Kaskus

Story

dwindrawatiAvatar border
TS
dwindrawati
DIJADIKAN JAMINAN UTANG OLEH SUAMI
Mesin mobil diesel itu menderu, mendaki jalan berbatu menuju rumah Faiz di atas bukit. Faiz menyetir dengan satu tangan, pandangan lurus ke depan. Di sampingnya, Kinan duduk membeku. Aroma parfumnya yang ringan, bunga dan kayu, bertempur dengan bau debu dan besi panas dari luar.

 
Faiz memarkir mobil di halaman depan. Rumah beton dua lantai itu berdiri megah dan angkuh, memandangi desa di bawahnya. Faiz mematikan mesin. Suara deru itu lenyap, digantikan oleh desir angin dari pepohonan pinus.
 
“Keluar,” ucapnya, suaranya datar. Dia membuka pintunya sendiri, tidak peduli pada penumpangnya.
 
Kinan tidak bergerak. Matanya, yang selama perjalanan terpaku pada jendela, kini menatap lurus ke dashboard. Nafasnya pendek dan terukur. Faiz berjalan memutar, membuka pintu penumpang. Bayangannya menutupi tubuh Kinan. “Saya tidak akan mengulang,” tegas Faiz.
 
“Apa maksud semua ini, Faiz?” Suara Kinan getar, namun berusaha keras menahan diri.
 
“Radit mengatakan ada pertemuan penting. Bahwa saya harus mendengar penawaranmu langsung,” Kinan menjelaskan.
 
“Dan kamu sudah mendengarnya di kantor saya tadi. Sekarang, keluar dari mobil,” perintah Faiz.
 
Dia menjulurkan tangannya. Kinan menatap tangan itu, lalu menatap wajahnya. Di matanya yang coklat tua itu, Faiz melihat gelembung kepanikan yang mulai meletus, berubah menjadi gelombang kemarahan.
 
“Saya tidak akan masuk ke rumahmu,” tolak Kinan.
 
“Kamu akan,” jawab Faiz. Dia membiarkan tangannya tetap di sana. “Kamu adalah jaminan hidup. Satu-satunya aset berharga suamumu yang belum disita. Sebuah kolateral yang nyata.”
 
Kinan terkesiap. Kata-kata itu seperti tamparan di udara panas. “Aku… jaminan?” tanyanya.
 
“Utang Radit sudah jatuh tempo. Dia gagal memenuhi kewajiban. Dalam perjanjian yang dia tanda tangani, dengan segel desa dan materai yang sah, ada klausul penyitaan aset. Rumah dinasnya sudah hampir tak ada isinya. Proyek-proyek fantasinya hanya meninggalkan lubang di tanah dan catatan hutang. Kamu…” Faiz akhirnya menurunkan tangannya, “…adalah barang yang masih utuh nilainya.”
 
“Aku barang!” teriak Kinan. Kemarahannya meluap, memecah ketakutan awal. Dia melompat keluar dari mobil, berdiri berhadapan dengan Faiz, tubuhnya gemetar. “Kau gila! Ini penculikan!” Kinan menuduh.
 
Faiz mengamatinya. Amarah itu membuat warna naik ke pipi Kinan yang biasanya pucat, membuat matanya berkilau seperti kaca yang hendak pecah. Dia terlihat lebih hidup daripada yang pernah Faiz lihat selama ini di balik peran sebagai istri kepala desa yang selalu tersenyum sopan.
 
“Ini eksekusi hutang,” koreksi Faiz dengan tenang. “Kamu datang ke kantor saya atas kemauan sendiri, didampingi suamumu. Semua orang melihat itu. Sekarang, masuk.”
 
Dia melangkah mendekat. Kinan mundur, punggungnya membentur bodi mobil. Faiz menggunakan postur tubuhnya yang lebih besar untuk memaksanya bergerak menuju pintu utama rumah yang terbuka lebar, menjaga jarak fisik.
 
Sebuah lobi yang dingin dan berlapis marmer menerima mereka. Kinan berhenti di ambang pintu, seolah garis beton itu adalah jurang. Faiz berbalik, menatapnya.
 
“Selamat datang di rumahmu yang baru, Kinan. Untuk sementara waktu. Sampai Radit melunasi sampai ke ujung sen terakhir. Atau,” ucapnya, sambil mengunci pintu besar dengan suara ‘klik’ yang keras dan final, “sampai saya memutuskan untuk tidak mengembalikanmu lagi.”

Novelnya bisa dibaca di aplikasi KBM App, cari saja aplikasinya di PlayStore

DIJADIKAN JAMINAN UTANG OLEH SUAMI


bukhoriganAvatar border
teguhjepang9932Avatar border
teguhjepang9932 dan bukhorigan memberi reputasi
2
131
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan