- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Imlek di House of Tugu Jakarta, budaya bertemu dan bergerak di satu panggung
TS
oktahardjo
Imlek di House of Tugu Jakarta, budaya bertemu dan bergerak di satu panggung

Barongsai di House of Tugu, Dok. Pribadi
Bagi pencinta sejarah, kuliner, dan perjalanan, merayakan Tahun Baru Imlek di House of Tugu Jakarta terasa bukan sekadar menghadiri sebuah perayaan, melainkan memasuki bab hidup dari perjalanan panjang budaya Jakarta.
Berlatar di kawasan Kota Tua yang sarat lapisan sejarah perdagangan, migrasi, dan pertemuan budaya, perayaan ini terasa menyatu dengan lingkungannya. Tahun Baru Imlek di sini tidak berdiri sendiri ia tumbuh dari ruang dan waktu yang telah lama membentuk kawasan ini.
Di dalam rumah yang dipenuhi benda antik dan cerita masa lalu, Imlek dirasakan melalui gerak, bunyi, dan kebersamaan. Tahun ini, fokus perayaan tertuju pada pertunjukan, bukan sebagai tontonan semata, melainkan sebagai dialog halus antartradisi yang telah lama hidup berdampingan di Indonesia.
Tarian Barongsai hadir berdampingan dengan Tari Burung Enggang dari Kalimantan di satu panggung yang sama. Keduanya tidak ditampilkan bergantian, melainkan saling merespons melalui ritme dan gerak. Sebuah pertemuan yang terasa alami—seolah budaya berbincang tanpa kata.
Tari Burung Enggang, atau Kancet Lasan, berasal dari masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan. Secara tradisional, tarian ini ditampilkan untuk menyambut para pejuang yang kembali, sarat makna kehormatan, kepemimpinan, dan penghormatan. Ketika ditarikan bersama Barongsai, makna itu tidak dijelaskan ia dirasakan.
Pertemuan dua tarian ini mencerminkan wajah Indonesia yang kaya akan percampuran budaya. Seperti halnya budaya Peranakan, hubungan ini terbentuk oleh kedekatan, pertukaran, dan waktu yang dijalani bersama. Tradisi tidak saling menegaskan perbedaan, melainkan bergerak dalam percakapan yang harmonis.
Kuliner menjadi ritme berikutnya dalam perayaan. Hidangan khas Imlek disajikan melalui set menu yang dikurasi khusus, berdampingan dengan pilihan à la carte musiman. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman bahwa tradisi kuliner adalah sesuatu yang hidup berakar pada warisan, namun lentur mengikuti musim dan selera.
Bagi tamu yang memilih menginap, pengalaman berlanjut dalam tempo yang lebih pelan. Setiap suite menawarkan ruang tenang yang dipenuhi cerita dari warisan Indonesia dan Peranakan. Pagi datang dengan lembut, memberi waktu untuk merenung setelah energi perayaan sebelumnya.
Tahun Baru Imlek di House of Tugu Jakarta dialami melalui kehadiran, gerak, dan waktu yang dibagi bersama. Dengan membiarkan tradisi menari di satu panggung yang sama, perayaan ini berbicara tentang cara budaya-budaya di Indonesia tumbuh berdampingan dibentuk oleh pertemuan, bukan pemisahan.
0
44
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan