Kaskus

Regional

GenkKobraAvatar border
TS
GenkKobra
Jelajah DAS Kali Kuning dari Hulu ke Hilir dalam Giat ECOnnect 2026
Jelajah DAS Kali Kuning dari Hulu ke Hilir dalam Giat ECOnnect 2026

Pemuda Jogja Menelusuri DAS Kali Kuning dari Hulu ke Hilir dalam ECOnnect 2026

Sleman, Yogyakarta(01/02/2026) – Terdapat 37 pemuda dari berbagai komunitas dan karang taruna di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berpartisipasi dalam program ECOnnect - Aksi Pemuda untuk Bumi Jogja yang diadakan oleh Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Yogyakarta pada 1 Februari 2026. Aktivitas ini memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai hubungan ekologi di Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hulu hingga hilir.
Rifka Agnes selaku Ketua KOPHI Yogyakarta menjelaskan bahwa kegiatan ECOnnect dirancang sebagai pengalaman belajar langsung bagi para pemuda. "Kami mengajak para peserta untuk menjelajahi tiga lokasi penting seperti hulu di sumber mata air Umbul Lanang dan Umbul Wadon Cangkringan, bagian tengah di Dusun Karanglo Ngaglik untuk mempelajari pengelolaan air berbasis komunitas PAMSIMAS, dan hilir di Kawasan Mangrove Baros Kretek," jelasnya di tengah kegiatan.

Jelajah DAS Kali Kuning dari Hulu ke Hilir dalam Giat ECOnnect 2026

Jelajah DAS Kali Kuning dari Hulu ke Hilir dalam Giat ECOnnect 2026

Di setiap lokasi, peserta mengikuti sesi diskusi interaktif dengan para narasumber yang ahli dari Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), pengelola PAMSIMAS, dan aktivis mangrove. Mereka juga melakukan pengamatan langsung untuk mencatat kondisi lingkungan serta melakukan refleksi diri.

Jelajah DAS Kali Kuning dari Hulu ke Hilir dalam Giat ECOnnect 2026

Para peserta mengaku mendapatkan wawasan dan pengalaman baru setelah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Rihhadatul, seorang peserta dari Universitas Islam Indonesia, menyatakan bahwa ia jarang mengunjungi pantai dan kurang tahu mengenai kondisi di Yogyakarta. Namun, setelah mengikuti ECOnnect, dia menjadi lebih sadar dan terdorong untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Pandangan serupa disampaikan oleh Savina dari Universitas Gadjah Mada, yang awalnya mendaftar hanya untuk mencoba. "Setelah ikut, saya menyadari bahwa situasinya memang memprihatinkan dan sekarang ingin menjadi garda terdepan dalam menjaga alam," tuturnya.

Sementara itu, Kurniawan dari Universitas Gadjah Mada menyoroti kondisi di bagian hulu. "Perjalanannya menyenangkan dan memberikan pelajaran yang berarti. Saya prihatin dengan situasi hulu karena hutan belum dapat menyerap hujan dengan baik. Diperlukan pengawasan dari pemerintah, terutama karena pengelolaan pasir tambang belum terorganisir," ujarnya.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan Youth EcoAction Forum secara daring pada 8 Februari 2026 untuk merumuskan temuan di lapangan yang akan dicatat dalam EcoStory Book. Rencananya, buku ini akan menjadi media dalam kampanye lingkungan KOPHI Yogyakarta. Kerjasama dengan mitra lokal seperti TNGM, PAMSIMAS, dan Kelompok Tani Mangrove Baros diharapkan dapat berlanjut untuk keberlanjutan program konservasi di masa mendatang.


SON
0
76
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan