Kaskus

News

jaguarxj220Avatar border
TS
jaguarxj220
Rupiah Dibuka di Atas Rp17.000/US$, Efek Harga Minyak Melonjak
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot hari ini melemah dan menyentuh level psikologisnya selama ini, seiring penguatan dolar AS terhadap seluruh mata uang utama menyusul melonjaknya harga minyak di atas US$100 per barel.

Pada pembukaan perdagangan spot Senin (9/3/2026) rupiah melemah 0,64% ke Rp17.015/US$ setelah indeks dolar AS menguat 0,7% ke 99,67. Tak berselang lama, rupiah kembali defensif dan berada di level Rp16.989/US$ pada 09:04 WIB.

Dolar AS mendapat banyak dukungan dari statusnya sebagai aset safe haven tradisional serta posisi Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih. Pada saat yang sama, ekspektasi pelonggaran kebijakan Federal Reserve pada 2026 mulai dikurangi,” kata Ray Attrill, kepala strategi valas di National Australia Bank Ltd, seperti dikutip Bloomberg News.

Penguatan ini membuat mayoritas mata uang Asia melemah. Peso Filipina melemah paling tajam, disusul baht Thailand, won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Taiwan dan Singapura, serta ringgit Malaysia. Begitu juga dengan yuan baik offshore maupun spot. Sebaliknya hanya dolar Hong Kong yang tercatat di zona hijau, itupun hanya 0,10%.

Sebagai pasar yang memiliki ketergantungan terhadap minyak cukup tinggi, negara-negara di Asia terdampak langsung dari kebijakan Uni Emirat Arab dan Kuwait yang memangkas produksi minyak di tengah konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.

Sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC dengan tingkat produksi lebih dari 3,5 juta barel per hari pada Januari, pernyataan pemangkasan produksi ini membuat harga minyak melejit. Pagi ini, Brent diperdagangkan mendekati US$110 per barel, lebih mahal sekitar US$40 dari penutupan pekan lalu.

Sebelumnya, perang Timur Tengah telah membuat kapal tanker minyak tertahan di Teluk Persia, tak bisa melanjutkan perjalanan ke Teluk Hormuz. Kondisi ini mengancam rantai pasok minyak global dan telah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah.

Dari dalam negeri, pemerintah masih belum mempertimbangkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Hal ini justru membuat pelaku pasar khawatir dengan kondisi fiskal.

Lonjakan harga minyak juga berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan negara pengimpor energi seperti Indonesia, sekaligus mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven seperti dolar AS.

https://www.bloombergtechnoz.com/det...nyak-melonjak/

Mantap, AS setrongg.. emoticon-Ngakak (S)


Indon pilihannya naikkan harga BBM, atau APBN rungkad, defisit jebol...
Dua2nya ga ada yg bagus...

Motong/setop anggaran MBG pasti ga mau.. emoticon-Betty (S)

Hancur sudah IDR... emoticon-Cape d... (S)

0
793
10
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan