Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
26 Februari1999, sejarah politik Papua yang terlupakan

26 Februari1999, sejarah politik Papua yang terlupakan
February 27, 2026 in Polhukam Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
Politik Papua
Suasana launching dan bedah buku Tiga Seri Buku Thom Beanal, di Aula Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Kota Jayapura Papua Kamis (26/02/2026).-Jubi/Aida Ulim

Jayapura, Jubi – Dosen Antropologi Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Dr. Budi Hernawan mengatakan 26 Februari 1999, merupakan titik penting dalam sejarah politik Papua modern, yang mulai terlupakan.
Ketika itu, almarhum Thom Beanal memimpin tim 100 bertemu Presiden Republik Indonesia ke-3, B.J. Habibie di Istana Negara Jakarta, untuk membicarakan masa depan Papua.

Pertemuan ini sering dianggap sebagai momen dialog historis antara Papua dan pemerintah pusat di awal masa reformasi.

“Mengapa 26 Februari tidak diperingati sebagai hari bersejarah bangsa Papua? [Padahal] peristiwa itu merupakan titik penting dalam sejarah politik Papua modern. Setelah 27 tahun berlalu, melewati era Presidium Dewan Papua atau PDP dan berbagai diskusi publik, generasi muda mulai melupakan makna tanggal tersebut,” kata Budi Hermawan.


Pernyataan itu disampaikan Budi Hernawan saat memberi tanggapan dalam peluncuran dan bedah buku tiga seri Thom Beanal di Aula Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua Kamis (26/02/2026).

Katanya, mungkin saja kini sudah banyak generasi muda Papua yang tidak lagi mengingat atau mengetahui makna 26 Februari 1999 itu.

Padahal peristiwa itu, bukan sekadar momentum politik, juga menjadi titik balik lahirnya refleksi panjang yang kemudian dirumuskan dengan istilah memoria passionis.

Istilah ini dipinjam dari teolog Jerman, Johann Baptist Metz. Dalam pemikiran Metz, terdapat tiga jenis ingatan, yaitu ingatan masa keemasan, ingatan masa kelam, dan ingatan yang membelah pusat hidup memoria passionis.

Jenis ingatan terakhir inilah yang, menurutnya relevan bagi Papua, ingatan yang tidak berhenti pada nostalgia atau trauma, tetapi membongkar kenyataan hari ini dan membuka arah masa depan.

“Kita bukan sekadar mengenang, tetapi menghidupkan kembali sejarah itu,” ucapnya.

Budi Hernawan juga mengutip pesan dari tokoh Papua, Pdt. Dr. Benny Giay yang menyatakan “Minumlah air dari sumbermu sendiri.”

Pesan tersebut dimaknai sebagai ajakan agar orang Papua menulis sejarahnya sendiri secara reflektif, bukan sekadar memposting atau menyebarkan ulang narasi di media sosial.

Menurut Budi Hernawan, Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia, akan tetapi masih lemah dalam budaya menulis reflektif.

“Hal itu terjadi di Papua, di mana lebih banyak menyebarkan daripada mendalami dan mendokumentasikan secara kritis,” ujarnya.

Budi Hernawan pun mempertanyakan, apakah cukup hanya mengenang sosok Tom Beanal, atau menghidupkan kembali semangat dan keberaniannya. Sebab Tanah Papua merupakan bagian dari sejarah panjang yang terus berulang.

“Sejarah bukan sekadar cerita lama, akan tetapi ingatan yang menuntut tanggung jawab hari ini dan keberanian untuk menatap masa depan. Apakah kita sekadar mengenang, atau menghidupkan kembali,” katanya.

Dalam refleksinya, Budi Hernawan menyoroti tiga kenyataan yang terjadi di Tanah Papua kini. Pertama, Tanah Papua telah terbagi menjadi enam provinsi dengan enam gubernur, enam DPR provinsi, enam Majelis Rakyat Papua atau MRP, dan perangkat birokrasi besar.

Kedua, Tanah Papua dikepung investasi mulai dari wilayah Kepala Burung hingga Papua Selatan atau dari Sorong hingga Merauke, berbagai konsesi perkebunan, tanaman industri, dan proyek strategis nasional membentang luas.

Ketiga, Tanah Papua dikepung aparat keamanan. Jumlah TNI dan Polri di Tanah Papua disebut mencapai sekitar 83 ribu personel. Sekitar 28 ribu di antaranya adalah pasukan tempur. Sementara jumlah anggota TPNPB hanya sekitar 1.438 orang.

“Jika dibandingkan, kekuatannya sekitar 58 kali lebih besar, Ini seperti Daud melawan Goliat.”

Penanggap lainnya, Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua atau AlDP, Latifa Anum Siregar mengatakan, buku tentang Thom Beanal itu sangat kaya karena melibatkan banyak penulis, dan melihat sosok Thom Beanal dari berbagai sudut pandang.

“Peran Thom [Beanal] sebagai guru, aktivis LSM (lembaga swadaya masyarakat), dan tokoh adat yang menyatu dalam satu pribadi, sehingga pemikiran dan perjuangannya mampu menembus berbagai ruang,” kata Anum Siregar.

Katanya, situasi politik di Tanah Papua berubah setelah penculikan dan pembunuhan tokoh Papua, Theys Hiyo Eluay pada 10 November 2001. Peristiwa itu, meninggalkan trauma mendalam.

Saat Theys Eluay dimakamkan, Thom Beanal menyampaikan bahwa kematian seperti itu bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari rangkaian kekerasan yang kerap terjadi di Tanah Papua.

Menurut Anum, pernyataan tersebut kini terasa semakin relevan, seiring meningkatnya konflik bersenjata dan korban sipil di berbagai wilayah.

“Kekerasan itu hadir di halaman rumah kita, di setiap sudut tempat kita berada. Ini bukan cerita indah, melainkan realitas yang pahit,” ujarnya.

Anum Siregar mengatakan, gagasan dialog yang pernah didorong oleh Thom Beanal dalam resolusi Kongres Papua 2000, juga mesti kembali ditekankan sebagai jalan damai yang tetap relevan hingga kini.

Ia mengingatkan, pesan-pesan perjuangan Thom Beanal harus dibaca, dipahami, dan dirajut kembali oleh generasi muda, sehingga menjadi kerja nyata serta konsolidasi bersama demi masa depan Papua. (*)

https://jubi.id/polhukam/2026/26-feb...ng-terlupakan/

soal tokoh Thom Beanal


0
59
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan