- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN HOROR] Misteri Hantu Harimau
TS
aurora..
[CERPEN HOROR] Misteri Hantu Harimau
Hujan turun rintik-rintik di kawasan bisnis Jakarta ketika papan nama Hotel Opalescent berkilau diterpa lampu sorot. Gedung itu menjulang dengan dinding kaca kehijauan, memantulkan bayangan kendaraan yang melintas di jalan arteri. Dari luar, hotel tersebut tampak seperti lambang kemewahan modern, dengan lantai granit yang berkilauan, lampu kristal menggantung di lobi, dan aroma parfum ruangan yang lembut menyambut setiap tamu.
Namun, di balik kemewahan itu, tersimpan satu mitos yang membuat sebagian karyawan memilih tidak masuk kerja setiap malam Jumat.
Mitos tentang hantu harimau.
***
Cerita itu bermula dari bisik-bisik para petugas kebersihan yang bekerja di lantai 7. Mereka mengaku pernah mendengar suara auman lirih di lorong kosong sekitar pukul 2 dini hari. Bukan suara kucing liar, bukan pula suara televisi dari kamar tamu. Auman itu panjang, berat, dan seolah menggema dari dalam dinding.
“Aku lihat bayangannya,” ucap Ratna, seorang housekeeper senior, pada suatu malam di ruang istirahat
Wajah Ratna pucat, kedua tangannya gemetar memegang cangkir teh.
“Besar sekali. Matanya kuning menyala.” lanjut Ratna
Satpam bernama Damar menertawakannya.
“Di Jakarta mana ada harimau, Mbak Ratna? Ini bukan hutan.”
Ratna hanya menggeleng pelan.
“Justru karena itu, Pak. Harimau itu bukan harimau yang hidup.”
Sejak saat itu, isu tentang siluman harimau menyebar. Konon, wujudnya setengah manusia, setengah harimau Sumatra. Tubuhnya tinggi dengan loreng samar di kulitnya. Kukunya panjang dan tajam, mampu merobek pintu kayu seperti kertas. Dan setiap malam Jumat, hantu itu akan menampakkan diri dan mencari mangsa.
Sebagian orang menganggap itu sebagai sekadar cerita untuk menakut-nakuti pegawai baru. Namun, semuanya berubah pada malam Jumat terakhir di bulan November.
***
Arga, seorang konsultan keuangan berusia 35 tahun, check-in di Hotel Opalescent untuk perjalanan bisnis. Arga memilih kamar 707, kamar deluxe dengan pemandangan kota. Arga adalah pria rasional. Arga tidak percaya takhayul dan tidak takut pada cerita hantu.
“Hotel bintang lima kok ada hantu,” gumam Arga sambil terkekeh, ketika resepsionis dengan ragu mengingatkannya bahwa malam itu malam Jumat
Arga memesan makan malam ke kamar, menyelesaikan beberapa laporan, lalu mandi air hangat sebelum tidur. Pukul 11 malam, lampu kamar dipadamkan. Kota Jakarta masih hidup di luar jendela.
Sekitar pukul 2 dini hari, seorang tamu di kamar sebelah terbangun karena mendengar suara seperti benda berat jatuh. Diikuti suara gesekan panjang di dinding, seperti cakar yang menyeret plesteran.
Namun, tamu itu terlalu mengantuk untuk peduli.
Pagi harinya, housekeeper menemukan sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Pintu kamar 707 setengah terbuka. Lantai kamarnya dipenuhi darah. Bau amis menyengat.
Tubuh Arga tergeletak di dekat tempat tidur. Matanya terbuka lebar, wajahnya membeku dalam ekspresi teror yang luar biasa. Di dada dan perutnya terdapat empat luka panjang, sejajar, seakan-akan disayat benda tajam besar. Kulitnya robek dalam, memperlihatkan jaringan merah gelap. Darahnya hampir habis menggenangi lantai.
Ratna menjerit hingga pingsan.
Polisi segera datang. Garis polisi dipasang. Manajer hotel tampak panik, mencoba mengendalikan media yang mulai berdatangan.
Hasil pemeriksaan forensik mengejutkan semua pihak.
“Itu bukan luka bacokan,” ucap dokter forensik nada suara serius
“Tidak ada pola tepi seperti senjata tajam biasa. Ini lebih mirip bekas cakaran hewan buas.”
“Hewan buas?” tanya penyidik
“Harimau, misalnya.” jawab dokter forensik
Ruangan itu hening.
“Di Jakarta tidak ada harimau,” balas penyidik pelan
Dokter itu menatap laporan lagi.
“Kecuali di kebun binatang.”
***
Nama Kebun Binatang Ragunan sempat disebut-sebut di media. Wartawan berspekulasi apakah ada harimau yang kabur. Namun, pihak kebun binatang memastikan semua koleksi satwa lengkap dan terkendali. Tidak ada harimau yang lepas.
Sementara itu, isu hantu harimau mencuat kembali. Media sosial penuh dengan cerita-cerita lama dari mantan pegawai Hotel Opalescent. Ada yang mengaku pernah melihat bayangan hewan besar bertaring di tangga darurat. Ada yang mendengar suara auman tertahan dari ruang boiler.
Polisi tidak bisa menutup kemungkinan pembunuhan oleh manusia. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda perlawanan khas korban pembunuhan biasa. Tidak ada sidik jari mencurigakan. CCTV di lorong lantai 7 sempat mati selama 2 jam, tepat saat kejadian.
Dan yang paling aneh, pada dinding kamar 707, ditemukan goresan dalam yang menembus lapisan cat dan semen, membentuk 4 garis paralel, seolah-olah dicakar hewan yang sangat kuat.
***
Kasus ini menarik perhatian seorang jurnalis investigasi bernama Nadine. Nadine terkenal berani menggali kasus-kasus lama yang hampir dilupakan. Nadine merasa ada sesuatu yang disembunyikan pihak hotel.
Nadine mulai menelusuri sejarah pembangunan Hotel Opalescent.
Hotel itu berdiri sejak 2004. Dibangun oleh perusahaan properti besar milik seorang pengusaha bernama Pak Surya. Pembangunan hotel berlangsung sangat cepat, hanya memakan waktu 8 bulan.
Namun, Nadine menemukan kejanggalan dalam arsip berita lama.
Pada tahun 2003, terjadi kasus perburuan ilegal di kawasan hutan Riau. Tiga harimau Sumatra ditemukan tewas ditembak. Kepalanya hilang. Tubuhnya terpotong. Kasus itu sempat ramai, tetapi pelakunya tidak pernah tertangkap.
Nadine membaca ulang artikel lama dengan napas tertahan.
Tiga harimau Sumatra.
Tahun 2003.
Tahun yang sama ketika proyek Hotel Opalescent dimulai.
Nadine menghubungi seorang mantan mandor proyek yang kini tinggal di Bekasi. Awalnya, pria itu menolak bicara. Namun, setelah diyakinkan, pria itu akhirnya membuka mulut.
“Kami disuruh kerja malam,” ucap pria itu dengan suara parau
“Bos besar datang langsung. Ada tiga kepala harimau dibawa pakai peti kayu.”
Nadine menahan napas.
“Untuk apa?” tanya Nadine
“Katanya untuk ritual. Tanah itu angker. Katanya penunggu tanah suka daging harimau. Jadi supaya proyeknya lancar, kepala 3 harimau itu ditanam di pondasi. Bahkan, darah harimaunya dicampur ke adonan semen pertama.”
Tubuh Nadine merinding.
“Siapa yang memerintahkan?”
Pria itu menunduk.
“Pak Surya sendiri.”
***
Berita investigasi Nadine meledak. Judulnya terpampang di halaman depan berbagai portal berita, yaitu “Hotel Mewah Jakarta Dibangun Pakai Darah Harimau?”.
Publik geram. Aktivis lingkungan menuntut penyelidikan ulang kasus perburuan Riau 2003. Polisi membuka kembali berkas lama.
Nama Pak Surya dipanggil sebagai saksi.
Awalnya, Pak Surya membantah.
“Itu semua fitnah,” ucap Pak Surya di depan kamera
“Saya tidak pernah membunuh satwa dilindungi.”
Namun, bukti-bukti mulai bermunculan. Dokumen transfer mencurigakan. Kesaksian sopir truk yang mengangkut peti dari Riau ke Jakarta. Bahkan, foto lama yang memperlihatkan Pak Surya di lokasi perburuan.
Kasus itu menjadi sorotan nasional.
Sementara itu, di Hotel Opalescent, kejadian aneh tidak berhenti. Seorang tamu mengaku melihat bayangan hewan besar berloreng melintas di cermin kamar mandi. Seorang petugas keamanan ditemukan pingsan dengan bekas cakaran dangkal di lengannya. Setiap malam Jumat, auman samar terdengar lagi. Seolah-olah, tiga makhluk itu belum selesai menuntut balas dendam.
***
Akhirnya, polisi menetapkan Pak Surya sebagai tersangka kasus perburuan satwa liar 2003 di kawasan Riau. Pria itu ditangkap di rumah mewahnya di Menteng.
Ia tidak melawan.
Di ruang interogasi, wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Rambutnya memutih sebagian.
“Saya hanya ingin proyek itu berhasil,” ucap Pak Surya pelan
“Tanah itu bermasalah. Banyak kecelakaan kerja. Konsultan spiritual bilang, katanya perlu tumbal besar.”
“Tumbal tiga harimau?” tanya penyidik dengan nada tajam
Pak Surya menunduk.
“Saya pikir itu hanya simbolis.”
“Simbolis?” tanya penyidik dengan suara meninggi
“Itu satwa dilindungi, Pak! Harimau Sumatra sekarang hampir punah!” marah penyidik itu
Pak Surya terdiam lama, lalu berbisik.
“Sejak hotel itu berdiri, saya sering bermimpi. Tiga pasang mata kuning menatap saya. Saya dengar suara auman setiap malam Jumat.”
Penyidik saling berpandangan.
Kasus pembunuhan Arga memang belum terbukti sebagai ulah makhluk gaib. Secara hukum, tidak ada pasal untuk menjerat hantu. Namun, perburuan liar adalah kejahatan nyata.
Pak Surya dijatuhi hukuman penjara atas keterlibatannya dalam perburuan dan perdagangan bagian tubuh satwa dilindungi.
***
Di dalam selnya yang sempit, Pak Surya duduk sendirian pada suatu malam Jumat. Lampu redup. Udara lembap.
Tiba-tiba, Pak Surya mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara auman yang pelan, berat, dan terdengar dekat.
Pak Surya membeku.
Dari sudut sel yang gelap, ia melihat bayangan bergerak. Empat mata kuning menyala dalam kegelapan.
Napasnya tercekat.
“Ampun…” bisik Pak Surya
Bayangan itu mendekat, memperlihatkan wujud siluman harimau, tubuh besar dengan loreng hitam jingga, cakar panjang berkilat. Di belakangnya, dua bayangan lain muncul.
Tiga.
Pak Surya terisak.
“Saya menyesal… saya salah…”
Auman itu menggema di dalam kepalanya. Namun, kali ini, tidak ada cakaran. Tidak ada darah. Hanya tatapan panjang penuh murka.
Ketika sipir memeriksa sel pagi harinya, Surya ditemukan terduduk di sudut, rambutnya memutih seluruhnya dalam semalam. Matanya kosong, bibirnya terus bergumam satu kalimat.
“Tiga harimau… maafkan aku…”
Sejak Pak Surya dipenjara, kejadian aneh di Hotel Opalescent perlahan mereda. Tidak ada lagi korban tewas. Auman malam Jumat jarang terdengar.
Namun, di lantai 7, tepat di bawah fondasi utama bangunan, para pekerja renovasi suatu hari menemukan sesuatu yang membuat darah mereka membeku.
Tulang belulang tengkorak besar, tertanam di antara beton yang menghitam.
Tiga buah tengkorak harimau.
Dan pada malam Jumat berikutnya, seorang pekerja bersumpah melihat bayangan hewan besar berloreng melintas di lorong kosong, bukan dengan tatapan memburu, melainkan dengan langkah tenang, seakan-akan tiga roh hewan itu akhirnya telah mendapatkan sesuatu yang mereka cari, yaitu pengakuan, penyesalan, dan keadilan.
TAMAT
@aldo12 @learntorape @aldo12
Namun, di balik kemewahan itu, tersimpan satu mitos yang membuat sebagian karyawan memilih tidak masuk kerja setiap malam Jumat.
Mitos tentang hantu harimau.
***
Cerita itu bermula dari bisik-bisik para petugas kebersihan yang bekerja di lantai 7. Mereka mengaku pernah mendengar suara auman lirih di lorong kosong sekitar pukul 2 dini hari. Bukan suara kucing liar, bukan pula suara televisi dari kamar tamu. Auman itu panjang, berat, dan seolah menggema dari dalam dinding.
“Aku lihat bayangannya,” ucap Ratna, seorang housekeeper senior, pada suatu malam di ruang istirahat
Wajah Ratna pucat, kedua tangannya gemetar memegang cangkir teh.
“Besar sekali. Matanya kuning menyala.” lanjut Ratna
Satpam bernama Damar menertawakannya.
“Di Jakarta mana ada harimau, Mbak Ratna? Ini bukan hutan.”
Ratna hanya menggeleng pelan.
“Justru karena itu, Pak. Harimau itu bukan harimau yang hidup.”
Sejak saat itu, isu tentang siluman harimau menyebar. Konon, wujudnya setengah manusia, setengah harimau Sumatra. Tubuhnya tinggi dengan loreng samar di kulitnya. Kukunya panjang dan tajam, mampu merobek pintu kayu seperti kertas. Dan setiap malam Jumat, hantu itu akan menampakkan diri dan mencari mangsa.
Sebagian orang menganggap itu sebagai sekadar cerita untuk menakut-nakuti pegawai baru. Namun, semuanya berubah pada malam Jumat terakhir di bulan November.
***
Arga, seorang konsultan keuangan berusia 35 tahun, check-in di Hotel Opalescent untuk perjalanan bisnis. Arga memilih kamar 707, kamar deluxe dengan pemandangan kota. Arga adalah pria rasional. Arga tidak percaya takhayul dan tidak takut pada cerita hantu.
“Hotel bintang lima kok ada hantu,” gumam Arga sambil terkekeh, ketika resepsionis dengan ragu mengingatkannya bahwa malam itu malam Jumat
Arga memesan makan malam ke kamar, menyelesaikan beberapa laporan, lalu mandi air hangat sebelum tidur. Pukul 11 malam, lampu kamar dipadamkan. Kota Jakarta masih hidup di luar jendela.
Sekitar pukul 2 dini hari, seorang tamu di kamar sebelah terbangun karena mendengar suara seperti benda berat jatuh. Diikuti suara gesekan panjang di dinding, seperti cakar yang menyeret plesteran.
Namun, tamu itu terlalu mengantuk untuk peduli.
Pagi harinya, housekeeper menemukan sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Pintu kamar 707 setengah terbuka. Lantai kamarnya dipenuhi darah. Bau amis menyengat.
Tubuh Arga tergeletak di dekat tempat tidur. Matanya terbuka lebar, wajahnya membeku dalam ekspresi teror yang luar biasa. Di dada dan perutnya terdapat empat luka panjang, sejajar, seakan-akan disayat benda tajam besar. Kulitnya robek dalam, memperlihatkan jaringan merah gelap. Darahnya hampir habis menggenangi lantai.
Ratna menjerit hingga pingsan.
Polisi segera datang. Garis polisi dipasang. Manajer hotel tampak panik, mencoba mengendalikan media yang mulai berdatangan.
Hasil pemeriksaan forensik mengejutkan semua pihak.
“Itu bukan luka bacokan,” ucap dokter forensik nada suara serius
“Tidak ada pola tepi seperti senjata tajam biasa. Ini lebih mirip bekas cakaran hewan buas.”
“Hewan buas?” tanya penyidik
“Harimau, misalnya.” jawab dokter forensik
Ruangan itu hening.
“Di Jakarta tidak ada harimau,” balas penyidik pelan
Dokter itu menatap laporan lagi.
“Kecuali di kebun binatang.”
***
Nama Kebun Binatang Ragunan sempat disebut-sebut di media. Wartawan berspekulasi apakah ada harimau yang kabur. Namun, pihak kebun binatang memastikan semua koleksi satwa lengkap dan terkendali. Tidak ada harimau yang lepas.
Sementara itu, isu hantu harimau mencuat kembali. Media sosial penuh dengan cerita-cerita lama dari mantan pegawai Hotel Opalescent. Ada yang mengaku pernah melihat bayangan hewan besar bertaring di tangga darurat. Ada yang mendengar suara auman tertahan dari ruang boiler.
Polisi tidak bisa menutup kemungkinan pembunuhan oleh manusia. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda perlawanan khas korban pembunuhan biasa. Tidak ada sidik jari mencurigakan. CCTV di lorong lantai 7 sempat mati selama 2 jam, tepat saat kejadian.
Dan yang paling aneh, pada dinding kamar 707, ditemukan goresan dalam yang menembus lapisan cat dan semen, membentuk 4 garis paralel, seolah-olah dicakar hewan yang sangat kuat.
***
Kasus ini menarik perhatian seorang jurnalis investigasi bernama Nadine. Nadine terkenal berani menggali kasus-kasus lama yang hampir dilupakan. Nadine merasa ada sesuatu yang disembunyikan pihak hotel.
Nadine mulai menelusuri sejarah pembangunan Hotel Opalescent.
Hotel itu berdiri sejak 2004. Dibangun oleh perusahaan properti besar milik seorang pengusaha bernama Pak Surya. Pembangunan hotel berlangsung sangat cepat, hanya memakan waktu 8 bulan.
Namun, Nadine menemukan kejanggalan dalam arsip berita lama.
Pada tahun 2003, terjadi kasus perburuan ilegal di kawasan hutan Riau. Tiga harimau Sumatra ditemukan tewas ditembak. Kepalanya hilang. Tubuhnya terpotong. Kasus itu sempat ramai, tetapi pelakunya tidak pernah tertangkap.
Nadine membaca ulang artikel lama dengan napas tertahan.
Tiga harimau Sumatra.
Tahun 2003.
Tahun yang sama ketika proyek Hotel Opalescent dimulai.
Nadine menghubungi seorang mantan mandor proyek yang kini tinggal di Bekasi. Awalnya, pria itu menolak bicara. Namun, setelah diyakinkan, pria itu akhirnya membuka mulut.
“Kami disuruh kerja malam,” ucap pria itu dengan suara parau
“Bos besar datang langsung. Ada tiga kepala harimau dibawa pakai peti kayu.”
Nadine menahan napas.
“Untuk apa?” tanya Nadine
“Katanya untuk ritual. Tanah itu angker. Katanya penunggu tanah suka daging harimau. Jadi supaya proyeknya lancar, kepala 3 harimau itu ditanam di pondasi. Bahkan, darah harimaunya dicampur ke adonan semen pertama.”
Tubuh Nadine merinding.
“Siapa yang memerintahkan?”
Pria itu menunduk.
“Pak Surya sendiri.”
***
Berita investigasi Nadine meledak. Judulnya terpampang di halaman depan berbagai portal berita, yaitu “Hotel Mewah Jakarta Dibangun Pakai Darah Harimau?”.
Publik geram. Aktivis lingkungan menuntut penyelidikan ulang kasus perburuan Riau 2003. Polisi membuka kembali berkas lama.
Nama Pak Surya dipanggil sebagai saksi.
Awalnya, Pak Surya membantah.
“Itu semua fitnah,” ucap Pak Surya di depan kamera
“Saya tidak pernah membunuh satwa dilindungi.”
Namun, bukti-bukti mulai bermunculan. Dokumen transfer mencurigakan. Kesaksian sopir truk yang mengangkut peti dari Riau ke Jakarta. Bahkan, foto lama yang memperlihatkan Pak Surya di lokasi perburuan.
Kasus itu menjadi sorotan nasional.
Sementara itu, di Hotel Opalescent, kejadian aneh tidak berhenti. Seorang tamu mengaku melihat bayangan hewan besar berloreng melintas di cermin kamar mandi. Seorang petugas keamanan ditemukan pingsan dengan bekas cakaran dangkal di lengannya. Setiap malam Jumat, auman samar terdengar lagi. Seolah-olah, tiga makhluk itu belum selesai menuntut balas dendam.
***
Akhirnya, polisi menetapkan Pak Surya sebagai tersangka kasus perburuan satwa liar 2003 di kawasan Riau. Pria itu ditangkap di rumah mewahnya di Menteng.
Ia tidak melawan.
Di ruang interogasi, wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Rambutnya memutih sebagian.
“Saya hanya ingin proyek itu berhasil,” ucap Pak Surya pelan
“Tanah itu bermasalah. Banyak kecelakaan kerja. Konsultan spiritual bilang, katanya perlu tumbal besar.”
“Tumbal tiga harimau?” tanya penyidik dengan nada tajam
Pak Surya menunduk.
“Saya pikir itu hanya simbolis.”
“Simbolis?” tanya penyidik dengan suara meninggi
“Itu satwa dilindungi, Pak! Harimau Sumatra sekarang hampir punah!” marah penyidik itu
Pak Surya terdiam lama, lalu berbisik.
“Sejak hotel itu berdiri, saya sering bermimpi. Tiga pasang mata kuning menatap saya. Saya dengar suara auman setiap malam Jumat.”
Penyidik saling berpandangan.
Kasus pembunuhan Arga memang belum terbukti sebagai ulah makhluk gaib. Secara hukum, tidak ada pasal untuk menjerat hantu. Namun, perburuan liar adalah kejahatan nyata.
Pak Surya dijatuhi hukuman penjara atas keterlibatannya dalam perburuan dan perdagangan bagian tubuh satwa dilindungi.
***
Di dalam selnya yang sempit, Pak Surya duduk sendirian pada suatu malam Jumat. Lampu redup. Udara lembap.
Tiba-tiba, Pak Surya mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara auman yang pelan, berat, dan terdengar dekat.
Pak Surya membeku.
Dari sudut sel yang gelap, ia melihat bayangan bergerak. Empat mata kuning menyala dalam kegelapan.
Napasnya tercekat.
“Ampun…” bisik Pak Surya
Bayangan itu mendekat, memperlihatkan wujud siluman harimau, tubuh besar dengan loreng hitam jingga, cakar panjang berkilat. Di belakangnya, dua bayangan lain muncul.
Tiga.
Pak Surya terisak.
“Saya menyesal… saya salah…”
Auman itu menggema di dalam kepalanya. Namun, kali ini, tidak ada cakaran. Tidak ada darah. Hanya tatapan panjang penuh murka.
Ketika sipir memeriksa sel pagi harinya, Surya ditemukan terduduk di sudut, rambutnya memutih seluruhnya dalam semalam. Matanya kosong, bibirnya terus bergumam satu kalimat.
“Tiga harimau… maafkan aku…”
Sejak Pak Surya dipenjara, kejadian aneh di Hotel Opalescent perlahan mereda. Tidak ada lagi korban tewas. Auman malam Jumat jarang terdengar.
Namun, di lantai 7, tepat di bawah fondasi utama bangunan, para pekerja renovasi suatu hari menemukan sesuatu yang membuat darah mereka membeku.
Tulang belulang tengkorak besar, tertanam di antara beton yang menghitam.
Tiga buah tengkorak harimau.
Dan pada malam Jumat berikutnya, seorang pekerja bersumpah melihat bayangan hewan besar berloreng melintas di lorong kosong, bukan dengan tatapan memburu, melainkan dengan langkah tenang, seakan-akan tiga roh hewan itu akhirnya telah mendapatkan sesuatu yang mereka cari, yaitu pengakuan, penyesalan, dan keadilan.
TAMAT
@aldo12 @learntorape @aldo12
agusryanto17267 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
1.5K
7
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan