan untuk berangkat kerja bersama.
Di depan kontrakan, ternyata suaminya, Muklis, sedang ada di sana.
Saya: “Klis, nggak kerja?”
Muklis: “Kerja, Van. Shift malam. Ini baru pulang.”

Tak lama kemudian, Wati keluar sambil menyeka rambut panjangnya yang masih basah. Ia pamit pada Muklis, lalu kami langsung berangkat menuju bengkel.

Sepanjang hari, saya merasa kurang fokus bekerja. Leher rasanya berat sebelah karena keinginan untuk terus menoleh ke arah Wati.

Seperti biasa, sore harinya saya membantu Wati membuat laporan, lalu mengantarnya pulang.
Malam harinya, karena saya tahu Muklis sedang shift malam, saya iseng mengirim pesan BBM pada Wati.

Saya: “Lagi ngapain, Wat?”
Wati: “Biasa, lagi nonton TV sambil tiduran. Kenapa, Van?”
Saya: “Mau main ke kontrakan kamu, Wat. Bosan juga di kosan sendirian.”
Wati: “Yaudah, sini aja. Nggak apa-apa.”

Membaca balasan itu, saya langsung bersemangat. Tanpa pikir panjang, saya meluncur ke kontrakan Wati.

Sesampainya di sana, ia membukakan pintu dan saya masuk. Kami ngobrol panjang, ngalor-ngidul, sambil duduk santai. Perlahan, saya sengaja mendekatkan posisi duduk hingga akhirnya kulit bersentuhan. Saya memberanikan diri menyentuh rambutnya, lalu memeluknya dari belakang.

Yang membuat saya terkejut, Wati tidak menolak. Justru gesturnya terlihat nyaman. Saat mata kami bertemu, saya memberanikan diri mencium keningnya, lalu turun ke bibir. .
Tangan pun akhir nya ber grilia mendaki gunung namun belum berani lewati Lembah. Wati ngeluarin suara mendesah yang buat suasana makin memanas, sesekali wati memandang  sambil memasang mimic wajah yang terangsang.

Saking udah kebawa suasana akhirnya coba beranikan diri tangan menyusuri Lembah, namun di tahan oleh penjaga gawang.
Wati: “Jangan ke situ, ah.”
Saya: “Maaf, Wat. Kebawa suasana.”

Setelah itu, kami kembali mengobrol hingga jam menunjukkan pukul 23.00. Akhirnya saya pamit pulang, dengan pikiran yang penuh campuran rasa senang sekaligus bingung.
 

(Bersambung dulu ya, pegel ngetik mulu…….)

Diubah oleh revan.hidayat 13-03-2026 17:38
abroiler81Avatar border
teguhjepang9932Avatar border
Nikita41Avatar border
Nikita41 dan 11 lainnya memberi reputasi
10
4.5K
13
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan