- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Sistem Penjilat: Matre tapi Mewah
TS
djrahayu
Sistem Penjilat: Matre tapi Mewah
Sensitive Content
Mati tersedak nasi saat menertawakan novel humor adalah cara paling memalukan untuk mengakhiri hidup. Itulah yang dirasakan Tasya sebelum terbangun di sebuah kamar mewah yang asing, dengan sebuah suara mekanik berdenting di kepalanya. “Selamat datang, Host. Sistem Penjilat Tokoh Utama diaktifkan. Misi pertama: Katakan ‘Aku merindukanmu’ pada Galang, hadiah: 50 Juta Rupiah tunai.”
Tasya terbelalak. Ia ingat betul nama Galang. Itu adalah nama tokoh utama pria di novel yang pernah ia maki habis-habisan karena membunuh karakter pendukung bernama "Tasya" hanya karena salah paham.
Kini, ia terjebak di tubuh si cewek matre yang akan mati tragis itu, namun dengan iming-iming harta yang sangat menggiurkan.
Tasya bercermin, menatap wajah cantik namun terlihat "murahan" karena riasan yang terlalu tebal—ciri khas karakter pendukung yang haus perhatian.
Di dunia aslinya, dia adalah budak korporat yang saldo ATM-nya seringkali menangis, tapi di sini, harga dirinya bisa dibeli oleh sistem.
"Oke, jadi Tasya yang asli memang cinta mati sama Galang sampai dianggap pengemis cinta, kan? Tapi aku beda. Aku nggak butuh Galang, aku cuma butuh hadiah sistemnya!" gumamnya sambil menghapus lipstik merah menyalanya.
Baginya, menjilat Galang bukan soal cinta, tapi soal strategi bertahan hidup sekaligus menjadi kaya raya sebelum alur "pembunuhan" itu tiba.
xxx
Sore itu, di lobi kantor milik Galang, Tasya berdiri dengan gaun yang sedikit terlalu ketat, menunggu sang target keluar. Saat sosok pria jangkung dengan aura dingin itu muncul dikelilingi para pengawal, Tasya langsung berlari kecil dan menghadangnya. Galang menatapnya dengan pandangan jijik yang sangat kentara.
"Mau apa lagi kamu? Uang bulananmu kurang?" tanya Galang dingin, suaranya seperti es yang menusuk tulang.
Bukannya tersinggung, Tasya malah memasang wajah paling melankolis yang ia bisa, mengingat bonus 50 juta yang menanti.
"Galang, aku tidak butuh uang. Aku cuma mau bilang... aku merindukanmu sampai rasanya mau mati," ucapnya dengan nada yang dibuat-buat puitis.
Galang tertegun sejenak, namun sedetik kemudian seringai sinis muncul di wajah tampannya.
"Rindu? Bilang saja cicilan tas branded-mu sudah jatuh tempo," ejeknya sambil melempar selembar cek kosong ke lantai.
Di dalam hati, Tasya bersorak kegirangan bukan main. Denting!Suara sistem bergema di kepalanya: "Misi berhasil! Saldo 50 Juta Rupiah telah ditransfer ke rekening Host. Misi baru: Berikan bekal makan siang 'buatan sendiri' pada Galang besok. Hadiah: 1 unit Apartemen Penthouse di pusat kota."
Tasya memungut cek itu dengan anggun, bukan karena dia merasa terhina, tapi karena dia sedang menghitung total keuntungan ganda yang ia dapatkan hari itu.
xxx
Keesokan harinya, Tasya datang ke kantor Galang bukan dengan nasi goreng buatan sendiri, melainkan nasi kotak premium dari restoran bintang lima yang ia pindahkan ke wadah plastik murahan agar terlihat "berjuang".
Teman-teman Galang yang sedang berkumpul di ruangan itu langsung tertawa mengejek.
"Lihat, si pengemis cinta datang lagi bawa sesajen," celetuk salah satu dari mereka.
Galang hanya melirik sekilas tanpa minat, namun Tasya dengan wajah tebalnya maju mendekat.
"Galang, aku memasak ini dengan penuh tetesan keringat... dan air mata," ucapnya bohong besar, padahal ia hanya berkeringat karena menunggu lift yang penuh.
Galang menggebrak meja, merasa muak dengan sandiwara Tasya yang dianggapnya semakin tidak tahu malu.
"Buang sampah ini! Kamu pikir aku akan luluh hanya karena makanan murah begini?" bentaknya.
Tasya menunduk, bahunya bergetar seolah sedang menangis—padahal ia sedang menahan tawa karena notifikasi sistem baru saja berbunyi: "Misi berhasil! Sertifikat Penthouse telah masuk ke inventaris Host. Misi tambahan: Minta maaf sambil memegang tangan Galang selama 10 detik. Hadiah: 5% Saham di Nugraha Grup."
Bagi Tasya, makian Galang adalah melodi indah, karena setiap kata kasar pria itu berarti aset baru yang masuk ke kantongnya.
Setelah mendapatkan saham, perilaku Tasya berubah 180 derajat. Begitu tangan Galang ia lepaskan setelah tepat sepuluh detik, Tasya langsung mengelap telapak tangannya ke tisu basah dengan ekspresi seolah-olah ia baru saja menyentuh knalpot berkarat.
Galang yang awalnya siap meledakkan amarah, justru terdiam membeku melihat perubahan drastis itu.
"Oke, maaf ya kalau makanannya nggak enak. Aku pergi dulu, masih ada urusan yang lebih penting daripada melihat muka tembokmu," ucap Tasya santai sambil melenggang pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Galang dan teman-temannya yang melongo di ruang kerja yang mendadak hening.
Galang mulai merasa ada yang salah. Biasanya, Tasya akan merengek meminta waktu atau menangis di kakinya jika diusir. Namun kini, Tasya terlihat lebih sibuk dengan ponselnya—memeriksa saldo dan sertifikat apartemen—daripada mengejar keberadaannya.
Di sisi lain, sistem kembali berbunyi: "Misi mendesak: Belikan Galang kopi, tapi 'sengaja' tumpahkan sedikit ke bajunya untuk memancing emosinya. Hadiah: Mobil Sport keluaran terbaru."Tasya menyeringai. Ini bukan lagi misi menjilat, ini adalah misi "mencari perkara berbayar".
Ia kembali ke ruangan Galang lima menit kemudian dengan segelas Americano panas di tangan.
Byur!
"Aduh! Maaf, Galang! Tanganku licin karena terlalu bergetar melihat ketampananmu yang luar biasa," ucap Tasya dengan nada yang sangat tidak tulus, sementara matanya justru sibuk mengagumi pantulan dirinya di cermin.
Galang berdiri dengan kemeja putih yang kini bernoda cokelat besar, napasnya memburu.
"Kamu... kamu sengaja, kan?!" teriak Galang.
Tasya hanya mengerjipkan mata dengan polos.
"Denting! Hadiah Mobil Sport dikirim ke garasi Host,"suara sistem itu membuat Tasya ingin melompat kegirangan. Ia tidak sadar bahwa kemarahannya Galang kini bercampur dengan rasa penasaran yang aneh; mengapa mata Tasya tidak lagi memuja dirinya, melainkan terlihat seolah-olah sedang menghitung digit angka di atas kepalanya?
xxx
Kehadiran Tasya yang tak terduga mulai mengusik ketenangan Sherly, si Tokoh Utama Wanita yang selama ini diagungkan sebagai "Teratai Putih" yang suci.
Sherly merasa tak nyaman melihat Galang yang biasanya hanya fokus padanya, kini sering melamun memikirkan tingkah gila Tasya. Sherly pun mulai melancarkan aksi "syok" andalannya, berpura-pura hampir pingsan di lobi kantor agar Galang memperhatikannya.
Namun, Tasya yang baru saja mendapatkan misi "Berikan Sherly tisu sambil menyindir halus, hadiah: Jam Tangan Berlian", langsung melesat. "Aduh, Sherly, kalau kurang vitamin jangan diet ketat demi perhatian Galang dong. Nih, pakai tisu, lap keringat dinginmu, jangan sampai luntur bedak mahalnya," ucap Tasya telak di depan Galang.
Galang yang melihat itu merasa harga dirinya sebagai pelindung Sherly terusik, namun di sisi lain, ia tak bisa memungkiri bahwa sindiran Tasya ada benarnya. Sebelum Galang sempat membela, sistem kembali memberi peringatan merah: "Misi Kritis: Selamatkan Sherly dari percobaan penculikan di parkiran basement dalam 5 menit. Hadiah: Pembersihan Nama Baik & Paket Saham Mayoritas Hotel Bintang 5."Tasya menggerutu dalam hati, "Ini dia adegan maut itu!" Ia tahu, di novel aslinya, Tasya mati di tangan Galang di momen ini karena dianggap sebagai dalang penculikan.
Dengan kecepatan penuh, Tasya berlari ke basement, meninggalkan Galang yang kebingungan.
Di basement, Tasya melihat Sherly disergap dua pria bertopeng. Tanpa pikir panjang—dan demi saham hotel—Tasya menerjang menggunakan tas brandedhasil misi kemarin sebagai senjata.
Namun, tepat saat ia berhasil memukul mundur para penculik, Galang muncul dengan pistol di tangan, matanya merah padam melihat Tasya berdiri di dekat Sherly yang tersedu.
"Lepaskan dia, Tasya! Aku tahu ini semua akal-akalanmu untuk terlihat seperti pahlawan!" bentak Galang, moncong senjatanya mengarah tepat ke jantung Tasya. Sherly yang tahu Tasya baru saja menolongnya hanya diam membisu, sengaja membiarkan kesalahpahaman itu terjadi demi menyingkirkan saingannya selamanya.
Tasya menatap moncong pistol itu dengan tawa hambar, matanya beralih ke Sherly yang masih berpura-pura gemetar tanpa mengeluarkan sepatah kata pembelaan. "Dengar ya, Galang. Kalau aku mau menculiknya, aku tidak akan pakai tas seharga 200 juta untuk memukul penjahat itu," teriak Tasya sambil melemparkan tasnya yang rusak ke lantai.
Tiba-tiba, suara sistem berteriak: "Misi Terakhir: Tunjukkan rekaman CCTV tersembunyi melalui kacamata Host! Hadiah: Kebebasan dari Sistem & Cinta Sejati Tokoh Utama."Tasya menyeringai, ia menekan gagang kacamatanya, dan sedetik kemudian proyeksi hologram muncul di udara, memperlihatkan betapa heroiknya Tasya bertarung sementara Sherly hanya menonton dengan senyum tipis sebelum Galang datang.
Galang tertegun, tangannya yang memegang pistol perlahan turun saat melihat bukti nyata bahwa Tasya baru saja mempertaruhkan nyawa demi perempuan yang justru memfitnahnya lewat diamnya.
Sherly langsung pucat pasi, "G-Galang, aku... aku tadi terlalu syok sampai tidak bisa bicara!"
Namun, Galang tidak lagi menatap Sherly. Pandangannya terpaku pada Tasya yang kini sedang merapikan rambutnya dengan santai, seolah-olah baru saja menyelesaikan urusan remeh.
"Tasya, aku... aku salah. Aku minta maaf," gumam Galang dengan suara bergetar, ada rasa bersalah yang teramat dalam sekaligus ketertarikan yang mendadak muncul melihat keberanian Tasya yang sebenarnya.
Tasya tidak menangis, tidak juga memeluk Galang seperti di dalam novel asli. Ia justru menoleh pada sistem yang memberitahunya bahwa ia kini resmi menjadi pemilik saham mayoritas hotel dan bebas dari misi penjilat.
"Maaf ya, Galang. Stok permintaan maafku sudah habis karena terlalu sering kupakai untuk menjilatmu dulu," ucap Tasya dengan nada bosan.
Ia melangkah pergi, masuk ke dalam mobil sport hasil misinya, meninggalkan Galang yang kini berdiri terpaku di basement, baru menyadari bahwa ia telah kehilangan berlian demi sepotong kaca palsu.
Tasya tersenyum menatap jalanan kota; ia bukan lagi pemeran pendukung yang mati mengenaskan, melainkan ratu di dunianya sendiri dengan saldo rekening yang tak akan habis tujuh turunan.
xxx
Tiga bulan kemudian, lobi Hotel Grand Emerald—aset terbaru milik Tasya—mendadak heboh. Galang Nugraha, CEO yang dulu dikenal sangat dingin dan anti-Tasya, kini terlihat duduk di sofa lobi setiap hari selama lima jam berturut-turut.
Bukan membawa dokumen kontrak, ia justru membawa buket bunga edelweiss yang melambangkan "cinta abadi".
Teman-temannya yang dulu mengejek Tasya, sekarang sibuk mengirim pesan singkat berisi permohonan maaf karena akun perusahaan mereka diblokir oleh sistem keamanan Tasya yang baru.
Saat Tasya keluar dari lift dengan setelan jas high-enddan kacamata hitam, Galang langsung berdiri.
"Tasya, tolong beri aku waktu lima menit. Aku sudah memutus semua hubungan dengan Sherly. Aku sadar siapa yang tulus," ucap Galang dengan nada memohon yang hampir membuat staf hotel pingsan karena syok.
Tasya berhenti sebentar, hanya untuk mengecek jam tangannya. "Lima menitku harganya sepuluh milyar, Galang. Kamu mau bayar pakai apa? Saham perusahaanmu yang sedang anjlok itu?" sindirnya telak tanpa menoleh.
Galang terdiam, namun ia tidak menyerah. Ia mencoba memegang tangan Tasya, namun dengan gesit Tasya menghindar.
"Jangan sentuh, nanti kemeja mahalku ketularan virus 'salah paham'," ucap Tasya ketus.
Tiba-tiba, suara sistem yang kini sudah menjadi asisten pribadinya berbunyi: "Host, ada tawaran kencan dari aktor internasional di restoran bintang lima malam ini. Ambil?"
Tasya tersenyum lebar dan menjawab dengan lantang agar Galang dengar, "Tentu! Bilang padanya, aku lebih suka pria yang punya otak daripada pria yang cuma punya pistol dan prasangka buruk."
Tasya melenggang masuk ke mobilnya, meninggalkan Galang yang hanya bisa menatap asap knalpot sambil meratapi nasibnya sebagai mantan tokoh utama yang kini kehilangan panggung.
0
166
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan