- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Cintaku Nyangkut di Laporan Kuartalan
TS
djrahayu
Cintaku Nyangkut di Laporan Kuartalan
Sensitive Content
Pagi itu, Zayn Nugraha menatap pantulan dirinya di cermin lift kaca menuju lantai 28. Setelan jas rancangan desainer ternama, rahang tegas yang sering disebut jawline goaloleh netizen, dan aroma parfum maskulin yang sanggup membuat resepsionis menahan napas.
Secara logika, dia adalah definisi sempurna dari "pria idaman". Namun, saat pintu lift berdenting terbuka dan sosok perempuan berkacamata dengan bundel dokumen di dekapan menyambutnya, rasa percaya diri Zayn menciut drastis.
Rindu, sekretaris sekaligus asistennya selama lima tahun terakhir, hanya melirik jam tangan tanpa ekspresi kagum sedikit pun.
"Selamat pagi, Pak Zayn. Anda terlambat dua menit dari jadwal meetingkoordinasi," sapa Rindu datar, suaranya sejuk namun tegas.
Zayn menghela napas, berusaha memasang senyum miring yang biasanya membuat model papan atas tersipu.
"Dua menit itu waktu yang pas untuk membuat orang merindukan saya, Rin," guraunya.
Rindu tidak tersenyum. Ia malah menyodorkan tablet.
"Dua menit itu setara dengan kerugian operasional jika vendor kita menunggu terlalu lama. Silakan, Pak, kopi hitam tanpa gula Anda sudah di meja. Jangan sampai dingin karena saya tidak suka membuang barang yang masih layak."
Zayn melangkah masuk ke ruangannya dengan bahu sedikit layu. Ia teringat kejadian sepuluh tahun lalu di koridor SMA, saat ia berniat menyatakan cinta namun malah mendengar Rindu menolak seorang pria dengan kalimat: "Cinta monyet itu cuma polusi untuk ambisi sukses saya."
Kalimat itu seperti kutukan yang mengkristal. Kini, meski ia sudah menjadi CEO Nugraha Grup dan berhasil menarik Rindu ke sisinya lewat jalur 'magang jalur orang dalam', Rindu tetaplah sebatang kayu kokoh.
Ia memahami setiap jengkal keinginan profesional Zayn—mulai dari jenis kopi hingga strategi ekspansi—tapi ia seolah buta pada radar cinta yang Zayn pancarkan dengan intensitas maksimal setiap harinya.
xxx
Siang harinya, sebuah buket besar bunga Peony merah muda—simbol kemakmuran dan romansa—mendarat di meja kerja Rindu. Zayn sengaja memesannya dari florist terbaik di Jakarta, lengkap dengan kartu tanpa nama yang bertuliskan: "Untuk seseorang yang membuat kantor ini terasa lebih hidup."
Zayn memantau dari balik kaca ruangannya yang sedikit terbuka, menunggu reaksi tersipu atau minimal kerutan bingung yang manis. Namun, ia justru melihat Rindu mengernyitkan dahi, bangkit dari kursinya, dan dengan cekatan memindahkan bunga-bunga itu ke dalam vas kristal besar di sudut ruang kerja Zayn.
"Kenapa dipindah, Rin?" tanya Zayn, berpura-pura baru keluar untuk mengambil air minum. Rindu merapikan kelopak bunga dengan ekspresi tanpa dosa.
"Warna bunga ini sangat serasi dengan aksen karpet ruang kerja Bapak. Kalau ditaruh di meja saya, malah mempersempit ruang gerak untuk menyusun laporan kuartalan. Lagipula, sebagai CEO, Bapak memang butuh aromaterapi alami supaya tidak gampang stres saat negosiasi besok."
Zayn terdiam, mematung di ambang pintu. Niat hati ingin memberikan kejutan romantis, akhirnya malah berakhir menjadi dekorasi interior kantor yang fungsional di mata Rindu.
xxx
Malamnya, Zayn mencoba peruntungan terakhir untuk hari itu. Ia sengaja menahan Rindu hingga pukul tujuh malam dengan alasan memeriksa detail kontrak yang sebenarnya sudah sempurna.
"Sudah jam makan malam, Rin. Kita makan di resto baru di seberang jalan saja, ya? Saya yang traktir sebagai kompensasi lembur," ajak Zayn dengan nada selembut mungkin.
Rindu menutup laptopnya dengan bunyi klikyang tegas.
"Terima kasih tawarannya, Pak. Tapi kalau kita makan di sana, waktu istirahat saya berkurang satu jam karena antreannya panjang. Lebih baik saya pulang dan pesan ojek online agar besok pagi saya bisa bangun lebih segar untuk jadwal Bapak yang padat."
xxx
Keesokan paginya, Zayn berdiri di depan cermin toilet kantor, mematut diri lebih lama dari biasanya. Ia merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sempurna, lalu membasuh wajahnya sambil menghela napas panjang.
"Apa ada yang salah denganku?" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Selama ini, ia adalah magnet bagi kaum hawa, tapi di depan Rindu, ia merasa seperti pajangan manekin yang tidak memiliki nyawa. Krisis percaya diri mulai melanda; apakah gelar CEO, wajah rupawan, dan perhatian yang ia berikan selama lima tahun ini benar-benar tidak lebih menarik daripada sekadar laporan keuangan di mata perempuan itu?
Rasa penasaran itu membawanya menguping di pantry saat ia hendak mengambil kopi. Di sana, Rindu sedang berbincang dengan salah satu staf administrasi.
"Zayn itu bos paling ajaib, kan? Kemarin dia maksa aku lembur cuma buat periksa kontrak yang sebenarnya sudah selesai, terus tiba-tiba ajak makan malam," keluh Rindu sambil mengaduk tehnya.
Staf lain tertawa, "Mungkin dia perhatian, Rin. Siapa tahu dia suka kamu?"
Rindu justru mendengus pelan, "Suka? Mana mungkin. Dia itu cuma mau memastikan asistennya tidak pingsan karena dia terlalu terobsesi pada kerjaan. Baginya, aku itu aset perusahaan, bukan manusia. Makan malam itu cuma cara dia supaya aku nggak protes kalau disuruh kerja rodi lagi."
Zayn yang berdiri di balik pintu pantry merasa jantungnya seperti baru saja dijepit stapler. Pengorbanannya, perhatiannya, dan rasa sukanya sejak masa SMA diterjemahkan Rindu sebagai "taktik manajemen aset". Ia menyadari bahwa tembok yang dibangun Rindu terlalu tebal karena perempuan itu menganggap semua kebaikan Zayn memiliki tujuan profesional.
Di titik ini, Zayn merasa bingung sekaligus tertantang. Jika bunga dan makan malam dianggap sebagai beban kerja, maka ia harus menemukan cara lain untuk meruntuhkan kayu kokoh itu sebelum ia benar-benar dianggap sebagai bos yang tidak punya perasaan selamanya.
xxx
Keesokan harinya, sebuah ancaman nyata muncul dalam bentuk pria bernama Aris—seorang arsitek rekanan proyek baru yang ternyata adalah teman kuliah Rindu. Saat Aris datang untuk presentasi, atmosfer di ruang rapat mendadak berubah.
Aris tidak hanya bicara soal desain bangunan, tapi juga menyelipkan guyonan internal yang membuat Rindu—si kayu kokoh—benar-benar melepaskan tawa kecil yang langka. Zayn, yang biasanya memimpin rapat dengan wibawa penuh, hanya bisa duduk kaku sambil meremas pulpennya hingga ujung jarinya memutih. Melihat Rindu berdiskusi dengan mata berbinar di samping Aris membuat ego Zayn terbakar api cemburu yang membara.
"Wah, Rindu masih tetap teliti ya, Ris," puji Aris di akhir rapat sambil menepuk pelan bahu Rindu. "Zayn, kamu beruntung punya sekretaris hebat kayak dia. Kalau nggak betah di sini, pindah ke kantorku aja, Rin?"
Zayn langsung berdiri sebelum Rindu sempat menjawab. "Maaf, Aris. Kontrak Rindu di sini sangat mengikat. Dia tidak bisa ke mana-mana," potong Zayn dengan nada yang sedikit terlalu tajam untuk sekadar urusan profesional.
Rindu menoleh, menatap bosnya dengan kening berkerut heran, sementara Zayn segera melangkah keluar ruangan tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, meninggalkan kebingungan yang menggantung di udara.
Zayn mengurung diri di ruangannya, menatap pemandangan kota dari jendela besar. Ia merasa kalah telak.
Selama lima tahun, ia mencoba menjadi "bos yang baik" demi menarik hati Rindu, namun seorang pria dari masa lalu Rindu datang dan bisa membuatnya tertawa hanya dalam waktu tiga puluh menit. Pikirannya kalut, apakah ketampanan dan kekuasaannya memang tidak berarti apa-apa jika ia tidak berani jujur?
Sambil menatap pantulan dirinya yang tampak lesu, Zayn bergumam pelan, "Mungkin memang benar kata Rindu dulu. Cinta itu hanya mengganggu. Tapi masalahnya, gangguan ini sudah merusak seluruh logika saya selama sepuluh tahun."
xxx
Ketegangan itu memuncak sore harinya ketika hujan deras mengguyur Jakarta. Saat Rindu masuk ke ruangan untuk meminta tanda tangan terakhir, ia mendapati Zayn sedang duduk di meja kerjanya tanpa lampu yang menyala, hanya diterangi cahaya temaram dari gedung-gedung di luar.
"Pak Zayn, Anda sakit?" tanya Rindu dengan nada cemas yang tulus—satu-satunya jenis perhatian yang selalu Zayn salah artikan sebagai profesionalisme. Zayn mendongak, matanya menatap Rindu dalam-dalam.
"Rin, kalau aku bilang semua bunga, makan malam, dan alasan lembur itu bukan karena pekerjaan, apa kamu akan tetap menganggapnya sebagai taktik perusahaan?"
Rindu terdiam, pulpen di tangannya nyaris jatuh. Zayn berdiri, mengikis jarak di antara mereka hingga Rindu bisa mencium aroma parfum yang kini terasa menyesakkan.
"Aku menyukaimu sejak SMA, saat kamu bilang cinta monyet itu polusi. Jadi aku menunggu, menjadi sukses, dan membawamu ke sini agar aku punya alasan untuk tetap di dekatmu. Tapi sepertinya, aku tetap saja gagal bersaing dengan ambisimu sendiri."
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, tembok pertahanan Rindu retak. Ia tidak melihat seorang CEO yang berkuasa, melainkan seorang pria yang selama sepuluh tahun terjebak dalam rasa yang tidak tersampaikan.
"Pak... Zayn... saya hanya takut kalau saya melibatkan perasaan, saya akan kehilangan pekerjaan yang saya cintai ini," bisik Rindu pelan.
Zayn tersenyum tipis, kali ini senyumnya tulus tanpa paksaan.
"Aku tidak butuh sekretaris yang sempurna, Rin. Aku butuh kamu. Kalau kamu takut kehilangan pekerjaan, maka berhentilah jadi sekretarisku dan mulailah jadi pasanganku."
Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya suara rintik hujan yang terdengar. Rindu menunduk, pipinya merona merah untuk pertama kalinya, lalu ia meletakkan map dokumen itu di meja.
"Kalau begitu, saya rasa saya harus mengajukan surat pengunduran diri besok pagi... untuk mendaftar sebagai nyonya di rumah Anda." Zayn tertawa lega, menyadari bahwa sepotong kayu akhirnya luluh bukan oleh kekuasaan, melainkan oleh kejujuran yang telanjang.
xxx
Satu bulan setelah kejadian di ruang kerja yang gelap itu, suasana kantor Nugraha Grup sedikit berubah. Rindu masih tetap teliti, masih tetap tegas, dan masih memakai kacamata yang sama. Bedanya, kini di jari manis tangan kanannya melingkar sebuah cincin platinum sederhana namun elegan.
Zayn tidak lagi memesan bunga Peony untuk dikirim ke meja sekretaris. Sebaliknya, setiap pagi ia sendiri yang meletakkan setangkai mawar putih di dasbor mobil Rindu saat mereka berangkat bersama.
Aris, si arsitek, hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Zayn yang kini hobi pamer kemesraan tipis-tipis di depan staf kantor.
"Pak Zayn," tegur Rindu suatu siang saat Zayn mencoba menggandeng tangannya di depan lift. "Kita masih di area kantor. Profesionalitas tetap nomor satu."
Zayn terkekeh, lalu membisikkan sesuatu di telinga Rindu yang membuat wajah perempuan itu kembali memerah seperti kepiting rebus.
"Iya, Sayang. Tapi ingat, surat resign-mu sudah kuterima. Mulai besok, statusmu bukan lagi 'Sekretaris Terajin', tapi 'Calon Istri CEO'. Jadi, biarkan aku menikmati sisa waktu sebagai bosmu sebentar lagi."
Rindu hanya bisa tersenyum. Ternyata, menjadi "sepotong kayu" selama sepuluh tahun tidaklah sia-sia, jika pada akhirnya ia ditemukan oleh tukang kayu yang sabar dan penuh cinta seperti Zayn.
0
51
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan