Kaskus

Story

galih17Avatar border
TS
galih17
[CERPEN] Panji Tengkulak
     [CERPEN] Panji Tengkulak

“Sudah pas uangnya, Pak Kamim?” tanya Panji memastikan bahwa uang yang dibayar sudah sesuai dengan kesepakatan.

“Sudah, Nak Panji,” balas Pak Kamim. “Saya pamit dulu, Nak.” Jawaban dengan suara getir itu berakhir dengan langkah kaki pria.

Panji tersenyum, pelan tapi pasti petani di desanya mulai menjual gabah kepadanya. Hasil bumi yang memang sebagian besar penduduk desa bekerja sebagai petani. Di teras rumah yang sudah penuh dengan tumpukan gabah kering, dia duduk santai sembari menghisap rokok. Belum juga sebatang rokoknya terbakar habis, sebuah truk berwarna kuning datang dan langsung parkir di halaman rumahnya yang cukup luas.

“Langsung muat saja,” ucap Panji dengan nada setengah berteriak. Seketika tiga orang yang turun dari truk bergantian memanggul puluhan karung gabah dari teras memasukkan ke dalam truk.

Kuli angkut yang sudah terlatih itu butuh waktu dua puluh menit saja untuk menyelesaikan pekerjaannya. “Ini uangnya, Mas Panji,” sopir truk yang tadi mengawasi pekerjaan kuli panggul menyerahkan beberapa gepokuang tunai. “Sampean hitung dulu, Mas.”

Panji menyunggingkan senyumnya, “Tidak perlu, sudah hampir setahun kita bekerjasama dan selalu uangnya pas, Pak Wandi.

Senyum Panji semakin lebar melihat tumpukan uang hasil jual beli gabah yang semakin banyak. Disimpannya baik – baik di dalam sebuah peti kayu. Sudah Satu tahun dia menabung mengumpulkan modal untuk menikahi Nani, si kembang desa. Panji semakin bersemangat, namun sayangnya dia terlena dan lupa akan sesuatu.

Hampir dua tahun Panji hidup sendiri setelah ibunya wafat. Sementara ayahnya meninggal ketika Panji lulus sekolah dasar. Sebagai anak tunggal Panji cukup dimanja oleh ibunya yang kala itu menjadi orang tua tunggal. Kepergian ibunya membuat Panji terpukul dan kehilangan arah. Sebuah toko kelontong di dekat pasar peninggalan ibunya akhirnya dijualnya untuk biaya sehari – hari. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Mbah Wiji, yang akhirnya mengantarkan Panji menjadi tengkulak gabah yang cukup sukses dalam waktu relatif singkat.

Sementara itu di sebuah warung kopi di batas desa, Darminto dan Trisno berbincang sambal menikmati segelas kopi hangat. Darminto menghisap asap rokoknya cukup dalam, “Tris, kamu merasa tidak? Beberapa bulan terakhir setelah panen, warga jadi enggan menjual gabahnya ke kita.”

“Hmm, iya. Aku merasa seperti itu, Dar. Padahal kita tidak ada masalah dengan harga dengan para petani selama belasan tahun menjadi tengkulak. Aneh,” keluh Trisno.

“Desa kita sangat luas, sawahnya juga. Yang menjadi petani hampir tiga perempat warganya, tetapi kita harus mencari gabah ke petani desa lain,” ungkap Darminto.

“Apa kamu merasa ada yang janggal dan aneh, Tris? Kamu merasa curiga tidak?” selidik Trisno.

“Iya, aku merasa ada yang aneh. Tapi juga bingung anehnya di mana.”

“Kamu merasa tidak? Keanehan itu ada pada Panji.”

“Panji?

“Iya, Panji.”

Trisno mencoba menyelidiki Panji dalam pikirannya, “Panji si tengkulak muda itu, Anak yatim piatu yang hidupnya sempat terpuruk.”

“Beberapa bulan terakhir, hampir semua petani menjual gabah ke padanya. Aku juga mendengar kabar, dia membeli gabah dengan harga jauh lebih murah dari tengkulak lain. Itu hal yang tak wajar, kan, Tris?”

“Iya, kini dalam waktu yang cukup singkat kehidupan ekonominya meningkat cukup pesat. Mendapat keuntungan yang lebih besar dari selisih harga beli dan harga jual gabah.”

Darminto membuang punting rokoknya, “Cara dia berdagang sepertinya tidak lazim.”

Bulan sabit sudah menggantung di angkasa, menjadikan malam Minggu itu semakin indah. Lapangan desa riuh sesak oleh warga yang menikmati pasar malam. Setelah membeli dua bungkus kacang rebus, Panji dan Nani duduk berdua tak jauh dari wahana komedi putar.

“Ramai sekali, ya, Nan? Warga sangat menikmati suasana hiburan pasar malam ini”

“Iya, Mas. Apa lagi sekarang juga sudah libur sekolah. Anak – anak tentu ingin menikmati masa liburan itu,” sambung Nani.

“Kamu tidak ingin naik wahana permainan yang lainnya lagi, Nan?”

“Hmm, tidak, Mas. Tadi kita sudah jalan – jalan bekeliling pasar malam ini. Sekarang enaknya duduk saja melihat keramaian yang ada, Mas.”

“Baiklah, Nan. Kalau begitu…,” ucapan Panji berhenti.

Nani menunggu beberapa saat, “Kalau begitu apa, Mas?”

Rasa gugup menyerang Panji seketika, “Nan, aku suka dan cinta padamu. Aku ingin mengajakmu menikah. Apakah kamu mau, Nani?”

Terkejut Nani mendengar itu, badannya menjadi kaku dan canggung. Kepalanya langsung menunduk, mulutnya yang tadi mengunyah kacang rebus sesaat berhenti menjadi senyum tipis. Rasa bahagia menjadi berlipat puluhan kali, Nani menjadi orang yang paling bahagia di lapangan pasar malam itu.

Tiga pekan berlalu, Panji di rumahnya terbaring sakit. Badannya panas dingin, langsung muntah setelah makan. Sudah empat hari dalam sakitnya, dia selalu terbangun di tengah malam digangggu oleh penampakan lelembut berwujud wanita berbadan tikus. Makhluk itu tembus pandang, namun bisa melukai Panji. Dengan kukunya yang panjang lelembut itu membuat sebagian badan Panji terluka.

Sekuat tenaga Panji mengendarai motor, mengabaikan rasa meriang dan perih luka cakar di badannya. Baju biru muda tampak muncul garis – garis noda darah di bagian punggung. Dan sampailah di sebuah rumah berdinding bambu yang dia tuju. “Mbah, Mbah Wiji, buka pintunya, Mbah.” Ujung kukunya mengetuk pintu bertubi – tubi.

Suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah, pintu akhirnya terbuka. “Loh, Panji. Kamu…,” menahan tubuh Panji yang nyaris ambruk. “Mari, duduklah di sini.”

“Mbah, tolong saya, Mbah,” pinta Panji dengan suara terengah – engah.

“Coba, kamu ceritakan apa yang telah terjadi, Nak.”

“Saya diganggu makhluk halus, Mbah. Saya tidak bisa tidur. Makhluk itu bisa menyerang saya hingga terluka seperti ini,” ungkap Panji sembari menunjukkan luka di punggungnya.

Mbah Wiji mengamati luka yang diderita Panji, “Seperti apa wujud makhluk itu?”

“Dia berwujud wanita tetapi badannya berupa tikus. Dia mampu mencakar saya, Mbah.”

Pria tua dengan rambut yang sudah berwarna putih itu menghela napas panjang, “Kamu sudah melanggar perjanjian.”

“Perjanjian?” ucap Panji bingung.

“Iya.”

“Perjanjian apa yang saya langgar?”

“Ilmu pengasihan yang kuberikan padamu. Kamu melanggarnya. Pasti kamu telah menjalin hubungan dengan seorang wanita!”

“Tapi, Mbah. Bukankah perjanjian itu saya tidak boleh menikah dulu dalam dua tahun ke depan? Sementara sampai sekarang saya belum menikah.”

“Tidak mungkin. Pasti ada hal lain yang kamu lakukan. Kalau pun kamu belum menikah, tapi jika kamu menggauli seorang wanita itu juga sama saja!”

Berdesir aliran darah Panji, kepalanya seperti dikerubuti ribuan semut. Isi kepalanya mengingat kembali kejadian beberapa pekan yang lalu. Sepulangnya dari pasar malam dia mengajak Nani ke rumahnya. Ruang tamu menjadi saksi sepasang muda mudi itu menikmati gairah cinta, hingga tubuh bergetar di puncak kenikmatan.

Kepala Panji tertunduk lesu, “Iya, Mbah.”

“Bodoh! Sekarang kamu sendiri merasakan akibatnya,” gertak Mbah Wiji. “Makhluk yang membantu agar pekerjaanmu lancar merasa dikianati oleh perlakuanmu itu. Dia jin betina.”

“Lalu, apa yang harus saya lakukan, Mbah?”

“Yang telah kamu lakukan itu sangat keterlaluan. Aku pikir kamu sudah mengerti tentang perjanjian itu.”

Tapi, Mbah. Itu kan di luar pernikahan. Kami kan belum menjadi suami istri, kami belum menikah.”

“Itu sama saja, bodoh! Bukankah kalian melakukan hal layaknya suami istri? Kini pulanglah aku tak bisa membantumu lagi.”

Panji beridiri bagai patung di ruang tamu rumahnya. Sebuah kursi panjang dari bambu ditatapnya. Kursi tempat dia Bersama Nani bercumbu di bawah kendali nafsu. Tapi, tiba – tiba di kursi itu Nani muncul. Duduk dengan anggun, bibirnya tersenyum menahan malu bagai senyum pengantin baru.

“Nani, kamu ada di sini?” ucap Panji lirih.

Namun, Nani tidak menjawab. Hanya menggeser badannya tanda meminta Panji untuk duduk di sebelahnya.

“Nani, kamu…,” tangan Panji meraih pergelangan tangan Nani. Meraba, menikmati halusnya kulit kembang desa itu. Tetapi, “Aaaahh…,” Panji berteriak.


[CERPEN] Panji Tengkulak


Kedua pergelangan tangan yang dipegang Panji yang semula mulus dan halus, kini berubah menjadi berbulu abu – abu gelap. Jari – jari yang lentik menjadi panjang keriput dan berkuku panjang. Sosok wanita berbadan tikus muncul kembali. Panji berusaha melarikan diri, tetapi tersungkur ke lantai karena kakinya tersandung meja. Makhluk itu langsung menyergap dan menindihnya. Pundak Panji dicengkeram kuat hingga berdarah, semakin lama semakin menjepit leher Panji.

“Aaaarrgghhh…. Nani….” Suara terakhir Panji.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




bukhoriganAvatar border
bukhorigan memberi reputasi
1
118
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan