- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Negara Ini Disuruh Sabar oleh Patung Macan yang Sadar Diri
TS
Muzmuz
Negara Ini Disuruh Sabar oleh Patung Macan yang Sadar Diri
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah patung macan putih di Kediri yang mendadak viral.
Bukan karena keganasannya, melainkan karena ekspresinya yang terlalu jujur untuk disebut patung.
Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai ikon desa, perlahan berubah menjadi cermin:
tentang sabar, tentang simbol, dan tentang kita yang sudah terlalu terbiasa menertawakan keadaan.
Perkenalkan, aku patung macan.
Atau zebra.
Atau kudanil.
Sejujurnya aku juga tidak yakin.
Tapi tenang,
ketidakyakinan ini tidak menghalangiku untuk berdiri gagah di tengah desa,
di atas pedestal,
menatap masa depan tanpa benar-benar melihat apa pun.
Kalian memanggilku macan.
Aku diam saja.
Karena di negeri ini,
selama semua sepakat menyebut sesuatu “macan”, maka ia resmi menjadi macan.
Aku tahu kalian tertawa melihatku.
Tidak apa-apa.
Aku juga tertawa—di dalam.
Aku dibuat bukan untuk menerkam.
Aku dibuat untuk menenangkan.
Tugasku sederhana:
setiap kali ada yang ribut,
setiap kali ada yang bertanya “kok begini?”,
aku hanya perlu berdiri dan membisikkan mantra nasional:
“Sabar.”
Kalian datang jauh-jauh hanya untuk selfie denganku.
Wajah kalian ceria.
Aku berdiri kaku.
Kita sama-sama tahu,
foto itu bukan tentang aku.
Itu tentang bukti bahwa kalian hadir,
meski tidak mengubah apa pun.
Aku dibangun dari dana pribadi, kata berita.
Sebuah prestasi langka.
Tapi bukankah banyak hal di negeri ini juga begitu?
Dibangun dari niat pribadi,
lalu dipajang ke publik,
dan tiba-tiba menjadi simbol bersama—
tanpa ada yang benar-benar paham fungsinya.
Kalian bilang aku macan ompong.
Aku tersinggung sedikit.
Lalu ingat:
lebih baik ompong tapi berdiri,
daripada bertaring tapi dipertanyakan.
Aku tidak gagal.
Aku berhasil menjadi ekspektasi yang diturunkan.
Aku adalah hasil kompromi panjang antara harapan dan kelelahan.
Aku tidak galak,
tapi cukup ada.
Tidak efektif,
tapi tidak bikin ribut.
Dan anehnya,
itu sudah cukup.
Kalian menertawakanku,
tapi tetap memotretnya.
Mengkritikku,
tapi tetap datang.
Mengeluh,
lalu berkata,
“Ya sudahlah.”
Di situlah kita akhirnya setara.
Aku berdiri pura-pura macan.
Kalian hidup pura-pura optimis.
Kita semua sepakat untuk tidak bertanya terlalu jauh,
karena bertanya terlalu jauh capek,
dan capek tidak viral.
Jadi silakan lanjutkan hidup kalian.
Kerja.
Scroll.
Komentar.
Sabar.
Aku akan tetap di sini.
Tidak berubah.
Tidak menyelesaikan apa pun.
Karena di negeri ini,
yang paling stabil bukan sistem,
melainkan patung yang tidak melakukan apa-apa.
Dan sebelum kalian pulang,
izinkan aku mengatakan satu hal terakhir,
bukan sebagai macan,
tapi sebagai simbol:

“Tenang saja.
Kalau aku bisa berdiri tanpa fungsi,
kalian juga pasti bisa.”
Pesan moral:
Peliharalah macan itu, jangan kau bongkar—karena selama ia masih berdiri apa adanya, kita masih bisa menertawakan simbol sebelum lupa menertawakan diri sendiri.
Bukan karena keganasannya, melainkan karena ekspresinya yang terlalu jujur untuk disebut patung.
Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai ikon desa, perlahan berubah menjadi cermin:
tentang sabar, tentang simbol, dan tentang kita yang sudah terlalu terbiasa menertawakan keadaan.
Perkenalkan, aku patung macan.
Atau zebra.
Atau kudanil.
Sejujurnya aku juga tidak yakin.
Tapi tenang,
ketidakyakinan ini tidak menghalangiku untuk berdiri gagah di tengah desa,
di atas pedestal,
menatap masa depan tanpa benar-benar melihat apa pun.
Kalian memanggilku macan.
Aku diam saja.
Karena di negeri ini,
selama semua sepakat menyebut sesuatu “macan”, maka ia resmi menjadi macan.
Aku tahu kalian tertawa melihatku.
Tidak apa-apa.
Aku juga tertawa—di dalam.
Aku dibuat bukan untuk menerkam.
Aku dibuat untuk menenangkan.
Tugasku sederhana:
setiap kali ada yang ribut,
setiap kali ada yang bertanya “kok begini?”,
aku hanya perlu berdiri dan membisikkan mantra nasional:
“Sabar.”
Kalian datang jauh-jauh hanya untuk selfie denganku.
Wajah kalian ceria.
Aku berdiri kaku.
Kita sama-sama tahu,
foto itu bukan tentang aku.
Itu tentang bukti bahwa kalian hadir,
meski tidak mengubah apa pun.
Aku dibangun dari dana pribadi, kata berita.
Sebuah prestasi langka.
Tapi bukankah banyak hal di negeri ini juga begitu?
Dibangun dari niat pribadi,
lalu dipajang ke publik,
dan tiba-tiba menjadi simbol bersama—
tanpa ada yang benar-benar paham fungsinya.
Kalian bilang aku macan ompong.
Aku tersinggung sedikit.
Lalu ingat:
lebih baik ompong tapi berdiri,
daripada bertaring tapi dipertanyakan.
Aku tidak gagal.
Aku berhasil menjadi ekspektasi yang diturunkan.
Aku adalah hasil kompromi panjang antara harapan dan kelelahan.
Aku tidak galak,
tapi cukup ada.
Tidak efektif,
tapi tidak bikin ribut.
Dan anehnya,
itu sudah cukup.
Kalian menertawakanku,
tapi tetap memotretnya.
Mengkritikku,
tapi tetap datang.
Mengeluh,
lalu berkata,
“Ya sudahlah.”
Di situlah kita akhirnya setara.
Aku berdiri pura-pura macan.
Kalian hidup pura-pura optimis.
Kita semua sepakat untuk tidak bertanya terlalu jauh,
karena bertanya terlalu jauh capek,
dan capek tidak viral.
Jadi silakan lanjutkan hidup kalian.
Kerja.
Scroll.
Komentar.
Sabar.
Aku akan tetap di sini.
Tidak berubah.
Tidak menyelesaikan apa pun.
Karena di negeri ini,
yang paling stabil bukan sistem,
melainkan patung yang tidak melakukan apa-apa.
Dan sebelum kalian pulang,
izinkan aku mengatakan satu hal terakhir,
bukan sebagai macan,
tapi sebagai simbol:

“Tenang saja.
Kalau aku bisa berdiri tanpa fungsi,
kalian juga pasti bisa.”
Pesan moral:
Peliharalah macan itu, jangan kau bongkar—karena selama ia masih berdiri apa adanya, kita masih bisa menertawakan simbol sebelum lupa menertawakan diri sendiri.
Diubah oleh Muzmuz 28-12-2025 21:20
djietoe55 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
1.5K
5
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan