- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Moodys Beri Rating Baa2 untuk Global Bonds Indonesia
TS
jaguarxj220
Moodys Beri Rating Baa2 untuk Global Bonds Indonesia
Bloomberg Technoz, Jakarta - Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore China dan euro yang diterbitkan pemerintah Indonesia dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai US$10 miliar.
Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.
Lembaga pemeringkat tersebut juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia.
Namun, stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, kemudian juga diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif.
Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing, sebuah dinamika yang jika berlanjut berpotensi menggerus daya tarik investasi sekaligus meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Masalah mendasar terletak pada dilema klasik fiskal Indonesia, yaitu kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik di tengah basis penerimaan negara yang sempit. Pemerintah diperkirakan akan semakin mengandalkan belanja fiskal untuk mendukung agenda pembangunan, termasuk program ketahanan pangan dan perumahan terjangkau.
Namun, terbatasnya kemampuan pemerintah dalam memperluas basis pajak malah meningkatkan risiko pelebaran defisit fiskal dalam jangka menengah, terutama jika ekspansi belanja tidak diimbangi oleh reformasi penerimaan yang signifikan.
Moody’s memperkirakan rasio utang pemerintah akan tetap stabil di sekitar 40% terhadap PDB, atau masih di bawah median negara-negara dengan peringkat serupa.
"Meski demikian, keterjangkauan utang (debt affordability) Indonesia tetap menjadi perhatian utama. Dengan rasio penerimaan terhadap PDB yang rendah, ruang fiskal menjadi terbatas dan sensitivitas terhadap perubahan sentimen pasar meningkat," kata laporan Moody's seperti dikutip dari Bloomberg News (24/2/2026).
Moody's juga menggarisbawahi adanya dimensi risiko lain yang muncul dari pembentukan sovereign wealth fund baru, Danantara. Ketidakpastian terkait mekanisme pembiayaan dan tata kelola lembaga ini dinilai berpotensi meningkatkan kewajiban kontinjensi pemerintah, khususnya mengingat kewenangannya atas aset badan usaha milik negara (BUMN) dan agenda investasinya yang ambisius. Tanpa kerangka tata kelola yang transparan dan akuntabel, eksposur fiskal implisit dari entitas semacam ini dapat dengan cepat menjadi sumber tekanan terhadap neraca pemerintah.
Outlook negatif yang dilabel Moody’s pada ini cukup mencerminkan kekhawatiran atas arah kebijakan yang semakin sulit diprediksi. Dalam jangka panjang, tergerusnya kredibilitas kebijakan berisiko dapat melemahkan fondasi stabilitas makroekonomi yang selama ini menopang pertumbuhan Indonesia.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...nds-indonesia/
Moody masih baik loh, asumsi defisit APBN dipercaya masih 3%, rasio utang 40%.
Padahal mah rasanya nggak mungkin lagi tahun ini masih segitu. Hampir pasti jebol 3%.
Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.
Lembaga pemeringkat tersebut juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia.
Namun, stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, kemudian juga diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif.
Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing, sebuah dinamika yang jika berlanjut berpotensi menggerus daya tarik investasi sekaligus meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Masalah mendasar terletak pada dilema klasik fiskal Indonesia, yaitu kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik di tengah basis penerimaan negara yang sempit. Pemerintah diperkirakan akan semakin mengandalkan belanja fiskal untuk mendukung agenda pembangunan, termasuk program ketahanan pangan dan perumahan terjangkau.
Namun, terbatasnya kemampuan pemerintah dalam memperluas basis pajak malah meningkatkan risiko pelebaran defisit fiskal dalam jangka menengah, terutama jika ekspansi belanja tidak diimbangi oleh reformasi penerimaan yang signifikan.
Moody’s memperkirakan rasio utang pemerintah akan tetap stabil di sekitar 40% terhadap PDB, atau masih di bawah median negara-negara dengan peringkat serupa.
"Meski demikian, keterjangkauan utang (debt affordability) Indonesia tetap menjadi perhatian utama. Dengan rasio penerimaan terhadap PDB yang rendah, ruang fiskal menjadi terbatas dan sensitivitas terhadap perubahan sentimen pasar meningkat," kata laporan Moody's seperti dikutip dari Bloomberg News (24/2/2026).
Moody's juga menggarisbawahi adanya dimensi risiko lain yang muncul dari pembentukan sovereign wealth fund baru, Danantara. Ketidakpastian terkait mekanisme pembiayaan dan tata kelola lembaga ini dinilai berpotensi meningkatkan kewajiban kontinjensi pemerintah, khususnya mengingat kewenangannya atas aset badan usaha milik negara (BUMN) dan agenda investasinya yang ambisius. Tanpa kerangka tata kelola yang transparan dan akuntabel, eksposur fiskal implisit dari entitas semacam ini dapat dengan cepat menjadi sumber tekanan terhadap neraca pemerintah.
Outlook negatif yang dilabel Moody’s pada ini cukup mencerminkan kekhawatiran atas arah kebijakan yang semakin sulit diprediksi. Dalam jangka panjang, tergerusnya kredibilitas kebijakan berisiko dapat melemahkan fondasi stabilitas makroekonomi yang selama ini menopang pertumbuhan Indonesia.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...nds-indonesia/
Moody masih baik loh, asumsi defisit APBN dipercaya masih 3%, rasio utang 40%.
Padahal mah rasanya nggak mungkin lagi tahun ini masih segitu. Hampir pasti jebol 3%.
dungu_83rat dan 2 lainnya memberi reputasi
3
960
8
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan