- Beranda
- Komunitas
- News
- Citizen Journalism
I Was a Stranger: Ketika Kemarahan Menjelma Menjadi Puisi Visual yang Menyakitkan
TS
doradick913
I Was a Stranger: Ketika Kemarahan Menjelma Menjadi Puisi Visual yang Menyakitkan

Ada film yang dibuat untuk menghibur, dan ada film yang dibuat untuk mengusik kenyamanan tidur kita.
I Was a Stranger, debut penyutradaraan Andersen, berada di kategori kedua.
Lahir dari sebuah kemarahan murni pada tahun 2017—merespons kebijakan larangan laptop di penerbangan AS dari Timur Tengah—naskah ini sempat "mati suri" bertahun-tahun sebelum akhirnya bernapas lewat film pendek Refugee. Kini, ia hadir di layar lebar sebagai sebuah pernyataan sikap yang brutal namun puitis.
Produksi yang Penuh "Jiwa"
Bukan sekadar proyek komersial, syuting yang dilakukan di Yordania, Turki, hingga Chicago memberikan tekstur visual yang kasar, berdebu, dan sangat autentik. Menariknya, setiap hari produksi kabarnya ditutup dengan sesi renungan. Sebuah ritual yang menegaskan bahwa kru tidak sedang mengejar box office, melainkan sedang membangun sebuah monumen kemanusiaan.
Mengapa Film Ini "Tidak Sopan"?
Secara teknis, Andersen tidak berusaha menjilat penonton. Jangan harap ada jump scare murahan atau drama yang dieksploitasi berlebihan. Kekuatan film ini justru ada pada:
Sinematografi yang Intrusif: Kamera sering kali berada terlalu dekat dengan wajah aktor, seolah memaksa kita masuk ke ruang privat ketakutan mereka.
Keheningan yang Berisik: Dengan skoring minimalis, film ini lebih banyak bicara lewat tatapan mata daripada dialog panjang lebar.
Ritme yang Berani: Alurnya lambat, membiarkan luka-luka emosional di layar tetap terbuka tanpa buru-buru dijahit oleh konklusi yang manis.
"I Was a Stranger adalah cermin yang tidak sopan; ia memantulkan wajah kemanusiaan kita apa adanya di era di mana perbatasan makin tebal dan empati makin tipis."
Konklusi: Sebuah Debut yang Berani
Diproduseri oleh tangan dingin Ossama Bawardi, Ryan Busse, dan Charlie Endean, film ini menolak memberikan jawaban mudah. Ia hanya melempar satu pertanyaan besar: Masihkah kita punya ruang untuk mereka yang kita anggap asing?
Secara keseluruhan, film ini adalah masterpiece yang menyesakkan. Sebuah debut ideologis yang sangat berani dan pantas mendapatkan apresiasi tinggi.
Rating: 8.5/10
Catatan: Siapkan mental (dan tisu) sebelum meluncur ke bioskop. I Was a Stranger mulai meneror nurani di bioskop Indonesia mulai 4 Februari 2026.
Diubah oleh doradick913 10-02-2026 11:16
0
25
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan