Kaskus

Hobby

purnamaadji1982Avatar border
TS
purnamaadji1982
Abu al-Wafā’: Orang yang Tidak Mengkhianati Titipan Salam
Abu al-Wafā’: Orang yang Tidak Mengkhianati Titipan Salam

Diriwayatkan, pada suatu masa hiduplah seorang lelaki saleh yang berniat menunaikan ibadah haji sekaligus berziarah ke makam Rasulullah ﷺ. Niatnya tulus, langkahnya mantap, dan hatinya dipenuhi kerinduan kepada al-Musthafa ﷺ.

Suatu hari, sebelum keberangkatannya, datanglah seorang lelaki menemuinya. Dengan penuh harap ia berkata:

“Wahai saudaraku, aku ingin menitipkan salamku untuk Rasulullah ﷺ. Jika engkau sampai di hadapan beliau, sampaikanlah ucapanku:
‘Fulān bin fulān memohon syafaatmu dan ingin dikumpulkan bersamamu pada hari Kiamat.’”

Tanpa ragu, lelaki yang hendak berhaji itu menerima titipan tersebut. Ia berjanji dalam hatinya akan menyampaikannya dengan penuh amanah.

Perjalanan pun dimulai. Hingga akhirnya ia sampai di Kota Madinah. Dengan penuh adab dan kerinduan, ia berziarah ke makam Rasulullah ﷺ. Ia memberi salam, berdoa, dan menumpahkan kerinduan—namun, tanpa ia sadari, ia lupa menyampaikan salam titipan yang telah diamanahkan kepadanya.

Setelah ziarah, ia pun meninggalkan Madinah bersama rombongan besar penunggang unta. Mereka berjalan jauh, hingga menempuh perjalanan sekitar satu marhalah. Di tengah perjalanan itulah, tiba-tiba hatinya bergetar.

“Astaghfirullah… aku lupa menyampaikan titipan salam itu.”

Sekejap wajahnya berubah. Ia segera berkata kepada rombongannya:

“Aku telah melupakan satu hajat penting di Madinah. Aku harus kembali.”

Rombongannya terkejut dan berkata:

“Bagaimana mungkin engkau kembali? Kita ini rombongan besar. Jika engkau berpisah, engkau tak akan menemukan kami lagi.”

Ia menjawab dengan tegas namun tenang:

“Aku sudah memahami risikonya. Jagalah hartaku sampai aku kembali.”

Tanpa ragu lagi, ia memutar arah dan kembali sendirian menuju Madinah—demi satu amanah salam.

Sesampainya di Madinah, ia segera menuju makam Rasulullah ﷺ. Dengan suara bergetar dan hati penuh adab, ia menyampaikan salam titipan itu sebagaimana diperintahkan. Setelah itu, ia bertanya kepada penduduk Madinah tentang rombongan penunggang unta yang menuju Mekah.

Mereka menjawab:

“Mungkin akan ada rombongan lain yang berangkat dua hari lagi.”

Malam itu, ia tertidur di Madinah. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat Rasulullah ﷺ. Wajah beliau bercahaya, penuh kasih dan keteduhan. Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

“Wahai fulan, siapa namamu?”

Ia menjawab dengan penuh hormat:

“Namaku Abu al-Khair, wahai Rasulullah.”

Nabi ﷺ tersenyum dan bersabda:

“Bukan. Engkau adalah Abu al-Wafā’.
Engkau telah menyampaikan salam fulan bin fulan kepadaku dan kembali ke Madinah ketika engkau telah jauh di perjalanan. Sekarang, engkau ingin pergi ke Mekah bersama rombongan lain, bukan?”

“Iya, wahai Rasulullah,” jawabnya, penuh takzim.
“Rombonganku telah pergi, dan rombongan lain baru akan berangkat beberapa hari lagi.”

Maka Rasulullah ﷺ mendorongnya dengan lembut.

Tiba-tiba ia terbangun.

Namun anehnya, saat membuka mata—ia telah berada di Mekah, tepat di samping Ka’bah.

Ia terdiam, tubuhnya gemetar, air mata mengalir tanpa terasa. Ia menyadari bahwa apa yang ia alami bukan sekadar mimpi, melainkan karamah karena menunaikan amanah dan kesetiaan (wafā’).

Ia pun tinggal di Mekah, menanti rombongan unta. Dan sungguh menakjubkan, rombongan itu baru tiba delapan hari kemudian. Ketika melihat mereka, ia keluar menemui rombongan tersebut.

Hatinya penuh syukur, karena ia telah belajar satu pelajaran besar:

Kesetiaan terhadap amanah, sekecil apa pun, tidak pernah diabaikan oleh Rasulullah ﷺ dan tidak disia-siakan oleh Allah.

Tuhfah Al-Asyraf 3/110


Diubah oleh purnamaadji1982 27-12-2025 16:44
0
203
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan