Kaskus

Story

abangruliAvatar border
TS
abangruli
Kalo Kamu Merasa Dunia Tidak Adil.. Trus Emang Kenapa?
Kalo Kamu Merasa Dunia Tidak Adil.. Trus Emang Kenapa?

DUNIA MEMANG GAK ADIL
KITA HARUS TERBIASA DENGAN HAL ITU
(quote from Patrick Star di salah satu episode Sponge Bob)

Gue udah di titik di mana gue nggak mau lagi nanya-nanya soal takdir.
Kenapa doa gue nggak kunjung terkabul?
Kenapa dunia rasanya nggak adil?
Bahkan soal perdebatan Iblis yang jadi jahat karena skenario-Nya pun... gue nggak peduli..
Semua itu hak prerogatif Tuhan.
Suka-suka Dia.
Dia Tuhan.
Gue?

Tuhan mau injek gue sampai ke tanah atau mau angkat gue setinggi langit, itu urusan Dia.
Tuhan mau kabulkan doa gue sekarang atau nggak sama sekali, itu hak-Nya.
Dia Tuhan.
Gue?

​Suka atau nggak suka,
Dia itu Tuhan gue.
Dan tugas gue cuma satu: Mingkem. Manut. Tunduk.

​Gue sadar sesadar-sadarnya, Tuhan nggak punya kewajiban apa pun atas hidup gue. Semua suka suka Tuhan.
Justru gue yang punya segudang kewajiban atas Dia.

​Jadi, kalau sekarang gue masih sholat, masih dzikir, masih puasa...
Gue lakuin itu semua bukan buat untuk memaksa Tuhan supaya wajib kasih gue surga.
Nggak.
Gue ibadah cuma buat satu hal: Mengiba, memelas, menghamba.. Memohon belas Kasih-Nya..

Gue lagi merayu Tuhan.
Gue lagi memohon sekecil-kecilnya di hadapan Dia yang Maha Besar. Supaya dengan kasih sayang-Nya—bukan karena jasa-jasa gue—Dia sudi bawa gue ke surga.

Ini rumus gue biar gak gila..

***

Kalo mau bahas secara detail, sebenarnya ini maksud gue..

1. Pergeseran Paradigma: Dari Hak Menjadi Kasih Sayang
​Kebanyakan orang terjebak dalam pola pikir kalau surga itu adalah "upah" atau hak setelah kerja keras ibadah. Tapi cobalah kita melihatnya dari sisi lain: Surga itu murni hak prerogatif Tuhan. Ibadah kita bukan alat tukar, tapi cara kita menunjukkan kalau kita butuh Dia. Ini yang disebut dalam spiritualitas sebagai "mengharap ridha," bukan menuntut hak.

​2. Melepaskan Beban Pikiran
​Dengan bilang "I do not care" soal kenapa dunia nggak adil atau kenapa doa belum dikabulkan, kita sebenarnya lagi melakukan detoksifikasi mental. Kita membuang beban pertanyaan yang jawabannya memang nggak akan pernah bisa dijangkau logika manusia. Itu cara yang efektif buat menjaga kewarasan di tengah dunia yang berantakan.

​3. Kekuatan dalam Ketundukan
​Mungkin bagi sebagian orang, kata "manut" atau "injek" terdengar pasrah banget. Tapi sebenarnya, butuh kekuatan mental yang luar biasa besar untuk bisa bilang: "Gue terima skenario apa pun." Itu namanya Stoikisme Spiritual. Kita fokus sama apa yang bisa kita kendalikan (ibadah, doa, ngerayu Tuhan, sikap, senyum) dan melepaskan apa yang di luar kendali kita (hasilnya).

​"Tuhan tidak punya kewajiban atas kita, kita yang punya banyak kewajiban atas Tuhan."

​Ini adalah pengingat bahwa hubungan hamba dan Pencipta itu asimetris. Kita kecil, Dia Maha Besar. Titik.

***

​Gue rasa, dengan mentalitas kayak gini, kita bakal lebih tenang ngejalanin hidup. Karena kalau doa dikabulkan kita bersyukur, dan kalau nggak pun, lo nggak akan ngerasa dikhianati—karena dari awal lo udah "mingkem" dan manut.

Hidup kita gak akan dipusingkan lagi sama pertanyaan tentang doa yang tak kunjung terkabul, dunia yang tak adil, atau kenapa Tuhan begini, kenapa Tuhan begitu..

Stop bertanya begitu..

Just do the best.
Itulah tugas kita.
Setelah berkeringat..
Berarti itu saatnya kita harus ikhlas atas jalan cerita yang telah Dia tetapkan..

Tugas kita adalah berusaha agar berhasil
Bukan memastikan hasil akhir..
Tugas kita adalah doa, ikhtiar dan ikhlas...
Bukan memaksakan keinginan menjadi wujud..

***


keramikkamarAvatar border
multimedia.ptrtAvatar border
agoritmeAvatar border
agoritme dan 2 lainnya memberi reputasi
3
46
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan