TS
zaitunbening
Donat Kebahagiaan

"Tante, mau beli kue?"
Tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara dua anak. Kira-kira mereka kelas lima atau enam SD. Beberapa bulan lalu, suara anak ini juga mengejutkan saya di rumah. Waktu itu saya tidak beli karena terburu-buru mau masuk. Kebelet. Setelah suasana sudah tenang, saya mikir, kasihan dua anak tadi dagangannya enggak saya beli. Dalam hati saya berjanji, kalau mereka datang lagi, saya beli kuenya. Hari ini alam memberi saya kesempatan bertemu lagi dengan dua anak itu. Saya tuntaskan rasa bersalah kemarin.
"Boleh tante lihat dulu ke sini?"
Dua box berukuran sedang, mereka bawa ke dekat saya. Mereka jual donat dan kukis. Satu porsi dijual lima ribu dengan dua buah masing-masing. Tampilannya tidak begitu menggugah selera, tetapi saya tidak sedang membeli selera.
Pukul 14.00, matahari sekarang tidak bersahabat dengan bumi. Teriknya Kebangetean, belum lagi puasa. Harusnya mereka tidur, tetapi memilih jualan. Bagaimana pun latar belakangnya, bukan urusan saya. Yang penting mereka berani tidak meminta-minta. Mereka juga berani tidak menyusahkan orang lain. Saya pikir uang lima ribu tidak begitu berarti buat saya, bagi mereka bisa jadi sangat berharga. Rasanya ikut bahagia melihat mereka mengatakan "terima kasih, tante!" sambil senyum. Matanya tidak bisa berbohong kalau memang sebahagia itu dagangannya dibeli.
Sebenarnya kami sama, sama-sama berjualan untuk menyambung hidup. Bedanya, saya sudah dewasa mereka masih anak-anak. Kalau semangatnya jelas melebihi saya. Saya tidak kasihan karena di usia mereka yang masih muda sudah berjualan keliling, saya membeli juga tidak semata-mata kasihan. Namun, tidak ada salahnya kita saling bertukar kebahagiaan sesama perintis. Hihi... Saya membeli semangat mereka dengan uang, mereka pun membeli letih saya. Adil. Tidak harus sama rata, bukan?
Ditulis oleh : Zaitun, Pegiat Literasi sekaligus Delegasi Duta Baca Nusantara
Diubah oleh zaitunbening 28-02-2026 14:36
0
18
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan