Kaskus

Entertainment

oktahardjoAvatar border
TS
oktahardjo
Ketika Cerita Itu Hidup di Dapur Babah Elite
Bagi banyak orang, Imlek identik dengan warna merah, kembang api, dan angpao. Tapi bagi keluarga Tionghoa, ada satu momen yang jauh lebih personal: berdiri mengelilingi meja, mengangkat sumpit tinggi-tinggi, lalu bersama-sama “mengaduk” harapan lewat sepiring Yu Sheng.

Di sinilah Yu Sheng berbeda dari menu Imlek lainnya. Ia bukan hanya dimakan, ia dirayakan.

Dari Lautan Tiongkok Selatan ke Meja Imlek Nusantara

Secara harfiah, Yu Sheng (鱼生) berarti ikan mentah. Namun dalam budaya Tionghoa, kata yu (鱼) terdengar sama dengan yu (余) yang berarti kelimpahan. Inilah permainan bunyi yang membuat Yu Sheng dipercaya sebagai simbol rezeki yang terus bertambah.

Yang jarang diketahui, akar Yu Sheng bukan berasal langsung dari Tiongkok daratan, melainkan berkembang kuat di kawasan Nanyang (Asia Tenggara) terutama di komunitas Tionghoa pesisir seperti Bangka, Malaysia, dan Singapura .

Pada awalnya, nelayan Tionghoa di pesisir Guangzhou, Chaozhou, dan Shantou merayakan Renri hari ketujuh Tahun Baru Imlek yang dipercaya sebagai “hari lahir manusia” dengan hidangan ikan mentah sederhana yang dicampur sayuran dan saus minyak cuka manis .

Namun ketika para perantau ini menetap di Asia Tenggara, Yu Sheng berevolusi. Bahan semakin beragam, warna makin kaya, dan makna simbolik makin dalam.

“Lo Hei” Saat Makan Menjadi Doa Kolektif

Momen paling ikonik dari Yu Sheng adalah Lo Hei (撈起) ritual mengaduk dan melempar bahan setinggi mungkin sambil mengucapkan harapan baik. Semakin tinggi lemparannya, dipercaya semakin tinggi pula rezeki yang akan datang.

Fakta menarik yang jarang dibahas:
• Lo Hei bukan tradisi kuno dari Dinasti, melainkan ritual modern yang berkembang di komunitas Tionghoa Asia Tenggara
• Ritual ini menekankan kebersamaan dan suara karena harapan harus diucapkan keras-keras agar “didengar semesta” 

Setiap bahan pun punya makna:
• Wortel (hong): keberuntungan
• Lobak hijau: panjang umur
• Minyak yang dituangkan memutar: rezeki dari segala arah
• Saus plum manis: hidup yang manis
• Kacang & wijen: kemakmuran dan usaha yang berkembang

Tak heran Yu Sheng selalu disantap beramai-ramai, tak pernah sendiri.

Yu Sheng dan Identitas Peranakan

Ketika Cerita Itu Hidup di Dapur Babah Elite

Di Indonesia, Yu Sheng punya tempat khusus karena ia merepresentasikan identitas Peranakan perpaduan Tionghoa, Melayu, dan lokal. Ini sebabnya Yu Sheng populer di wilayah dengan sejarah Tionghoa pesisir seperti Bangka dan Sumatra bagian timur .

Di sinilah Yu Sheng bukan hanya makanan Imlek, tapi arsip budaya hidup menceritakan migrasi, adaptasi, dan cara orang Tionghoa bertahan dengan merayakan hidup.

Ketika Cerita Itu Hidup di Dapur Babah Elite

Semangat inilah yang terasa di Dapur Babah Elite, sebuah ruang makan yang tak sekadar menyajikan menu, tapi juga memelihara ingatan Peranakan.

Berlokasi di bangunan shophouse 1940-an di kawasan bersejarah Jakarta, Dapur Babah Elite berdiri di jalur lama Batavia—tempat budaya Tionghoa, kolonial, dan Nusantara pernah saling bersinggungan .

Menghadirkan Yu Sheng di tempat seperti ini terasa pas. Bukan karena kemewahannya, tapi karena narasinya. Yu Sheng, seperti Dapur Babah Elite, sama-sama lahir dari perjumpaan budaya—dan bertahan karena cerita.

Di meja makan seperti ini, Yu Sheng kembali ke fungsi aslinya:
bukan sekadar hidangan pembuka, tapi pembuka percakapan, pembuka doa, dan pembuka tahun yang baru.

Lebih dari Salad, Sebuah Harapan

Yu Sheng mengajarkan satu hal sederhana, bahwa harapan tidak selalu datang dari doa yang sunyi, tapi juga dari tawa, suara sumpit beradu, dan makanan yang dibagi bersama.

Mungkin itulah sebabnya, setiap Imlek, Yu Sheng selalu kembali ke meja. Karena selama manusia masih berharap, ritual ini akan selalu relevan.
Diubah oleh oktahardjo 28-01-2026 11:53
0
189
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan